Keroncong: Menakar Budaya Menentang Modernitas

Today the world changes so quickly that in growing up we take leave
not just of youth but of the world we were young in.
~Peter Medawar

When my daughter was about seven years old, she asked me one day what I did at work. I told her I worked at the college – that my job was to teach people how to draw. She stared at me, incredulous, and said, “You mean they forget?” ~Howard Ikemoto
KETIKA berbicara tentang budaya maka konteks yang berkembang dalam pembicaraan tersebut adalah komparasi anatar dua variabel. Yaitu budaya dulu dan budaya sekarang dengan memperhatikan kondisi kedisinian dan kekinian. Kedua variabel tersebut pada satu sisi waktu mengalami akselerasi perubahan yang cukup signifikan. Baik materi, kemasan, bahkan tujuan dari budaya itu sendiri. Bahkan, komponen-kompenen yang terlibat dalam proses kreatif kebudayaan terbut juga mengalami proses itu.
Musik keroncong yang dijadikan tema besar dalam berita televisi yang diproduksi oleh salah satu kelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM tahun 2006 lalu juga merupakan bagian dari budaya. Keroncong adalah hasil dari proses kreatif mereka dalam menciptakan, mengemas, dan mempertunjukkannya. Bahkan hasil itu sendiri adalah proses yang dimaksud. Namun, tulisan ini tidak akan membahas keroncong sebagai sebuah produk budaya yang tertinggal seperti maksud dari berita tersebut. Tapi tulisan ini akan menyoroti teknis produksi, kemasan, editing, dan kesesuaian tema dengan prinsip-prinsip jurnalisme penyiaran. Continue reading

Jurnalisme Infotainment: Antara Etika dan Fakta

Jurnalisme Infotainment

Infotainment tumbuh dan mulai menguasai tayangan televisi Indonesia menggantikan arena gosip yang pernah marak. Sepintas memang tidak berbeda gosip dan infotainment. Bedanya, infotainment merupakan gosip yang dibuat melalui penelusuran atau investigasi. Dikaitkan dengan jurnalisme, tampaknya infotainmen merupakan spesifikasi baru. Lahir di Indonesia setelah dipromosikannya investigatif reporting yakni jurnalisme yang menganut paham pendalaman. Berita investigasi merupakan berita lengkap dari sebuah peristiwa sebagai hasil penelusuran wartawan. Biasanya berkaitan dengan korupsi. Karena itu tanpa pengetahuan jurnalistik yang memadai, investigation reporting bisa menghasilkan berita prasangka, berita yang mungkin saja melanggar asas praduga tak bersalah. Berita seperti itu diharamkan oleh Kode Etik Jurnalistik di (KEJ) dan Kode Etik Wartawan (KEWI).
Sedangkan infotainment merupakan analog dari entertainmen yang bobotnya memang lebih ke arah hiburan. Biasanya berupa tayangan atau pemuatan tulisan/informasi yang berkaitan dengan kehidupan pribadi orang terkenal. Di negara Barat, terutama Inggris, hal itu biasa dilakukan koran kuning berbentuk tabloid. Justru berita eksklusif dari balik tembok istana itulah yang menjadi ciri khas tabloid. Di Indonesia dominasinya dipegang televisi. Continue reading

Kebutuhan Praktis Amerika terhadap Ilmu Komunikasi

Kebutuhan praktis Amerika terhadap studi komunikasi telah dimulai ketika pembentukan atau penyatuan Amerika menjadi Negara federal. Dalam sejarah Amerika modern disebutkan bahwa contoh bentuk komunikasi yang berperan dalam integrasi Amerika antara lain diterbitkannya The North American Review pada tahun 1815 di bawah pimpinan Jared Sparks. Majalah ini menempati kedudukan yang awet dalam perkembangan kebudayaan bangsa.

