Posted in Komunikasi

Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

dalam Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan

Gerakan Pramuka Indonesia

(dalam proses pembinaan pramuka usia siaga 7-10 tahun)

Latar belakang

Sebagai makhluk sosial manusia tidak terlepas dari hubungannya dengan manusia lainnya. Apa yang ia lakukan dan apa yang sampaikan akan selalu bersinggungan dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Pelbagai kebutuhan pokok, misalnya, makan, minum, berpakaian, mencari pekerjaan, dan lain-lain. Kesemua kebutuhan tersebut akan dan hanya akan terpenuhi jika ia melakukan transaksi dan komunikasi dengan manusia lainnya.

Komunikasi dan transaksi yang terjalin tersebut lebih dikarenakan aspek primer yang menjadi hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, ia membutuhkan bantuan orang lain. Berangkat dari sifat dasar manusia dalam hal pemenuhan kebutuhan inilah kebutuhan untuk berkomunikasi pun harus digenapi.

Kebutuhan komunikasi ini dibangun dan dikonstruksi serta mengalami internalisasi sejak kecil. Ketika mengalami fase bayi atau balita, seyogyanya seorang anak telah mendapat pelajaran komunikasi oleh kedua orangtuanya. Bagaimana cara mengucapkan huruf, bagaimana memanggil “mama’, atau bagaimana instruksi lapar maupun marah. Menariknya, anak-anak memiliki kemampuan mengingat jauh lebih besar dari orang dewasa, hal ini karena memori anak-anak masih kosong dan belum terdistrosi oleh memori atau pengalaman-pengalamannya di dunia.

Gerakan pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang diakui oleh Negara Republik Indonesa (berdasar Kepres No. 283 Th 1961) memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Gerakan Pramuka juga memiliki posisi strategis mengingat Pramuka adalah kegiatan pendidikan nonformal di luar sekolah. Hal inilah yang kemudian menjadikan pramuka berguna dan berjasa besar menjadi media pembelajaran anak-anak.

Bagaimana Pramuka menerapkan metode pendidikannya kepada anak didik usia siaga (sekira kelas 1 s.d kelas 4 SD)? Bagaimana konsep learning by doing yang juga merupakan konsep orality dan literacy diterapkan? Di sini tampak jelas terjadinya proses hibridisasi antara kedua konsep tersebut. Hal ini dikarenakan pramuka memiliki metode pembelajaran yang menyentuh dan menggunakan multi indera. Misalnya pembelajaran sandi-sandi dan tanda arah. Selain itu proses pengenalan dan pendidikan nasionalisme pun tidak melulu diajarkan secara konvensional tetapi menggunakan game dan lagu-lagu. Continue reading “Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy”

Advertisements
Posted in Komunikasi

Umpan Balik: Unsur Penentu Keberhasilan Komunikasi

Komunikasi merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Komunikasi yang baik tentunya akan menciptakan hubungan yang harmonis antarsesama. Keberhasilan komunikasi ini bila ditinjau dari segi keilmuan, maka dapat ditelaah berdasarkan unrsur-unsur yang ada di dalamnya, yaitu komunikator, pesan, media, komunikan, dan umpan balik. Kelima unsur yang merupakan hasil kajian Harold Laswell ini saling berkaitan dan mempengaruhi. Di antara kelima unsur ini, umpan balik merupakan unsur yang paling penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi.

Keberhasilan komunikasi bisa dilihat dari tujuannya: tercapai atau tidak. Selain itu, sebelum melakukan komunikasi, kita harus mengetahui siapa sasaran kita. Dalam hal ini, komunikator memainkan peranan penting dalam komunikasi. Tujuan dari pesan itu sendiri harus disesuaikan dengan jenis pesan yang akan disampaikan. Apakah hanya supaya  komunikan megetahui (metode informative) atau komunikan melakukan tindakan tertentu (persuasif atau instruktif). Continue reading “Umpan Balik: Unsur Penentu Keberhasilan Komunikasi”

Posted in Aussie

Features

Ini gedung ELICOS, tempat saya kuliah. Di gedung 20 inilah mahasiswa Internasional dari manca negara kursus Bahasa Inggris atau IELTS preparation. Baik untuk melanjutkan Bachelor, Master, maupun Ph.D.

Di Australia, ELICOS di University of Canberra merupakan yang terbaik. Pusat IELTS ada di sini. Dan untuk kredibilitas lulusan, lulusan University of Canberra merupakan lulusan penerima gaji tertinggi nomor dua di Australia. Artinya, kampus ini mencetak lulusan yang arahnya lebih ke praktisi.

