Posted in Aussie

War Memorial

Kuliah term A akhirnya selesai juga. Semua siswa ELICOS University of Canberra dikumpulkan dalam satu bus besar menuju War Memorial, ya katakana semacam gathering setelah lelah belajar 3 bulan pertama. Akhirnya kesempatan berkunjung ke War Memorial justru datang dari kampus. Sekira lebih dari 100 orang rame-rame mengunjungi museum ini.

War Memorial merupakan museum untuk mengenang pahlawan Aussie ketika perang Dunia I dan II. Terdapat puluhan ribu nama-nama pahlawan yg tertera di sisi kiri dan kanan bagian Dallam bangunan, sangat detil dan rinci.

Lalu di bagian tengah, terdapat kolam tempat melemparkan koin dan memberikan doa kepada arwah pahlawan itu. Menariknya, posisi bangunan ini berada pada satu garis lurus dengan Parliament House: New Parliament House – Old Parliament House – Griffin Lake – War Memorial. Jadi, kalo kita berada pada puncak bangunan baik di War Memorial atopun di Parliament House, akan tampak wiew / sight yang luar biasa indah…benar-benar tertata.

Ya, mungkin karena Canberra adalah kota yang direncanakan, jadi pentaannya benar-benar matang. Bahkan danau Griffin pun danau artificial!

Advertisements
Posted in Aussie

Wollonggong Trip

Angin dingin menyapa kami ketika pertama kali tiba di Wollonggong City Beach, objek pertama dari trip kali ini. Sekitar 50 rombongan mahasiswa Indonesia (termasuk keluarga) turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Saya kali ini kebagian menjadi ketua panitia, mengurusi calon-calon Master dan Doktor lulusan Univ of Canberra. Tapi alhamdulilah semuanya lancar berkat kerja team yg solid: saya, mas Fauzan, mas Juned, mas Dillah, dan mas Indra.

Awalnya trip ini direncanakan berlangsung selama 2 days 1 night, tapi ternyata akomodasi tidak memungkinkan, di samping jadwal yg bertepatan dengan libur sekolah. AKomodasi yang available untuk jumlah segitu hanya mengijinkan untuk menginap lebih dari dua malam. Akhirnya kita putuskan trip ini mejadi One Day Trip, untungnya peserta gak ada yg complain. Continue reading “Wollonggong Trip”

Posted in Aussie

Bangun Rumah, Ijin Tetangga

Satu hal lagi yang membuat saya kagum dengan peraturan di Aussie, yang menurut saya sangat Islami, yaitu ijin mendirikan rumah.

Ketika saya silaturrahmi ke rumah Pak Abrar, beliau menjelaskan kalau ijin mendirikan rumah atau bahkan merenovasi rumah di sini nggak segampang yang kita mau. Mentang-mentang punya uang lalu seenaknya mendirikan rumah.

Tapi, proses perijinan itu melibatkan banyak pihak, pemerintah kota, suburb, dan calon tetangga. Ya, komponen ketiga sangat menarik untuk didiskusikan.

Sebagai contoh, ketika kita sudah membeli tanah dan ingin mendirikan rumah di kawasan X, kita harus minta ijin ke tetangga kanan kiri dan depan belakang. Selama ijin dari mereka belum keluar, maka ijin mendirikan rumah belum bias dikeluarkan. Wow!! That’s amazing, isn’t it?

Hal ini untuk menjaga kenyamanan lingkungan itu, jangan sampai ada yang dirugikan ketika warga baru dating. Bahkan ukuran bangunan atau tinggi bangunan pun harus meperhatikan kondisi bangunan di sekelilingnya, jangan sampai merusak atau mengganggu view (pemandangan) tetangga kita itu. Wah-wah…bener-bener keren!! Dengan aturab ketat ini, nggak heran kalau rumah-rumah di Canberra rata-rata hampir sama dari segi ukuran dan model bangunan.  Toleransi sih..jadi gak begitu kentara antara yang kaya dan yang sangat kaya. Hehe…

Posted in Aussie

Rumah Tak Berpagar

Ada pengalaman menarik ketika saya pertama kali ke rumah Pak Abrar di Tugerranong, Canberra Selatan, semua rumah di daerah sana tak berpagar. Sebetulnya nggak hanya di sana, tapi semua rumah di Aussie…kebetulan aja saya baru concern di rumah beliau.

Sebenarnya nggak juga nggak berpagar, hanya bagian muka rumah aja yg nggak berpagar, sementara kanan kiri dan belakang tetap dipagari. Tapi, pagar tersebut hanya ala kadarnya, hanya untuk membatasi luas tanah dan area. Dan karena saking amannya, rumah-rumah yang berjendela kaca nggak memiliki terali besi. Sangat sangat gampang dimasuki pencuri.

Hal ini menarik ketika kita berbicara tentang kehidupan social di sini. Pertama, kondisi social yang sangat individualis tentu sangat bertolak belakang dg konsep bertetangga tadi. Rumah yang tak berpagar mengesankan pemilik rumah welcome kepada siapa saja yang datang, inclusive. Sementara rumah yg berpagar tinggi mengindikasikan sang pemilik rumah terkesan eksklusif.

