Relevansi Studi Antropologi

Konteks Sejarah

Studi antropologi awalnya berkembang di Eropa. Banyak sarjana- sarjana Eropa yang mulai melihat dunia luar–kawasan di luar Eropa sebagai objek komparasi berbagai kebudayaan. Mereka melihat berbagai macam kebudayaan, keberbedaan dan keberlainan suatu kelompok masyarakat baik dari sudut pandang adat istiadat, nilai, dan tingkah laku, maupun cara hidup dalam melihat suatu fenomena.

Keberagaman, perbedaan, nilai, dan cara pandang tersebut diangggap sebagai suatu nilai baru dan dihargai oleh mereka. Kemudian konsep perbedaan yang mereka usung (others and difference) tersebut dikembangkan dan diaplikasikan ke berbagai benua di dunia, tidak terkecuali di Indonesia yang masyarakatnya majemuk.

    Konteks Demokrasi

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam ras, bahasa, suku bangsa dan agama. Keberagaman tersebut dinaungi oleh konsep nasionalisme yang tinggi sebagimana tercantum dalam Undang-Undang 1945. Salah satu ide dari konsep nasionalisme tersebut adalah demokrasi. Ide demokrasi yang lahir di Indonesia merupakan bentuk perwujudan dari konsep negara persatuan berlandaskan nasionalisme. Nilai-nilai yang ada dalam konsep demokrasi ini tentunya sangat sesuai dan cocok sebagai metode atau alat untuk mengatasi keberbedaan dan kemajemukan tersebut. Continue reading

Antara Organisasi dan Akademik

Dalam setiap komunitas selalu ada tatanan yang berusaha untuk mengatur agar anggotanya berperilaku sesuai dengan harapan dan kesepakatan bersama, namun dalam setiap komunitas juga akan selalu dijumpai adanya anggota yang berperilaku tidak sesuai dengan harapan komunitas tersebut. Dalam berbagai kasus perilaku tersebut disebut perilaku menyimpang, yakni di mana suatu perilaku dianggap tercela dan berjalan di luar batas toleransi nilai komunitas (masyarakat) setempat.

Pada mulanya nilai/tatanan yang diciptakan tersebut untuk mengatur agar anggotanya dalam berperilaku atau berusaha untuk tujuan tertentu. Namun dalam perkembangannya ada anggota yang dalam berperilaku tidak mengikuti cara yang ditentukan komunitas dan menyebabkan sebagian anggota komunitas ini tidak mengakui tatanan sosial yang ada dan berupaya menciptakan tatanan sosial tersendiri yang dirasa lebih sesuai dengan nilai-nilai yang dianut atau tujuan yang ingin dicapai. Hal inilah yang sebenarnya mengawali dan terus terjadi dalam suatu perubahan social. Tatanan sosial lama berangsur terganti atau berganti dengan nilai tatanan yang baru.

Hal ini menjadi menarik takkala dilihat pada apa yang terjadi diantara kaum mahasiswa yang aktivitasnya berpusat di gelanggang mahasiswa. Komunitas mahasiswa yang kerap ‘nongkrong’ di gelanggang tentunya berpengaruh besar bagi pribadi mahasiswa itu sendiri. Kaitannya dengan perubahan social, mahasiswa yang berasal dari bermacam-macam latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya dihadapkan pada budaya gelanggang yang mungkin berbeda dengan budayanya. Dalam hal ini, budaya yang dimaksud adalah orientasi atau prioritas belajar selama menjadi mahasiswa. Continue reading