Posted in Komunikasi, Resensi

Review Buku “Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas, dan Globalisasi dalam Iklan Sabun”

 

Berbicara tentang perempuan tidak terlepas dari penampilan fisiknya. Segala bentuk interpretasi dari tubuh perempuan merupakan perbincangan yang tak pernah bertepi. Pelbagai tema kerap muncul di setiap perdebatan. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

 

Kecenderungan seseorang untuk menemukan kekurangan pada dirinya adalah sesuatu hal yang sangat memungkinkan. Artinya, seseorang akan (melulu) melihat dirinya serba kekurangan. Fenomena inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh kalangan pembuat iklan untuk memasuki wilayah bawah sadar seseorang. Pelbagai produk perawatan tubuh ditawarkan untuk mengeliminir kekurangan-kekurangan itu. Sehingga memang benar jika berbicara tentang tubuh perempuan, tidak terlepas dari perdebatan ragam rekayasa citra.

Dalam buku yang berjudul Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas, dan Globalisasi dalam Iklan Sabun ini, penulis, Aquarini Priyatna Prabasmoro, ingin menjelaskan bahwa sebetulnya citra akan permainan tubuh merupakan sebuah permainan yang rapi dan terancang amat baik. Dalam konteks ini, pembuat iklan-lah yang menjadi dalang utama. Pelbagai janji ditawarkan lewat iklan yang ia rancang. Mulai dari permainan kata, hingga visual/gambar. Salah satu iklan yang menjanjikan keidealan tubuh tersebut adalah iklan sabun.

Iklan sabun yang menawarkan perubahan warna kulit, tekstur, dan sebagainya itu membuat wanita (calon konsumen yang menonton iklan) menjadi tertarik untuk menggunakan produk sabun tersebut. Kulit yang halus, putih, bersih, dan wangi adalah impian setiap wanita (Indonesia). Sehingga wanita Indonesia di-setting sedemikian rupa untuk ikut menggunakan produk sabun supaya impian-impiannya tercapai. Continue reading “Review Buku “Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas, dan Globalisasi dalam Iklan Sabun””

Posted in Press

Mewacanakan (Kembali) Hajat Kita

Ada banyak kisah yang bisa dideretkan. Beragam ihwal serta aneka warta direntangkan. Tahulah, yakinlah Anda, karena masa depan di tangan kita.

Sebulan, Dua Bulan, Tiga Bulan dan Kini. Agustus jua tinggal beberapa purnama lagi. Mengapa harus Lustrum? Itulah sekira pertanyaan mendasar yang bersarang di sel-sel otak. Ketika optimisme berbenturan dengan apatisme yang menggeliat dalam satu atap, ketika idealisme disandingkan dengan kondisi ril kesiapan awak, yakinlah, sebuah hajat besar berada di sebuah jurang.

Kemana Ruh Itu…

Rasanya masih lekat dalam ingatan, gaung Lustrum yang berbulan-bulan dikonsep oleh Kelompok Kerja menuai banyak semangat dan tekad yang menggunung. Niat, harapan, dan optimisme kerap menggurita dan mewacana di tiap sudut sanggar tercinta. Segenap tawa dan sudut simpul seolah berkoalisi membincangkannya. Namun kini, meminjam judul tembang Sheila on 7, lihat, dengar, rasakan, apa yang tengah terjadi?

Kondisi awak Lustrum raib entah kemana. Amanah yang diemban tidak menemukan tepinya. Continue reading “Mewacanakan (Kembali) Hajat Kita”

Posted in Cerpen

Johan di Kawasan 13 Ilir

Pagi itu, cuaca sangat cerah. Awan-awan bergelantungan di langit. Sementara mentari pagi sudah bertengger di cakrawala sana. Tak biasanya, Johan bangun pagi. Ia ingin memulai hari ini dengan semangat baru, senyuman baru, dan harapan baru. Sebagai  supir. Supir angkutan kota di Palembang. Jurusan Lemabang-Sayangan.

Sebelum mandi, ia sempat bercerita dengan isterinya kalau semalam dia bermimpi. Mimpinya cukup aneh, menurutnya. Jarang-jarang dia bermimpi seperti itu. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Ia bermimpi membeli sehelai kain putih. Entah untuk siapa dia membelinya. Pokoknya dia membeli kain putih itu di pasar, lalu menyerahkannya pada isterinya. Tanpa mengetahui akan digunakan untuk apa kain itu. Untuk membuat pakaian? Sekadar lap lantai? Ia sungguh tidak mengerti.

Ah, Bang. Itu cuma bunga tidur. Jangan terlalu dihiraukan. Anggap saja mimpi indah,” isterinya menjelaskan.