Ini adalah salah satu air mancur terkenal di danau Griffin, Canberra. Danau ini yang membela kota Canberra menjadi dua bagian.

Posted in Aussie

Canberra yang Hening_Revised :)

Ketika pertama kali melihat lanskap Canberra dari pesawat udara, saya bertanya-tanya, di manakah letak kota ini? Ternyata benar, ketika mendarat, Canberra tak lebih sebuah kota kecil yang sepi. Udara dingin yang menembus kulit menyelimuti hari pertama saya kali itu. Disambut musim panas yang begitu lembab, membuat saya berpikir, ”Summer saja sedingin ini, apalagi Winter, ya?” Begitulah kira-kira kesan pertama saya terhadap  kota yang penduduknya hanya sepersepuluh dari penduduk Jakarta. Dan sekarang, tak terasa sudah hampir dua bulan saya menghirup bersihnya udara dan heningnya ibu kota Australia ini.

 

MENJADI bagian dari The Peace Scholarship Program 2008 dari IDP Australia merupakan sebuah kesempatan luar biasa dalam hidup saya. Tidak terbayang dapat merasakan kehidupan dan budaya Australia yang begitu beragam. Tinggal bersama dengan mahasiswa dari berbagai manca negara dan merasakan bagaimana kehidupan mereka. The Peace Scholarship Program sendiri merupakan beasiswa yang diperuntukan bagi mahasiswa S1 yang terlibat aktif di komunitas sosial apapun. Komunitas yang diikuti tidak hanya terbatas dengan isu perdamaian saja, tetapi lebih luas tentang isu-isu sosial.

Dalam program ini saya belajar Bahasa Inggris pada program English Language Intensive Course for Overseas Student (ELICOS) di University of Canberra English Language Institute (UCELI), Australian Capital Territory selama satu semester. Saya tergabung dalam kelas EAP Purple (English for Academic Purposes) yang terdiri dari enam belas siswa dari 8 negara berbeda. Saya belajar banyak hal tentang bagaimana penggunaan Bahasa Inggris di bidang akademik. Mulai dari kemampuan menulis, membaca, mendengar, berbicara, diskusi, dan presentasi.

Di sini saya bertemu dengan teman-teman dari manca negara seperti Jepang, Cina, Iran, Arab Saudi, Vietnam, Korea, Inggris, dan tentu saja mahasiswa Australia sendiri. Dan saat ini saya tinggal di salah satu apartemen di Braddon, bersama mahasiswa international lainnya. Braddon sangat dekat sengan City dan sekitar 20 menit ke University of Canberra dengan naik bus.

Dengan naik bus, saya dapat mengamati bagaimana bentuk interaksi yang terjadi di bus. Masyarakat Canberra yang sarat aneka budaya memberikan kesan tersendiri bahwa apa yang terjadi di Canberra adalah sesuatu yang sangat berkontribusi terhadap perdamaian. Kehidupan yang sangat toleran di sini membuat siapa saja dengan latar kebudyaaan apapun merasa nyaman untuk tinggal.


Kota yang Lengang

Saya mengalami culture shock yang hampir sama dengan siapa pun yang terbiasa dengan keramaian ketika pertama kali tiba. Karena terbiasa dengan sibuknya Jogja, kini saya dihadapkan pada kota yang aktivitasnya dimulai pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 5 sore.

Sarana transportasi yang disediakan kota yang pada tahun 2007 berpenduduk tak lebih dari 339.000 jiwa ini adalah bus ACTION. Jadwal operasi bus ini tetap sehingga kita tidak boleh terlambat sedikit pun. Bus yang juga disediakan untuk kaum difabel ini beroperasi dari Senin hingga Jumat sampai pukul 6 sore dengan jadwal periodik tiap 5-15 menit sekali. Dan untuk layanan malam, bus beroperasi hingga pukul 11 malam. Sementara untuk layanan Sabtu dan Minggu, bus beroperasi hingga pukul 7 sore. Jadi, kita harus pandai mengatur waktu dengan terencana jika berpergian di malam hari. Lagi pula, pusat perbelanjaan dan layanan publik sudah tutup pada pukul 5 – 6 sore. Betapa bedanya dengan Jogja atau Jakarta yang kehidupannya mengalir 24 jam!