Kebutuhan Praktis di Masa Lalu
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, peradaban Amerika yang sedemikian maju juga tidak terlepas dari sejarah “Perang Saudara” yang pecah tanggal 12 April 1861. Kebutuhan perang telah banyak sekali merangsang usaha perbaikan barang dan proses ekonomi. Pada tahun-tahun sebelum 1860, ada 36.000 paten yang dikeluarkan, dalam 30 tahun berikutnya, ada 440.000 paten, dan selama 25 tahun pertama abad ke-20, jumlah tersebut telah mencapai hampir satu juta. Tahun 1844, Samuel F. B Morse berhasil menyempurnakan telegraf listrik, dan segera setelah itu pelosok-pelosok yang saling berjauhan letaknya di seluruh benua dihubungkan oleh jaringan tiang dan kawat. Pada tahun 1876, Alexander Graham Bell memperagakan alat telepon, dan dalam satu abad, enam belas juta telepon mempercepat hidup sosial dan ekonomi negara.
Kebutuhan akan teknologi komunikasi yang berdampak pada pertumbuhan dunia bisnis di Amerika secara tidak langsung telah menjadi sarana bagi perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri. Mesin cetak rotary press dan alat melipat kertas memungkinkan untuk mencetak 240.000 surat kabar delapan halaman dalam waktu satu jam. Perkembangan teknologi komunikasi itu sendiri juga ditandai dengan disempurnakannya mesin bicara oleh Thomas Alfa Edison yang bekerja sama dengan George Eastman dalam menciptakan gambar hidup. Menjelang abad ke-19 kamera mulai mencatat sejarah, mengabadikan dengan gambar apa yang ditulis oleh orang lain ketika penduduk negeri bergerak berpindah ke Barat dalam jumlah yang semakin besar untuk membangun kota-kota yang luas, mengusahakan pertanian, dan lain-lain. Continue reading

Pandega, Riwayatmu Kini

Rasanya baru kemarin cikal itu tumbuh. Baru beranjak menjalarkan serabutnya yang rapuh. Butuh nutrisi agar kuat dan teguh. Sekarang, ia harus bersanding dengan angin. Wajib kawin dengan timbal dan urin. Wajar, bila sesak ia sekarang. Dan diagnosa, kontan diperlukan.!

SEKIAN puluh tahun yang lalu Presiden mengesahkan organisasi ini: Gerakan Pramuka dengan perjuangan yang lua biasa mengharukan. Boleh jadi kita berbangga hati. Menjadi penerusnya yang merambat hingga kini. Menyebarkan benih-benih tunasnya dengan semangat pandu yang menggebu. Lengkap dengan peluit, baret, dan kacu. Semoga tak keliru.
Konon, organisasi ini disebut sebagai salah satu pionir perjuangan yang masih bertahan. Entah formula apa yang digunakan para petinggi-petingginya terdahulu. Apa karena sifat organisasi ini yang politis. Sekedar bergerak lunglai tanpa memerhatikan kondisi sekitar? Ah, rasanya tidak juga. Toh organisasi ini banyak mencetak para pemikir ulung bangsa dan pejabat tinggi. Menjadin pilar terdepan bangsa di eranya.
Namun, sejarah tinggal sejarah. Dan sejarah hanyalah momentum. Kemudian momentum itu pergi tak mninggalkan jejak lagi. Tinggalah bongkahan ihwal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kejayaan tempo dulu, kini, sekedar mendongeng saja. Dan kita, kini, maukah dijejalsempalkan dengan cerita klasik itu? Sementara realita berbicara beda. Kini, Pramuka (berdasarkan subjektifitas saya), dipandang sebelah mata. Mulai dari hal yang sederhana, seragamnya, hingga yang paling dikhawatirkan, dekadensi intelektual.

Seragam Pramuka dan Kerja Nyata Pandega
Pramuka identik dengan tepuk tangan dan bernyanyi. Pun tidak lepas dari imej seragama coklatnya. Setidaknya itulah yang ada di benak teman-teman saya yang bukan anggota Pramuka. Pengkultusan ini membentuk branding absolutif bagi Pramuka. Di satu sisi, organisasi ini memiliki karakter dengan kekhasan seragamnya. Namun, di sisi lain, rasa kebanggaan itu semakin meluntur dengan diwajibkannya memakai seragam Pramuka tiap Sabtu bagi anak sekolah. Benarkah asumsi saya? Saya sangat ragu untuk mengatakan tidak!
Stigma ini harusnya ditanggapi dengan serius mengingat dewasa ini Pramuka harus berjejalan dengan organisasi senada. Toh, saat ini banyak yang menawarkan alternatif pilihan yang juga variatif. Pilihan-pilihan yang ditawarkan oleh organisasi tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi anggota Pramuka, jika tak mau ketinggalan. Atau jangan-jangan, selama ini, kita terjebak pada jargon Dasa Dharma dan Tri Satya, sehingga berdampak pada minimnya inovasi yang bisa dilakukan. Continue reading

Study Kritis Praktik Kehumasan

 

Saya Lebih Memilih Pedang daripada Harus Berhadapan dengan Pers

-Napoleon Bonaparte-

 

HUMAS merupakan ujung tombak di setiap lembaga, institusi, organisasi, maupun perusahaan. Lembaga yang memiliki citra baik di mata masyarakat tentu memiliki humas yang baik pula. Karena di tangan humaslah segala macam informasi datang dan pergi. Melalui pintu gerbang ini setiap detil informasi bertandang silih berganti. Pun demikian dengan institusi, organisasi, maupun perusahaan. Nah, untuk contoh terakhirlah tulisan ini akan bercerita.

