Osaka dan Takoyaki

osaka0JAPAN!” Rencana perjalanan yang ditelah dibincang sejak akhir 2011 pun akhirnya terlaksana di tengah tahun lalu. Again, thanks to Air Asia yang membuat trip 9 hari itu tidak begitu memberatkan. Terlepas dari biaya hidup di negeri Sakura yang sungguh mahal, setidaknya trip kali ini tidak begitu memberatkan kantong di awal.

Bersama beberapa teman Rotaract Semanggi, Jepang menjadi sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman istimewa tak terlupakan! Perpaduan yang unik antara keramahan budaya serta kemajuan teknologi serta infrastruktur yang canggih menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi. Selama 9 hari tersebut, saya cukup berhasil mengeksplor Osaka, Kyoto, Tokyo, dan Hiroshima!

Rute perjalanan udara Jakarta – Kuala Lumpur – Osaka yang menempuh sekitar 6 jam tidak begitu berarti dibanding excitement yang saya rasakan selama di pesawat. This’ just soooo real, saya akan menginjak negara yang membangun negerinya lewat mimpi melalui tokoh-tokoh kartun di beragam komik yang kita akrabi sejak kecil. Mulai dari Doraemon, Hatori, Sin Chan, P Man, Candy Candy, Satria Baja Hitam, Ultra Man, hingga Gaban! *masih ingat kan istilah Gaban datang dari mana?* Dan OSAKA, menjadi kota pertama yang saya singgahi. Continue reading

Pinjaman Dana Pendidikan Sampoerna Academy

SADUA minggu belakangan tulisan berjudul “Jebakan Bantuan Pendidikan Sampoerna Academy” yang dimuat di artikel Kompasiana kerap mewarnai timeline twitter saya. Mengetahui saya bekerja di lembaga yang mengelola sekolah berstandar internasional setingkat SMA itu, serta-merta teman-teman saya memenuhi tab mention di linimasa. Alih-alih kecewa, saya justru bahagia mengingat banyaknya teman yang merespon (dengan berbagai intonasi). Setidaknya ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap kualitas pendidikan bangsa, bukan?

Menanggapi isu ini, Putera Sampoerna Foundation (PSF) justru mencoba menyelesaikan masalah ini secara pribadi langsung ke penulis yang bersangkutan. Namun gayung pun tak bersambut. Penulis artikel tersebut tidak merespon private message yang dilayangkan PSF ke inbox akun Kompasiana miliknya. Terlepas dari terminologi “jebakan” yang dimaksud, saya sebagai bagian dari institusi besar ini sedikit ingin mengupas tentang filosofi skema program bantuan pendidikan Sampoerna Academy.

Continue reading

Satu Nomor tidak Cukup

mobile-number-portability-switch-from-one-operator-to-anotherKONON, ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa di Indonesia, sedikitnya kita harus memiliki dua nomor HP (dan gadget) sekaligus. Terlepas dengan berbagai alasan semisal mobilitas dan harga, ini merupakan fenomena unik mengingat sebagian besar pengguna gadget (kelompok masyarakat kelas menengah) memang melakukannya. Begitupun dengan saya. Sebagai pengguna media sosial, saya sendiri memiliki beberapa nomor HP tentunya.

Dulu ketika saya masih bekerja di salahsatu perusahaan Australia di Jogja, setiap semester saya harus menangani mahasiswa asing yang kerap datang dan pergi. Impresi mereka sama: kenapa orang Indonesia gemar sekali gonta ganti nomor HP dan memiliki lebih dari satu gadget. Jadi ketika misalnya ditanya nomor HP, jawaban justru pertanyaan balik: providernya apa dulu? Alasannya tentu masalah harga dan berbagai program yang ditawarkan sang provider. Again, this reason simply didn’t make any sense to apply for such a personal number! Nah, justru dari situlah beberapa orang di Indonesia, I found that they must, at least, have one default number, and the the rest is, you would say, the “gonta-ganti” number 😀

Continue reading