Posted in Umum

Antara Organisasi dan Akademik

Dalam setiap komunitas selalu ada tatanan yang berusaha untuk mengatur agar anggotanya berperilaku sesuai dengan harapan dan kesepakatan bersama, namun dalam setiap komunitas juga akan selalu dijumpai adanya anggota yang berperilaku tidak sesuai dengan harapan komunitas tersebut. Dalam berbagai kasus perilaku tersebut disebut perilaku menyimpang, yakni di mana suatu perilaku dianggap tercela dan berjalan di luar batas toleransi nilai komunitas (masyarakat) setempat.

Pada mulanya nilai/tatanan yang diciptakan tersebut untuk mengatur agar anggotanya dalam berperilaku atau berusaha untuk tujuan tertentu. Namun dalam perkembangannya ada anggota yang dalam berperilaku tidak mengikuti cara yang ditentukan komunitas dan menyebabkan sebagian anggota komunitas ini tidak mengakui tatanan sosial yang ada dan berupaya menciptakan tatanan sosial tersendiri yang dirasa lebih sesuai dengan nilai-nilai yang dianut atau tujuan yang ingin dicapai. Hal inilah yang sebenarnya mengawali dan terus terjadi dalam suatu perubahan social. Tatanan sosial lama berangsur terganti atau berganti dengan nilai tatanan yang baru.

Hal ini menjadi menarik takkala dilihat pada apa yang terjadi diantara kaum mahasiswa yang aktivitasnya berpusat di gelanggang mahasiswa. Komunitas mahasiswa yang kerap ‘nongkrong’ di gelanggang tentunya berpengaruh besar bagi pribadi mahasiswa itu sendiri. Kaitannya dengan perubahan social, mahasiswa yang berasal dari bermacam-macam latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya dihadapkan pada budaya gelanggang yang mungkin berbeda dengan budayanya. Dalam hal ini, budaya yang dimaksud adalah orientasi atau prioritas belajar selama menjadi mahasiswa.

Apakah mahasiswa terlena begitu saja dengan segudang aktivitas gelanggang yang mengasyikkan. Atau malah ada yang tetap disiplin dengan jam belajarnya? Hal inilah yang ingin diangkat penulis mengenai fenomena perubahan orientasi cara belajar dan prioritas kuliah.

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang telah penyusun kemukakan sebelumnya, tentang pengaruh lingkungan gelanggang mahasiswa terhadap perubahan sosial mahasiswa itu sendiri, maka dirumuskan masalah sebagai berikut :

    1. Konflik yang timbul antara budaya gelanggang dengan orientasi akademik mahasiswa.

    2. Perubahan cara pandang mahasiswa terhadap iklim kampus yang membosankan (konflik budaya).

    3. Perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat konflik budaya.

  1. Tujuan Penelitian

    1. Mengetahui konflik yang timbul antara budaya gelanggang dengan orientasi akademik mahasiswa.

    2. Mengetahui perubahan cara pandang mahasiswa terhadap iklim kampus yang membosankan.

    3. Mengetahui perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat adanya konflik antar budaya tersebut.

  1. Batasan Konsep

Untuk membatasi ruang lingkup masalah yang akan diteliti, maka dilakukan definisi atas konsep yang digunakan dalam penelitian. Judul penelitian yang penulis angkat adalah Pengaruh kegiatan dan suasana Gelanggang Mahasiswa (UKM-UKM) Terhadap Perubahan Orientasi akademis Mahasiswa UGM. Dengan judul tersebut kami membatasi konsep:

  1. Suasana gelanggang yang dimaksud adalah suasana keakraban yang kental dan sarat keakraban.

  2. Kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi tersebut adalah kegiatan yang diselenggarakan UKM di gelanggang mahasiswa UGM.

  3. Mahasiswa yang merupakan responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang terlibat dalam UKM.

  4. Mengingat UKM-UKM di UGM dtidak hanya berada di gelanggang, maka penelitian ini hanya membatasi jangkauannya pada UKM yang berada di gelanggang saja.

  1. Relevansi Teoritik

Perubahan sosial adalah transformasi dalam organisasi masyarakat, dalam pola pikir dan perilaku pada waktu tertentu ( Macionis, 1987:638 ) dan peubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antar individu, kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat

Untuk melihat langsung dan mengeksplor Perubahan Sosial mahasiswa yang terjadi di sekitar gelanggang, penulis mencoba menggunakan paradigma Teori Sistem dan Teori Konflik. Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial dimana terdapatnya perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan. “ Perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan “ (Hawley, 1978 : 787). Definsi Perubahan Sosial sendiri memiliki banyak makna bagi tiap pakar tergantung penekanannya pada faktor perubahan. Seperti pendapat Macionis, 1987: 638 yang berbunyi “Perubahan Sosial adalah transformasi dalam organisasi masyarakat, dalam pola pikir dan dalam perilaku pada waktu tertentu”. Sedangkan Ritzer, et.al, 1987 : 560, “Perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antar individu, kelompok, organisasi, kultur dan maasyarakat pada waktu tertentu”.