PT Freeport sebagai salah satu perusahaan besar tanah air kini tengah dililit masalah. Pelbagai tudingan disodorkan lewat aneka media. Mulai dari cetak, elektronik, hingga interaktif. Berikut akan dibahas permasalahannya:

 

Tanggung Jawab Sosial Humas PT Freeport

SEBAGAI perusahaan besar PT Freeport tentunya memakan dana operasional yang tidak sedikit. Banyak pos-pos pemasukan berikut pengeluaran yang juga varian. Untuk mengimbangi hubungan antara kerja-kerja perusahaan dengan kondisi sosial masyarakat sekitar, PT Freeport (harus) bertanggung jawab atas kehidupan sosial masyarakat (sekitar). Ini dilakukan mengingat PT Freeport secara kultural telah ‘memanfaatkan’ bumi mereka (baca: masyarakat Papua).

Namun, beberapa kasus yang belakangan muncul ke permukaan mengindikasikan betapa buruknya kinerja humas di sana. Terlepas benar atau tidak fakta di lapangan, toh tetap saja humas PT Freeport tidak berhasil meng-counter isu yang telah terwacana tersebut. Isu lingkungan berikut impak sosialnya telah membentuk citra miring terhadap perusahaan besar itu. Dari sini, tanggung jawab sosial perusahaan patut dipertanyakan. Continue reading

Review Film “Janji Joni”

Selama ini kita hanya bisa duduk manis di bioskop dan menikmati setiap scene film. Selama ini kita hanya bisa menuntut film yang ingin kita tonton diputar tepat waktu. Tapi pernahkah kita membayangkan perjuangan seorang pengantar rol film yang akan kita tonton menghadapi halangan dan rintangan hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan kita?

SETELAH sukses dengan film Arisan!, Nia Di Nata dan Joko Anwar tampaknya ketagihan untuk menumpuk berbagai penghargaan di bidang film. Janji Joni yang diluncurkan ke pasaran beberapa bulan lalu merupakan film Joko Anwar dengan Nia Di Nata sebagai produsernya. Dengan di-syut medium film seluloid 35 mm dan hanya menghabiskan masa syuting 20 hari pada bulan Januari 2005, film yang diproduksi oleh Kalyana Shira Film ini cukup sukses menyabet berbagai penghargaan.

Narasi

SECARA umum film ini bercerita tentang anak muda berusia 22 tahun bernama Joni (Nicholas Saputra). Dia bekerja sebagai pengantar rol film (day and date) dari bioskop satu ke bioskop lainnya. Suatu waktu ia melihat penonton wanita yang sangat mempesonanya yang belakangan diketahui bernama Angelique (Maria Renata). Ia ingin berkenalan dan mengetahui nama wanita tersebut tanpa mempedulikan cowok yang berada di samping wanita itu (Otto, Surya Saputra).

Namun, wanita tersebut hanya mau memberi tahu namanya bila Joni dapat memenuhi janjinya untuk mengantar rol film yang akan ia tonton tepat waktu. Dikira mudah, dengan pertimbangan selama setahun belakang ia tidak pernah terlambat, Joni mengamini persyaratannya. Nah, cerita mulai seru ketika diperlihatkan bagaimana perjuangan Joni untuk memenuhi janjinya tersebut. Lingkungan di sekitarnya seolah-olah berkonspirasi untuk membuatnya terlambat menepati janji.

Continue reading

Humas, Freeport, dan Papua

Tak Akan Habis Membincang Papua. Mulai dari Koteka, Perang Adat, Eksotika Lembahnya, Hingga Kini, “Gunung Emasnya”

Tak dapat dipungkiri salah satu isu terhangat dua bulan terakhir ini adalah kasus yang tengah ditimpa oleh perusahaan penambangan raksasa Freeport. Hampir di semua koran-koran, televisi, milis-milis, hingga situs-situs tertentu membincangkannya. Perusahaan milik Amerika ini, kini, kadung terlilit masalah pelik. Mulai dituduh sebagai pelaku pencemaran lingkungan, hingga menggerus kekayaan alam. Bahkan tidak tangung-tanggung, mantan Ketua MPR, Amien Rais, menuding Freeport sebagai penjajah tiga kejahatan sekaligus, yaitu perpajakan, kerusakan lingkungan, serta penjarahan kekayaan alam Indonesia (Kompas, 13 Maret 2006).