Selain itu, jarak antara satu subburb dengan subburb lainnya cukup jauh. Mereka dipisahkan dengan padang sabana dan tundra, bukan gedung-gedung bertingkat laiknya kota-kota besar. Semua bangunan baik fasilitas publik, gedung pemerintahan, pemukiman, pusat perbelanjaan, sekolah dan universitas, tertata dengan sangat baik. Hal inilah yang membuat kota ini terkesan sepi dan hening. Semua aktivitas berjalan pada waktu yang telah ditetapkan.

 

Canberra Multicultural Festival

Hal menarik yang saya temui ketika pertama kali datang adalah Canberra Multicultural Festival. Sebagai tradisi tahunan, kegiatan yang berlangsung  pada tanggal 8-17 Februari 2008 ini selalu tak sepi pengunjung. Tidak hanya pengunjung domestik tetapi juga pengunjung internasional hadir untuk melihat berbagai kebudayaan dari seluruh dunia.

Festival ini sendiri diadakan untuk merayakan perbedaan dan keberagaman warga Australia khususnya di Canberra. Semua negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Australia turut berpartisipasi dalam festival ini. Baik berupa pertunjukan kesenian, masakan khas, pakaian nasional, dan sebagainya. Termasuk Indonesia, yang menampilkan Tari Saman dari Aceh, Tari Anging Mamiri dari Sulawesi dan Tari Serampang Dua Belas dari Riau.

Dalam acara ini, semua pengunjung yang datang dapat menikmati dan melihat ragam kebudayaan tersebut dengan gratis. Sementara makanan khas dari berbagai manca negara  dapat dinikmati dengan harga terjangkau.

 

How Are You Going, Mate?

Awalnya saya bingung menjawab pertanyaan di atas. Namun, setelah beberapa hari, saya baru paham bahwa itu adalah cara mereka menyapa dan menanyakan kabar, bukan bertanya tentang tempat ataupun tujuan kita. Ya, itu adalah salah satu contoh dari sekian banyak bahasa slang di Australia selain no worries, share, dan you’re all right yang diucapkan dengan aksen Australia yang begitu kental. Perbedaan Bahasa Inggris – Australia dengan Bahasa Inggris – Amerika membuat saya sedikit kerepotan untuk mengerti di hari-hari pertama di sini.

Salah satu cara saya melatih bahasa yaitu dengan bergabung dengan beberapa komunitas internasional, salah satunya menjadi volunteer pada acara Starlightday yang dikhususkan untuk anak-anak difabel Australia. Selain itu, saya juga bergabung dengan Australian Red Cross dan PPIA-UC (Persatuan Pelajar Australia-Indonesia University of Canberra).

 

Hari Jumat di Yaralumla

Tahun 2006, Australian Bureau of Statistics mencatat terdapat sekitar 340.000 jiwa penduduk muslim Australia yang sebagian besar tinggal di kota-kota besar. Dan di setiap kota terdapat satu masjid yang menjadi pusat informasi muslim di sana. Satu-satunya masjid yang terdapat di Canberra adalah Abu Bakar Mosque di Yaralumla. Setiap Jumat, semua pria muslim baik penduduk maupun pendatang berkumpul memenuhi masjid. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana silaturrahmi. Selain itu, setiap Jumat sekali, para jamaah dapat membeli berbagai jenis makanan halal yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah. Di masjid ini juga terdapat Islamic School of Canberra, semacam TPA yang diadakan seminggu sekali.

Namun, selain di Abu Bakar Mosque, sholat Jumat juga diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa muslim di ANUMA (Australian National University Moslem Association). Sementara University of Canberra menyediakan bus khusus yang memberikan fasilitas gratis antar jemput mahasiswanya ke Abu Bakar Mosque. Dan menariknya, fasilitas ini tidak hanya disediakan pada hari Jumat biasa, tetapi juga jika Jumat tersebut bertepatan dengan hari libur atau non-perkuliahan.

 

Bertahan dengan Ke-Indonesia-an

Kesempatan belajar di negeri Kanguru saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk menggali lebih jauh tentang makna kehidupan sosial antarbangsa. Perbedaan yang kita bawa di negeri orang bukan sebuah hambatan untuk berinteraksi satu sama lain. Justru perbedaan tersebut memperkaya ragam budaya yang telah ada di sana. Dan dengan karakter ke-Indonesia-an itulah martabat bangsa kita akan semakin dihargai dan dihormati.

Karena yang paling hakiki dari interaksi dan hubungan sosial manusia adalah hal-hal yang bersifat universal, yaitu cerita tentang kebaikan, toleransi, harga-menghargai, saling mengasihi dan menghormati. Bukan tentang siapa, agama, suku, ras, ataupun bahasa kita, karena kita adalah manusia. Itu saja. Salam damai dari Canberra!

