Posted in Komunikasi

Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

dalam Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan

Gerakan Pramuka Indonesia

(dalam proses pembinaan pramuka usia siaga 7-10 tahun)

Latar belakang

Sebagai makhluk sosial manusia tidak terlepas dari hubungannya dengan manusia lainnya. Apa yang ia lakukan dan apa yang sampaikan akan selalu bersinggungan dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Pelbagai kebutuhan pokok, misalnya, makan, minum, berpakaian, mencari pekerjaan, dan lain-lain. Kesemua kebutuhan tersebut akan dan hanya akan terpenuhi jika ia melakukan transaksi dan komunikasi dengan manusia lainnya.

Komunikasi dan transaksi yang terjalin tersebut lebih dikarenakan aspek primer yang menjadi hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, ia membutuhkan bantuan orang lain. Berangkat dari sifat dasar manusia dalam hal pemenuhan kebutuhan inilah kebutuhan untuk berkomunikasi pun harus digenapi.

Kebutuhan komunikasi ini dibangun dan dikonstruksi serta mengalami internalisasi sejak kecil. Ketika mengalami fase bayi atau balita, seyogyanya seorang anak telah mendapat pelajaran komunikasi oleh kedua orangtuanya. Bagaimana cara mengucapkan huruf, bagaimana memanggil “mama’, atau bagaimana instruksi lapar maupun marah. Menariknya, anak-anak memiliki kemampuan mengingat jauh lebih besar dari orang dewasa, hal ini karena memori anak-anak masih kosong dan belum terdistrosi oleh memori atau pengalaman-pengalamannya di dunia.

Gerakan pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang diakui oleh Negara Republik Indonesa (berdasar Kepres No. 283 Th 1961) memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Gerakan Pramuka juga memiliki posisi strategis mengingat Pramuka adalah kegiatan pendidikan nonformal di luar sekolah. Hal inilah yang kemudian menjadikan pramuka berguna dan berjasa besar menjadi media pembelajaran anak-anak.

Bagaimana Pramuka menerapkan metode pendidikannya kepada anak didik usia siaga (sekira kelas 1 s.d kelas 4 SD)? Bagaimana konsep learning by doing yang juga merupakan konsep orality dan literacy diterapkan? Di sini tampak jelas terjadinya proses hibridisasi antara kedua konsep tersebut. Hal ini dikarenakan pramuka memiliki metode pembelajaran yang menyentuh dan menggunakan multi indera. Misalnya pembelajaran sandi-sandi dan tanda arah. Selain itu proses pengenalan dan pendidikan nasionalisme pun tidak melulu diajarkan secara konvensional tetapi menggunakan game dan lagu-lagu. Continue reading “Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy”

Posted in Komunikasi

Umpan Balik: Unsur Penentu Keberhasilan Komunikasi

Komunikasi merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Komunikasi yang baik tentunya akan menciptakan hubungan yang harmonis antarsesama. Keberhasilan komunikasi ini bila ditinjau dari segi keilmuan, maka dapat ditelaah berdasarkan unrsur-unsur yang ada di dalamnya, yaitu komunikator, pesan, media, komunikan, dan umpan balik. Kelima unsur yang merupakan hasil kajian Harold Laswell ini saling berkaitan dan mempengaruhi. Di antara kelima unsur ini, umpan balik merupakan unsur yang paling penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi.

Keberhasilan komunikasi bisa dilihat dari tujuannya: tercapai atau tidak. Selain itu, sebelum melakukan komunikasi, kita harus mengetahui siapa sasaran kita. Dalam hal ini, komunikator memainkan peranan penting dalam komunikasi. Tujuan dari pesan itu sendiri harus disesuaikan dengan jenis pesan yang akan disampaikan. Apakah hanya supaya  komunikan megetahui (metode informative) atau komunikan melakukan tindakan tertentu (persuasif atau instruktif). Continue reading “Umpan Balik: Unsur Penentu Keberhasilan Komunikasi”

Posted in Aussie

Features

Ini gedung ELICOS, tempat saya kuliah. Di gedung 20 inilah mahasiswa Internasional dari manca negara kursus Bahasa Inggris atau IELTS preparation. Baik untuk melanjutkan Bachelor, Master, maupun Ph.D.