Ia lalu segera beranjak ke kamar mandi. Kamar mandinya sangat kecil. Sekira 2 x 1,5 meter. Padahal tinggi tubuhnya sekira 180 cm. Sangat mengganggu dan tidak nyaman untuk dia. Alasnya terbuat dari semen yang sudah rapuh, sedangkan pintunya terbuat dari seng tipis yang sudah bolong dan berwarna kecoklatan. Kadang-kadang malah sengnya terbuka karena engselnya sudah lepas dan berkarat. Sehingga untuk mandi, ia harus menutupi tubuh bagian bawahnya dengan kain basah.   Continue reading “Johan di Kawasan 13 Ilir”

Posted in Umum

Kepada Yth. Sultan HB X

 

 

Kepada Yth. Sultan HB X Yogyakarta, 14 April 2005

di DIY

 

Mohon terhormat Sultan,

Perkenalkan saya yang teramat lancang tak berbahasa Jawa. Sekedar mahasiswa anyar dari komunikasi Gadjah Mada. Saya yang baru mengambil 43 SKS di jurusan ini cuma hendak berkoar sedikit. Minimal sebagai bagian kaum marjinal intelek katanya. Maklum, dengan sedikit persinggungan di kota ini, saya kagum sekaligus terkaget-kaget. Ketika saya berada di seberang pulau sana, Jogja adalah kota kedamaian, semacam teritori utopis yang di damba imaji. Atau apapun itu, jogja semacam tempat persinggahanku, sebagai musafir tentunya, sejenis oase di perempatan dahaga.

Salam sultan, saya cuma bisa sedikit berkesah lewat tinta ini. Mau bercurah akan nasib tahta Anda. Sebutlah suatu ketika ada acara di salah satu wilayah Sultan. Kaliurang namanya, atau tepatnya Bebeng. Kebetulan kami sebagai mahasiswa anyar mengadakan acara di sana. Katakanlah makrab (malam keakraban antar angkatan). Biasa, sebagai ajang komunkasi. Gelak tawa terenda dalam balutan dinginnya cuaca.

Sementara Sang Merapi kukuh menjadi latar abadi-sebuah teka-teki yang tak terjangkau sel-sel otak. Kami tetap bermemori menangkap cermat pekat di gelap hari. Dan sinaran temaram bulan menusuk-nusuk rerimbun hutan. Pekat. Gelap. Ada apa di sana?

Lalu tempurung kakiku berkontraksi kala terdengar suara hati. Sebuah homunculus teriak lantang di genderang paling dalam. Teriaknya: “Hei tahukah kau di balik semak itu?” Sekejap lalu sebuah pemandangan daging mentah tertancap di relung-relung diri. Saaaattttttttt!!! Sepasang binatang berakal terendam dalam cairan khas kelamin. Merusak imajiku tentang jogja dalam rentang getaran jantung. Oalah…

Salam Sultan, bukan saya yang membuka mata. Tapi hati anyar ini menjerit kaku. Untuk kemudian dahan-dahan rerimbun terbakar oleh api dan angin manusia. Cukuplah alam ini menikmati. Sakit hati yang tak terperi hingga. Semoga! [ ]

 

Posted in Press

Garda Depan LPJ

Halaman MukaLaporan BaktiPeradatan RGMPeradatan RTBTD– Semacam Muqaddimah –
Jumat 25 Mei 2007

Menertawakan hidup, tak ada lagi momen yang lebih menyenangkan. Salah satu kapabilitas agung milik manusia dari Sang Penciptanya Yang Maha Humoris. -dee-

Saya kadang berpikir melewati masa bakti ini hanya untuk menggugurkan kewajiban (saja). Bahkan, mimipi-mimpi yang sangat dinginkan di tiap malam adalah melepas
tanda jabatan ungu itu dengan segera.

Tapi kemudian saya berpikir ulang. Alangkah sia-sianya jika sebuah pekerjaan dilakukan sekedar. Alangkah jamaknya alpa tertuai jika hanya memenuhi
standardisasi tuntutan tanpa kesan.

Enam bulan adalah jeda kita dalam menjejali ladang amal dengan kerja dan interaksi.
Dan sekarang kita sudah bekerja, meladang, dan berkeringat.
Kepada sahabat-sahabat terbaik saya di Racana Gadjah Mada dan
Racana Tribhuwanatunggadewi terimakasih atas tangis, canda,
dan tawanya yang terbagi.

Teruntuk teman yang sedang menjelang perjalanan panjang
Sang laba-laba maha pintar. Masih merajut benang-benang sarang.
Maka kita belum kehilangan karena kata hati akan selalu berkomunikasi.
Menerjang rentang dimensi. Hingga tiba masa tuk bersua kembali.
Adios Mi Amigos. (lea)

p d r r g m r t b t d 06 07
– ikieamatiyokhennymisgiikauknowsqq –