 

Posted in Aussie, Press

O-Week : Stan PPIA UC Ramai Pengunjung

ACT (20/02)

Sebagai bagian dari rangkaian O-week (Orientation week) di University of Canberra, UCISS (University of Canberra Indonesian Student Society) atau Perhimpunan Pelajar Indonesia – Australia University of Canberra mengadakan Multicultural Lunch and Performances. Acara yang bertempat di University Concourse UC ini berlangsung pada Kamis (19/02) sejak pukul 12.30 hingga pukul 13.30 waktu setempat.

Dalam acara ini, UCISS menampilkan dua buah tari tradisional yaitu Tari Serampang Dua Belas dari Riau dan Tari Poco-Poco dari Maluku. ”Sengaja tarian ini kita tampilkan, selain untuk melibatkan partisipasi pengunjung, juga karena gerakannya paling mudah dan enerjik,” jelas Fauzan, ketua UCISS sekaligus salah satu pembawa tari tersebut. Yang paling membanggakan, Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Pak Agus Hartono dan Kepala Bidang Penerangan KBRI Pak Raudin Anwar menyempatkan waktu untuk hadir.

Selain itu, beberapa mahasiswa Indonesia ANU (Australian National University) dan warga Indonesia di Canberra turut meramaikan acara ini. Tidak hanya UCISS yang tergabung dalam rangkaian kegiatan ini, tetapi juga UC Isaac Law Society, UC El Club Hispano, UC Japan Club, UC Students Association, UC Moslem Association, Maldives Society, UC Chinese Students and Scholars Association. Mereka tergabung dalam kepanitiaan besar O-Week University of Canberra.

Free Lunch

Untuk menarik pengunjung, UCISS juga menyediakan free lunch bagi para mahasiswa yang datang. UCISS menyediakan beberapa makanan khas gratis seperti dadar gulung, kue lumpur, dan bakwan. Ini juga sebagai bentuk dari dukungan terhadap program Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Visit Indonesia 2008. “Indonesian food is very special, it is very different with ours,” ujar Alla, mahasiswa Internasional dari Arab Saudi. (ikie)

Posted in Aussie

Ditelpon Kingsley’s Chicken

Sebelum kuliah, saya sms Huemen (Host rumah saya) kalo saya bulan dpn mau pindah ke Braddon (flat Curong, share dg Akh Jajang)…trus langsung cabut ke kampus mantengin internet!! Ya…tetepan..seeking a job online. Lima macam aplikasi saya masukin ke advertiser. Pokoknya dicoba semua deh..

Kuliah mpe jam 5an.

PAs jam 5 saya ditelpon oleh Huemen (Host kamar saya), “Fickry, u can move as soon as possible.”..

Wow…seneng bgt..lebih hemat donk!! Hehe..otomatis bond saya dibalikin semua hehe..lumayan $440 plus $300..hehe..nabung euy!!

Trus pulanglah saya ke Kaleen. NAh, pas dinner, ada incoming call.., “Allow Fickry, how r u goin? DO u have time to come to Kingsle’s in Woden tomorrow on 4pm?” ….

I answered: “No, i can’t, how about Wednesday on 4 pm?” then He said, “Ok. i’ll be waiting 4 u!!”

Alhamdulillah, aplikasi yg saya titip lewat Citra dibaca juga. Padahal baru 4 hari yg lalu saya kasiin ke dia. Dan Rabu besok saya harus ke sana. Semoga aja diterima..amin.

Posted in Aussie

Ngajar TPA dan Keliling Kota

Jam 11 an akh Deden jemput saya (flatnya beliau di lantai 4, sementara akh Jajang di lantai 1). Trus kita luncuran ke Toad Hall (asrama International Student-nya ANU), karena mbk Desi mau balik ke Indo. Jadi rencananya nganter gt…

Trus saya naik mobil mbk Evi (dosen HI UI yg lg ngambil S3 di ANU) ke ANUMA. KIta ngajar TPA disana. Wah seru juga..anak2nya pada pake bahasa campur2 gitu..hehe..english mereka keren2 bgt..ya iyalah wong dia primary schoolnya di sini..Nah, yang paling ditunggu2, abis ngajar, ibu2 pada nyediain masakan Padang buat kita.,..hehe..lumayan, penghematan. Continue reading “Ngajar TPA dan Keliling Kota”