Di Australia, ELICOS di University of Canberra merupakan yang terbaik. Pusat IELTS ada di sini. Dan untuk kredibilitas lulusan, lulusan University of Canberra merupakan lulusan penerima gaji tertinggi nomor dua di Australia. Artinya, kampus ini mencetak lulusan yang arahnya lebih ke praktisi.

Ini adalah salah satu air mancur terkenal di danau Griffin, Canberra. Danau ini yang membela kota Canberra menjadi dua bagian.

Posted in Aussie

Canberra yang Hening_Revised :)

Ketika pertama kali melihat lanskap Canberra dari pesawat udara, saya bertanya-tanya, di manakah letak kota ini? Ternyata benar, ketika mendarat, Canberra tak lebih sebuah kota kecil yang sepi. Udara dingin yang menembus kulit menyelimuti hari pertama saya kali itu. Disambut musim panas yang begitu lembab, membuat saya berpikir, ”Summer saja sedingin ini, apalagi Winter, ya?” Begitulah kira-kira kesan pertama saya terhadap  kota yang penduduknya hanya sepersepuluh dari penduduk Jakarta. Dan sekarang, tak terasa sudah hampir dua bulan saya menghirup bersihnya udara dan heningnya ibu kota Australia ini.

 

MENJADI bagian dari The Peace Scholarship Program 2008 dari IDP Australia merupakan sebuah kesempatan luar biasa dalam hidup saya. Tidak terbayang dapat merasakan kehidupan dan budaya Australia yang begitu beragam. Tinggal bersama dengan mahasiswa dari berbagai manca negara dan merasakan bagaimana kehidupan mereka. The Peace Scholarship Program sendiri merupakan beasiswa yang diperuntukan bagi mahasiswa S1 yang terlibat aktif di komunitas sosial apapun. Komunitas yang diikuti tidak hanya terbatas dengan isu perdamaian saja, tetapi lebih luas tentang isu-isu sosial.

Dalam program ini saya belajar Bahasa Inggris pada program English Language Intensive Course for Overseas Student (ELICOS) di University of Canberra English Language Institute (UCELI), Australian Capital Territory selama satu semester. Saya tergabung dalam kelas EAP Purple (English for Academic Purposes) yang terdiri dari enam belas siswa dari 8 negara berbeda. Saya belajar banyak hal tentang bagaimana penggunaan Bahasa Inggris di bidang akademik. Mulai dari kemampuan menulis, membaca, mendengar, berbicara, diskusi, dan presentasi.

Di sini saya bertemu dengan teman-teman dari manca negara seperti Jepang, Cina, Iran, Arab Saudi, Vietnam, Korea, Inggris, dan tentu saja mahasiswa Australia sendiri. Dan saat ini saya tinggal di salah satu apartemen di Braddon, bersama mahasiswa international lainnya. Braddon sangat dekat sengan City dan sekitar 20 menit ke University of Canberra dengan naik bus.

Dengan naik bus, saya dapat mengamati bagaimana bentuk interaksi yang terjadi di bus. Masyarakat Canberra yang sarat aneka budaya memberikan kesan tersendiri bahwa apa yang terjadi di Canberra adalah sesuatu yang sangat berkontribusi terhadap perdamaian. Kehidupan yang sangat toleran di sini membuat siapa saja dengan latar kebudyaaan apapun merasa nyaman untuk tinggal.


Kota yang Lengang

Saya mengalami culture shock yang hampir sama dengan siapa pun yang terbiasa dengan keramaian ketika pertama kali tiba. Karena terbiasa dengan sibuknya Jogja, kini saya dihadapkan pada kota yang aktivitasnya dimulai pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 5 sore.

Sarana transportasi yang disediakan kota yang pada tahun 2007 berpenduduk tak lebih dari 339.000 jiwa ini adalah bus ACTION. Jadwal operasi bus ini tetap sehingga kita tidak boleh terlambat sedikit pun. Bus yang juga disediakan untuk kaum difabel ini beroperasi dari Senin hingga Jumat sampai pukul 6 sore dengan jadwal periodik tiap 5-15 menit sekali. Dan untuk layanan malam, bus beroperasi hingga pukul 11 malam. Sementara untuk layanan Sabtu dan Minggu, bus beroperasi hingga pukul 7 sore. Jadi, kita harus pandai mengatur waktu dengan terencana jika berpergian di malam hari. Lagi pula, pusat perbelanjaan dan layanan publik sudah tutup pada pukul 5 – 6 sore. Betapa bedanya dengan Jogja atau Jakarta yang kehidupannya mengalir 24 jam!