Sedangkan sudut pandang Teori Konflik sebagai fokus berdasarkan landasan yang realistik, yakni bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial (Ritzer hal. 160). Hal ini disebabkan karena dalam proses perubahan sosial masyarakat akan terjadi suatu bentuk pertentangan antara status quo dan status pembaharuan. Konflik dapat berfungsi sebagai indikator awal terhadap perubahan sosial ketika dalam lingkungan masyarakat mengalami adanya gejolak terhadap tatanan nilai, tradisi, norma dan perilaku.

Teori konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan. Dalam teori konflik ini ada suatu bentuk pemaksaan terhadap anggota oleh orang-orang yang berada diatasnya (berkuasa) yang bertujuan menciptakan keteraturan. Adanya bentuk pemaksaan ini lebih diakibatkan karena peranan kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.

Dari kedua sudut pandang ini kami membuat batasan dalam analisis yang digunakan untuk menelaah perubahan sosial masyarakat (mahasiswa) di sekitar kampus UGM, semoga dengan adanya kedua teori ini proses analisis kami terhadap pencarian data dan analisis data dapat memusat dan mencapai hasil yang diinginkan.

  1. Metodologi

  1. Subjek penelitian

Subjek penelitian social ini adalah mahasiswa UGM yang terlibat di beberapa UKM di gelanggang mahasiswa.

  1. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data ini adalah

    1. Observasi Partisipasi

Mengamati perilaku mahasiswa di gelanggang mahasiswa UGM secara langsung.

    1. Wawancara

Menanyakan langsung beberapa pertanyaan yang telah disusun sebagai rumusan masalah kepada mahaiswa dan pihak yang berkompeten.

  1. Metode pengolahan dan analisis data

Pengolahan data dilakukan dengan pengolahan dan analisis nonstatistik atau pengolahan dan analisis data kualitatif, yaitu dengan membaca data yang telah diolah.

BAB II

ANALISIS DATA

Paradigma Penelitian

Penelitian ini disebabkan adanya beberapa faktor yang menyebabkan perubahan orientasi mahasiswa dalam menyikapi kuliah sebagai tugas utamanya ketika berada di gelanggang dengan berbagai aktivitas yang menjanjikan.

Mahasiswa (baru pada khususnya) yang berada di gelanggang UGM ketika menginjakkan kaki di kampus, yang terpikirkan adalah bagaimana caranya bisa mendapatkan IPK 4. Nilai di atas kertas ini merupakan prioritas utama bagi mereka yang memang belum mengetahui kehidupan mahasiswa secara lebih luas.

Maka, ketika telah cukup lama bergaul dan berbagi pengalaman di berbagai kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di gelanggang UGM, mereka akan menghadapi pilihan-pilihan. Apa yang lebih diprioritaskan, UKM, atau kuliah. Bagi mahasiswa yang orientasinya lebih ke akademik, maka tak ayal ia akan lebih mementingkan kuliah. Sedangkan bagi mereka yang orientasinya cenderung kepada praktisi, maka ia akan lebih aktif di berbagai UKM atau kegiatan mahasiswa lainnya.

Dari sisi ini, penulis ingin mengetahui konflik batin atau (konflik peran) yang sering menggeliat pada beberapa civita kademika. Bagi mereka yang baru melihat kegiatan-kegiatan baru (mungkin budaya pergaulan) di gelanggang, pasti akan mengalami culture shock.

Karakteristik Wilayah

Gelanggang mahasiswa UGM dengan restu bapak presiden RI diresmikan pada tanggal 31 Juli 1975 oleh Mentri Dalam Negeri H. Amir Machmud (Letjend TNI). Bngunan ini berada di sebelah barat Boulevard dan belakang Bank BNI cabang UGM dan Koperasi Mahasiswa. Dari segi fisik, bangunan ini terdiri dari bagian utara, tengah, dan selatan yang kesemuanya berwarna krim karamel. Bangunan yang terdiri dari tiga sayap ini merupakan “markas” bagi mahasiswa yang aktif di berbagai UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).