Disinyalir, segenap rakyat Papua khususnya yang berada di Tembagapura, lokasi berdirinya perusahaan tersebut, membulatkan suara untuk menggoyang keberadaan Freeport di tanah mereka. Diduga, pembagian hasil yang tidak seimbang atas hasil penambangan serta porsi tenaga kerja yang tidak memprioritaskan penduduk setempat, adalah pemicunya. Isu ini kemudian makin terangkat dan terwacana dengan sukses di media. Berbagai media baik cetak maupun elektronik seolah berkoalisi mendedahnya. Sekan-akan berlomba, mereka menyajikan berita dengan gayanya masing-masing. Continue reading

Review Buku “Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas, dan Globalisasi dalam Iklan Sabun”

 

Berbicara tentang perempuan tidak terlepas dari penampilan fisiknya. Segala bentuk interpretasi dari tubuh perempuan merupakan perbincangan yang tak pernah bertepi. Pelbagai tema kerap muncul di setiap perdebatan. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

 

Kecenderungan seseorang untuk menemukan kekurangan pada dirinya adalah sesuatu hal yang sangat memungkinkan. Artinya, seseorang akan (melulu) melihat dirinya serba kekurangan. Fenomena inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh kalangan pembuat iklan untuk memasuki wilayah bawah sadar seseorang. Pelbagai produk perawatan tubuh ditawarkan untuk mengeliminir kekurangan-kekurangan itu. Sehingga memang benar jika berbicara tentang tubuh perempuan, tidak terlepas dari perdebatan ragam rekayasa citra.

Dalam buku yang berjudul Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas, dan Globalisasi dalam Iklan Sabun ini, penulis, Aquarini Priyatna Prabasmoro, ingin menjelaskan bahwa sebetulnya citra akan permainan tubuh merupakan sebuah permainan yang rapi dan terancang amat baik. Dalam konteks ini, pembuat iklan-lah yang menjadi dalang utama. Pelbagai janji ditawarkan lewat iklan yang ia rancang. Mulai dari permainan kata, hingga visual/gambar. Salah satu iklan yang menjanjikan keidealan tubuh tersebut adalah iklan sabun.

Iklan sabun yang menawarkan perubahan warna kulit, tekstur, dan sebagainya itu membuat wanita (calon konsumen yang menonton iklan) menjadi tertarik untuk menggunakan produk sabun tersebut. Kulit yang halus, putih, bersih, dan wangi adalah impian setiap wanita (Indonesia). Sehingga wanita Indonesia di-setting sedemikian rupa untuk ikut menggunakan produk sabun supaya impian-impiannya tercapai. Continue reading

Mewacanakan (Kembali) Hajat Kita

Ada banyak kisah yang bisa dideretkan. Beragam ihwal serta aneka warta direntangkan. Tahulah, yakinlah Anda, karena masa depan di tangan kita.

Sebulan, Dua Bulan, Tiga Bulan dan Kini. Agustus jua tinggal beberapa purnama lagi. Mengapa harus Lustrum? Itulah sekira pertanyaan mendasar yang bersarang di sel-sel otak. Ketika optimisme berbenturan dengan apatisme yang menggeliat dalam satu atap, ketika idealisme disandingkan dengan kondisi ril kesiapan awak, yakinlah, sebuah hajat besar berada di sebuah jurang.

Kemana Ruh Itu…

Rasanya masih lekat dalam ingatan, gaung Lustrum yang berbulan-bulan dikonsep oleh Kelompok Kerja menuai banyak semangat dan tekad yang menggunung. Niat, harapan, dan optimisme kerap menggurita dan mewacana di tiap sudut sanggar tercinta. Segenap tawa dan sudut simpul seolah berkoalisi membincangkannya. Namun kini, meminjam judul tembang Sheila on 7, lihat, dengar, rasakan, apa yang tengah terjadi?

Kondisi awak Lustrum raib entah kemana. Amanah yang diemban tidak menemukan tepinya. Continue reading