Selain itu, jarak antara satu subburb dengan subburb lainnya cukup jauh. Mereka dipisahkan dengan padang sabana dan tundra, bukan gedung-gedung bertingkat laiknya kota-kota besar. Semua bangunan baik fasilitas publik, gedung pemerintahan, pemukiman, pusat perbelanjaan, sekolah dan universitas, tertata dengan sangat baik. Hal inilah yang membuat kota ini terkesan sepi dan hening. Semua aktivitas berjalan pada waktu yang telah ditetapkan.

 

Canberra Multicultural Festival

Hal menarik yang saya temui ketika pertama kali datang adalah Canberra Multicultural Festival. Sebagai tradisi tahunan, kegiatan yang berlangsung  pada tanggal 8-17 Februari 2008 ini selalu tak sepi pengunjung. Tidak hanya pengunjung domestik tetapi juga pengunjung internasional hadir untuk melihat berbagai kebudayaan dari seluruh dunia.

Festival ini sendiri diadakan untuk merayakan perbedaan dan keberagaman warga Australia khususnya di Canberra. Semua negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Australia turut berpartisipasi dalam festival ini. Baik berupa pertunjukan kesenian, masakan khas, pakaian nasional, dan sebagainya. Termasuk Indonesia, yang menampilkan Tari Saman dari Aceh, Tari Anging Mamiri dari Sulawesi dan Tari Serampang Dua Belas dari Riau.

Dalam acara ini, semua pengunjung yang datang dapat menikmati dan melihat ragam kebudayaan tersebut dengan gratis. Sementara makanan khas dari berbagai manca negara  dapat dinikmati dengan harga terjangkau.

 

How Are You Going, Mate?

Awalnya saya bingung menjawab pertanyaan di atas. Namun, setelah beberapa hari, saya baru paham bahwa itu adalah cara mereka menyapa dan menanyakan kabar, bukan bertanya tentang tempat ataupun tujuan kita. Ya, itu adalah salah satu contoh dari sekian banyak bahasa slang di Australia selain no worries, share, dan you’re all right yang diucapkan dengan aksen Australia yang begitu kental. Perbedaan Bahasa Inggris – Australia dengan Bahasa Inggris – Amerika membuat saya sedikit kerepotan untuk mengerti di hari-hari pertama di sini.

Salah satu cara saya melatih bahasa yaitu dengan bergabung dengan beberapa komunitas internasional, salah satunya menjadi volunteer pada acara Starlightday yang dikhususkan untuk anak-anak difabel Australia. Selain itu, saya juga bergabung dengan Australian Red Cross dan PPIA-UC (Persatuan Pelajar Australia-Indonesia University of Canberra).

 

Hari Jumat di Yaralumla

Tahun 2006, Australian Bureau of Statistics mencatat terdapat sekitar 340.000 jiwa penduduk muslim Australia yang sebagian besar tinggal di kota-kota besar. Dan di setiap kota terdapat satu masjid yang menjadi pusat informasi muslim di sana. Satu-satunya masjid yang terdapat di Canberra adalah Abu Bakar Mosque di Yaralumla. Setiap Jumat, semua pria muslim baik penduduk maupun pendatang berkumpul memenuhi masjid. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana silaturrahmi. Selain itu, setiap Jumat sekali, para jamaah dapat membeli berbagai jenis makanan halal yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah. Di masjid ini juga terdapat Islamic School of Canberra, semacam TPA yang diadakan seminggu sekali.

Namun, selain di Abu Bakar Mosque, sholat Jumat juga diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa muslim di ANUMA (Australian National University Moslem Association). Sementara University of Canberra menyediakan bus khusus yang memberikan fasilitas gratis antar jemput mahasiswanya ke Abu Bakar Mosque. Dan menariknya, fasilitas ini tidak hanya disediakan pada hari Jumat biasa, tetapi juga jika Jumat tersebut bertepatan dengan hari libur atau non-perkuliahan.