Kehidupan Gelanggang

Seperti dijelaskan di atas, gelanggang merupakan pusat kegiatan mahasiswa dalam wadah UKM (Unit Kegitan Mahasiswa). UKM-UKM inilah yang rupanya menjadi daya tarik bagi mahasiswa untuk beramai-ramai mengunjungi gelanggang. Karena hampir setiap hari, gelanggang tidak pernah sepi. Bahkan, ada juga sebagian mahasiswa yang sering menginap di gelanggang ini. Menurut Bapak Maryanto, salah satu pengawas gelangggang, banyak mahasiswa yang menginap di gelanggang dikarenakan kegiatannya dilakukan sampai malam hari dan tidak memungkinkan untuk pulang. Selain itu, tambahnya, ada juga beberapa mahasiswa yang menjadikan gelanggang sebagai kosnya (2%).

Kegiatan UKM yang banyak (ada 53 UKM) menuntut para anggotanya untuk aktif dalam berbagai even yang diselenggarakan. Ini tentunya berkonsekuensi terhadap waktu mahasiswa itu sendiri. Ia harus pandai-pandai memilih, memilah, dan berbagi waktu antara belajar di bangku kuliah dan beraktivitas di gelanggang.

Selain berbagai kegiatan yang menyita waktu, suasana keakraban dan kekeluargaan juga hadir di sana, inilah yang menyebabkan para mahasiswa penghuni gelanggang sangat betah untuk berlama-lama. Sekedar duduk-duduk atau hanya bercengkrama. Kekhasan inilah yang menurut mereka memberikan kesan tersendiri. Suasana yang sangat kental dengan kekeluargaan, keakraban, keramahan, dan saling membutuhkan ini pun kerap menjadi bumerang bagi civitas akademika untuk kemudian terlena dan melupakan tugas utamanya di bangku kuliah. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang menyelesaikan masa studinya lebih dari yang semestinya akibat terlalu aktifnya ikut dalam berbagai kegiatan yang menyita waktu belajar.

Sebagai langkah awal, penulis melakukan polling kepada empat puluh mahasiswa yang berada di gelanggang dengan perincian 21 laki-laki (52,5%) dan 19 perempuan (47,5%). Dan responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini semuanya adalah mahsiswa Universitas Gadjah Mada, yaitu 19 orang dari fakultas eksakta (47,5%), dan 21 orang dari fakultas noneksakta (52,5%). Selain itu, penulis juga melakukan observasi partisipatif untuk menguatkan ide dan gagasan dalam makalah ini. Perlu digaris bawahi, bahwa dalam penelitian ini, penulis hanya melihat fenomena sosial yang ada di gelanggang. Sedangkan mahasiswa yang juga terlibat di berbagai UKM yang “markas”nya di luar gelanggang, tidak termasuk dalam subjek penelitian penulis.

Secara psikologis, mahasiswa yang baru mengenyam dunia perguruan tinggi mulanya hanya akan berorientasi akademik. Ia akan senang berlama-lama di perpustakaan daripada nongkrong di jalan. Pulang dari kampus, ia akan rajin langsung ke kos untuk kemudian mengulang materi di kamar berukuran 3×3 meter. Begitulah yang dialami penulis, mulanya ia akan tertantang dengan sistem akademic oriented. Namun, setelah meluasnya pergaulan dan teman, berbagai wacana datang silih berganti, penulis pun banting stir untuk kemudian merubah orientasi lebih kepada praktisi, penulis lebih sering berlama-lama di gelanggang yang merupakan pusat UKM. Perubahan inilah yang kadang sering salah jalur, dalam artian malah akan berdampak negatif kalau tidak ada control dari mahasiswa yang bersangkutan. Tak dapat dipungkiri, sebagai civitas akademika yang dituntut berorientasi ke depan dan aktif di berbagai kegiatan, mengharuskan mahasiswa untuk bersikap kritis dan tanggap dalam menyikapi suatu masalah. Pun terhadap jadwal atau kegiatan yang bermanfaat apa saja yang dapat menunjang aktivitasnya tersebut, kuliah. Dalam hal kegiatan mahasiswa, Universitas Gadjah Mada telah menyediakan suatu sarana bagi mahasiswanya untuk terjun dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Semua kegiatan yang bernama UKM ini sebagian besar berlangsung di sebuah bangunan khusus yang bernama Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Gelanggang dengan segala fasilitasnya yang berupa musholla, lapangan, toilet dan kamar mandi telah menjadi ciri khas tersendiri di benak sebagian besar mahasiswa yang sering bermain di sana. Sebut saja Dewi, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2004 ini sering ke gelanggang di samping latihan rutin di Swagayugama, juga karena suka dengan suasananya yang adem ayem. Berdasarkan kuisioner yang dibagikan, ternyata kenyamanan yang menjadi faktor seringnya mahasiswa mengunjungi gelanggang (50%) sedangkan setengahnya lebih memilih KOS/rumah yang lebih nyaman. Hasil data yang seimbang ini mengindikasikan bahwa adanya semacam polarisasi yang terbentuk dari sekelompok mahasiswa yang merasakan adanya semacam bentuk kenyamanan untuk tinggal di gelangang. Perasaan nyaman dan kekeluargaan sangat mempengaruhi kepribadian mahasiswa tersebut.