Ini hanya sekedar asumsi, berdasarkan pengalaman saya aja. Ketika saya tinggal di kampung halaman, semua rumah gak ada pagarnya, sehingga kita bisa dengan mudah berinteraksi dan saling tegur sapa. Silaturrahmi, sekedar mampir, bercengkerama, bahkan menginap. Tapi ketika rumah berpagar tinggi, orang akan enggan untuk lebih intim berinteraksi, karena kita sudah membatasi diri. Continue reading “Rumah Tak Berpagar”

Posted in Aussie

Air Putih dan Pempek

Setelah 2,5 bulan nggak bersinggungan dengan jajanan khas Indonesia, akhirnya kemarin kesempatan itu dating juga. Jadi pas kita mau belanja ayam potong di Kippex, kita mampir ke warung Asia di sana. Dan, saya bener-bener kaget sekaligus senang tak terkira..Wussup?? Karena di sana disediakan menu Indonesia seperti pempek, ketoprak, mie ayam, dan bakso. Senangnya bukan main!! Nah, untuk mengobati kekangenan ini, saya memilih pempek dan the kotak Sosro sebagai pengalaman pertama saya di sini. Mmmmmm..yummi juga pempeknya, betul-betul persis sama dengan yang di Indonesia…weleh-weleh…

Nah, satu lagi nih yg bikin saya salut di Aussie, air keran nya bias langsung diminum. Jadi kita gak perlu repot-repot beli air gallon atau sekedar masak air mpe mendidih. Karena keran sudah dipasang dengan dua pilihan itu: panas dan dingin. Tinggal pencet aja air mana yang ingin diminum..langsung maknyuuuss.

Kapan ya Negara kita bias kayak gitu…semakin hari semakin gemas saya ingin membangun bangsa ini. Yok temen2..kita bangun Negara kita….dimulai dari diri sendiri: sederhana kok, tinggal nerapin nilai-nilai yang kita pelajari selama SMP ato SMA dulu kayak toleransi, disiplin, saling menghargai. Those are all.

Posted in Aussie

Weekend with My Own Car

Sarana transportasi di Canberra memang nggak sebagus di Sydney dan Melbourne dalam hal jadwal operasi. Bus ACTION hanya beroperasi sampai pukul 11 malam selama Weekdays (Senin-Jumat), itu pun dengan periode tertentu: 5 menit sekali, 15 menit sekali, 30 menit, dan satu jam sekali (periode ini disesuaikan dengan suburb tujuannya). Sementara jadwal Weekend (Sabtu-Minggu), akan lebih sulit lagi memanfaatkan fasilitas ini. Karena hari Sabtu, jadwal operasi hanya satu jam sekali. Sementara Minggu jauh lebih sulit lagi, karena di samping satu jam sekali periodenya, jadwal operasi bus inipun berakhir sampai pukul 7pm.

Jadi nggak heran jika Sabtu Minggu jumlah kendaraan pribadi yang beroperasi meningkat tajam. Ya..ya..lagi –lagi saya kagum, fasilitas umum benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal. Sementara mobil pribadi hanya digunakan ketika Weekend. Seandainya Jakarta kayak gini, mungkin kemacetan juga bias di atasi. Padahal, kalo mau itung-itungan, mobil di sini jauuuuuuuhhh lebih murah. Gaji saya sebulan aja bias beli mobil sedan second yang lumayan. Sementara di Indonesia, dengan harga mobil yang selangit aja, angka kepemilikan kendaraan masih tinggi, apalagi kalo murah kayak di sini…waduh..ayo Pak Presiden..kita ubah karakter bangsa kita..

Posted in Aussie

Halal Gak Ya?

Sebenernya telat saya nulis ini, dah dua bulan lebih baru cerita di sini..hehe. Ya, agak sulit mencari makanan halal di Canberra, gak seperti di Sydney atau Melbourne yang begitu mudah mencari makanan halal. Mungkin karena jumlah penduduk muslim yg begitu kecil di sini sehingga pebisnis kuliner di sini nggak begitu aware dengan makanan halal.

Nah, dari situ, Alhamdulillah sudah ada Halal Guide yang sangat membantu kita. Halal Guide ini disusun oleh tim pengajian Permata Canberra. Walaupun sedikit ribet dengan proses ini, tapi benar-benar terasa keimanan kita diuji. Soalnya makanan enak di mana-mana kawan.

Karena jajanan seperti roti, biscuit, coklat, kue, dll gak semuanya halal, karena mengandung emulsifier yang tidak halal dikonsumsi. Jadi pilihan jajanan gak begitu banyak. Restoran yang jelas-jelas halal adalah Kebab Ali Baba, Jabal di Yaralumla, dan kedai pas hari Jumat di Masjid Abu Bakar Yaralumla. Sementara restoran kayak Kingsley Chicken, Jewel of India, dan Nando, hanya menyediakan beberapa menu yang halal, yaitu ayam.  Continue reading “Halal Gak Ya?”