 

Bertahan dengan Ke-Indonesia-an

Kesempatan belajar di negeri Kanguru saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk menggali lebih jauh tentang makna kehidupan sosial antarbangsa. Perbedaan yang kita bawa di negeri orang bukan sebuah hambatan untuk berinteraksi satu sama lain. Justru perbedaan tersebut memperkaya ragam budaya yang telah ada di sana. Dan dengan karakter ke-Indonesia-an itulah martabat bangsa kita akan semakin dihargai dan dihormati.

Karena yang paling hakiki dari interaksi dan hubungan sosial manusia adalah hal-hal yang bersifat universal, yaitu cerita tentang kebaikan, toleransi, harga-menghargai, saling mengasihi dan menghormati. Bukan tentang siapa, agama, suku, ras, ataupun bahasa kita, karena kita adalah manusia. Itu saja. Salam damai dari Canberra!

 

Posted in Aussie, Press

O-Week : Stan PPIA UC Ramai Pengunjung

ACT (20/02)

Sebagai bagian dari rangkaian O-week (Orientation week) di University of Canberra, UCISS (University of Canberra Indonesian Student Society) atau Perhimpunan Pelajar Indonesia – Australia University of Canberra mengadakan Multicultural Lunch and Performances. Acara yang bertempat di University Concourse UC ini berlangsung pada Kamis (19/02) sejak pukul 12.30 hingga pukul 13.30 waktu setempat.

Dalam acara ini, UCISS menampilkan dua buah tari tradisional yaitu Tari Serampang Dua Belas dari Riau dan Tari Poco-Poco dari Maluku. ”Sengaja tarian ini kita tampilkan, selain untuk melibatkan partisipasi pengunjung, juga karena gerakannya paling mudah dan enerjik,” jelas Fauzan, ketua UCISS sekaligus salah satu pembawa tari tersebut. Yang paling membanggakan, Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Pak Agus Hartono dan Kepala Bidang Penerangan KBRI Pak Raudin Anwar menyempatkan waktu untuk hadir.

Selain itu, beberapa mahasiswa Indonesia ANU (Australian National University) dan warga Indonesia di Canberra turut meramaikan acara ini. Tidak hanya UCISS yang tergabung dalam rangkaian kegiatan ini, tetapi juga UC Isaac Law Society, UC El Club Hispano, UC Japan Club, UC Students Association, UC Moslem Association, Maldives Society, UC Chinese Students and Scholars Association. Mereka tergabung dalam kepanitiaan besar O-Week University of Canberra.

Free Lunch

Untuk menarik pengunjung, UCISS juga menyediakan free lunch bagi para mahasiswa yang datang. UCISS menyediakan beberapa makanan khas gratis seperti dadar gulung, kue lumpur, dan bakwan. Ini juga sebagai bentuk dari dukungan terhadap program Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Visit Indonesia 2008. “Indonesian food is very special, it is very different with ours,” ujar Alla, mahasiswa Internasional dari Arab Saudi. (ikie)

Posted in Aussie

Ditelpon Kingsley’s Chicken

Sebelum kuliah, saya sms Huemen (Host rumah saya) kalo saya bulan dpn mau pindah ke Braddon (flat Curong, share dg Akh Jajang)…trus langsung cabut ke kampus mantengin internet!! Ya…tetepan..seeking a job online. Lima macam aplikasi saya masukin ke advertiser. Pokoknya dicoba semua deh..

Kuliah mpe jam 5an.

PAs jam 5 saya ditelpon oleh Huemen (Host kamar saya), “Fickry, u can move as soon as possible.”..

Wow…seneng bgt..lebih hemat donk!! Hehe..otomatis bond saya dibalikin semua hehe..lumayan $440 plus $300..hehe..nabung euy!!

Trus pulanglah saya ke Kaleen. NAh, pas dinner, ada incoming call.., “Allow Fickry, how r u goin? DO u have time to come to Kingsle’s in Woden tomorrow on 4pm?” ….

I answered: “No, i can’t, how about Wednesday on 4 pm?” then He said, “Ok. i’ll be waiting 4 u!!”

Alhamdulillah, aplikasi yg saya titip lewat Citra dibaca juga. Padahal baru 4 hari yg lalu saya kasiin ke dia. Dan Rabu besok saya harus ke sana. Semoga aja diterima..amin.