Konflik Peran

Mahasiswa yang sudah terlibat secara aktif diberbagai kegiatan UKM, akan senantiasa mengalami berbagai macam pilihan. Di satu sisi, statusnya sebagai mahasiswa yang dituntut untuk belajar pada saat yang bersamaan dihadapkan pada kondisi yang sebaliknya: ia harus meninggalkan kuliah.

Konflik peranan inilah yang menempatkan mahasiswa kadang berpikir secara sepihak. Mereka cenderung berpikir bahwa nilai yang rendah bisa diperbaiki melalui semester pendek

Ketidakcermatan dalam memutuskan apa yang harus diprioritaskan juga menjadi faktor utama makin lamanya masa studi yang harus ditempu oleh mahasiswa. Konflik peranan ini merupakan salah satu factor utama penyebab terjadinya perubahan orientasi mahasiswa dalam menyikapi kuliah.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari analisis yang dipaparkan diatas maka dpat disimpulkan bahwa keberadaan UKM-UKM yang ada di gelanggang Mahasiswa UGM memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perubahan social (perubahan orientasi) mahasiswa. Yaitu antara lain:

      1. UKM-UKM yang ditawarkan gelanggang UGM membuka wacana dan wawasan mahasiswa (mahasiswa baru pada khususnya) tentang segudang kegiatan mahasiswa diluar kademik.

      2. Mahasiswa baru yang cenderung academic oriented akan bingung dengan banyaknya pilihan UKM yang menjanjikan.

      3. Gelanggang juga bisa menjadi bunmerang untuk dijadikn tempat bolos kuliah (15%).

      4. Kenyamanan dan kekeluargaan menjadi faktor paling dominan untuk berlama-lama di gelanggang. (40%).

      5. UKM ternyata tidak mengganggu kegiatan perkuliahan (95%).

      6. UKM menunjang perkuliahan (92,5%).

  1. Saran

Dari kondisi yang terjadi diatas maka ada saran-saran yang penulis susun sebagai berikut:

    1. Mahasiswa hendaknya lebih cermat dalam memiih UKM yang benar-benar bermanfaat dan menunjang perkuliahan.

    2. Mahasiswa hendaknya bisa belajar dari kakak tingkat yang sudah lama aktif di gelanggang.

    3. Adanya menejemen waktu yang baik.

    4. Adanya prioritas kerja dan kegiatan.

Daftar Pustaka

Hicks, Herbert G dan C. Ray Gullet. (1987). Organisasi: Teori dan Perilaku. Jakarta: PT Bina Aksara

 

Rakhmat, Jalaludin. (2003). Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Sairin, Syafri. (2002). Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Salim, Agus. (2001). Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

 

Sarwono, Sarlito Wirawan. (2000). Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Sears, David O, Jonathan L Freedman dan Peplav L Anre. (1999). Social Pshiycology. Jakarta: Penerbit Erlangga

Sunarto, Kamanto. (2000). Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi

Lampiran 1

-wawancara dengan pengawas gelanggang, Bapak Maryanto Angket Penelitian Sosiologi

1. Jur/Fak/Angk:

2. Jenis kelamin:

1. UKM apa yang anda ikuti?

a. Olahraga b. Kesenian c. Khusus (Pramuka, Kerohanian, Kopma, dll)

2. Mengapa sering ke gelanggang?

a. Latihan rutin b. Jalan-jalan c. Cari teman d. Suasana keakraban e. Lain-lain

3. Sudah pernah nginep di gelanggang?

a. Tiap hari b. Sering c. Jarang d.Tidak pernah

4. Berapa lama Anda biasa nongkrong di gelanggang?

a. <1 jam b. 1-2 jam c. 2-3 jam d. 3-4 jam e. >5 jam

5. Lebih nyaman yang mana antara kos/rumah dan gelanggang?

a. Kos/rumah b. Gelanggang

6. Menurut anda seperti apa gelanggang itu?

a. Rumah ketiga b. Tempat cari teman c. Keluarga d. Lain-lain

7. Gelanggang jadi alternative tempat bolos kuliah?

a. Ya, sering b. Ya, jarang c. Tidak, kadang-kadang

8. Apakah UKM mengganggu kegiatan kuliah anda?

a. Ya b. Tidak

9. Apakh UKM menunjang kuliah anda?

a. Ya b. Tidak

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

2 thoughts on “Antara Organisasi dan Akademik

  1. Kak, aku juga ikut ngopy boleh ya?????! untuk referensi skripsi kul. tema skripsiku tentang sasta. Kalau kakak ingin membantuku, aku seneng banget???!!………..

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s