Posted in Aussie

Ngajar TPA dan Keliling Kota

Jam 11 an akh Deden jemput saya (flatnya beliau di lantai 4, sementara akh Jajang di lantai 1). Trus kita luncuran ke Toad Hall (asrama International Student-nya ANU), karena mbk Desi mau balik ke Indo. Jadi rencananya nganter gt…

Trus saya naik mobil mbk Evi (dosen HI UI yg lg ngambil S3 di ANU) ke ANUMA. KIta ngajar TPA disana. Wah seru juga..anak2nya pada pake bahasa campur2 gitu..hehe..english mereka keren2 bgt..ya iyalah wong dia primary schoolnya di sini..Nah, yang paling ditunggu2, abis ngajar, ibu2 pada nyediain masakan Padang buat kita.,..hehe..lumayan, penghematan. Continue reading “Ngajar TPA dan Keliling Kota”

Posted in Aussie

Jalan dari Parliament House ke City

Hari ini libur, jd agak males2an gt. Dan siangnya langsung cabut ke City. Keliling2 gak jelas, dan sempet ngeliat rangkaian terakhir dari Multiculture Days Festival.

Abis itu dapet sms dari mas Afri, ada appointment jam 4 di Musholla ANU. nah, berhubung masih jam 3 saya mutusin  tuk maen2 ke Parliament House. Sampe di sana saya hanya ngambil beberapa foto. Wow, what amazing view i saw at that time….gedung parliament dan war memorial meusium berada dalam satu garis lurus. Persis kayak Keraton Jogja, Tugu, dan Gunung Merapi. Cuma bedanya lebih rapih dan bersih aja..hehe..

Nah, pas hampir jam 4 gw mau balik lagi ke City tuk nemuin mas Afri (karena ANU dekat City) . But what? no bus comes to me!!  Bus satu jam sekali tuk rute ini. OMG!! Daripada nunggu, mending jalan aja sekalian, dengan harapan ntar paling juga nemu bus stop (kayak halte) lagi di tengah jalan. Tapi ternyata dugaan saya salah, sepanjang jalan no bus stop there. So, i keep walking down the street to the City. It spent about 1 hour……Capek deh… Continue reading “Jalan dari Parliament House ke City”

Posted in Aussie

Ngurus Student Visa with Permission to Work

Hari ini kuliah lebih singkat. Karena hari Jumat, saya ijin gak ikut kelas sampai selesai. Dan langsung menuju bus khusus yang mengantar mahasiswa muslim UC ke Masjid di Yaralumla (deket kompleks kedutaan).

Nah, abis dari sana, saya dg temen2 (temen2nya sih dah pada couple gt, S2 dan S3..sy sndiri yg paling muda..hehe) ke DIAC (Department of Imigration and Citizenship) Australi di City. Jadi, kita turun di City, gak di kampus.

Selang dua jam di DIAC, akhirnya Visa saya diganti..so, i have rights to work guys!! haha.. Biayanya sih lumayan AUD $60..sayang juga sih..hehe..tapi kao dah kerja nanti, itu bisa tergantikan. hehe..amin!!

Oh ya, dua jam di sana bukan karena prosesnya lama, tapi karena ngantri…prosesnya cuma 10 menit..haha…cepet bgt..beda bgt pas ngurus visa di Indo yg makan waktu berminggu2.

Btw, pas nunggu tadi sempet kenalan dg Mike, mahasiswa Manchester University yg short course di ANU. Lumayan, tuk nambah kenalan dan referensi..kali aja ada kesempatan ke UK..hehe..

Posted in Aussie

First Cheque From Sydney

Finally i got it huh!! ALhamdulillah datang juga ceknya di meja Alison Davies. Yup, kucuran dana $500 dari Sydney datang juga setelah nunggu sekian hari. Lumayan, tuk bayar bond sewa kamar.

Jadi, pagi2 langsung deh cabut ke City tuk nuker cek.  Naik bus47 trus nymabung bus 300 ke bus Interchange di City. Dan…karena gak tau lokasi National Bank dimana..so gw telpon Huemen..and the transaction goes well.

Abis itu langsung keliling City tuk cari yang namanya adaptor. Sampe hari ke 10 ini gw belum dapet2 yg namanya adaptor, terpaksa kalo mau charge handphone kudu pinjem dulu ke tetangga sebelah..embrace me!! huh..

DAn..pas mau balilk ke Kampus, gw muter2 gak jelas kayak orang bego mencari Bus Interchange (kayak terminal mini gt). Ya ampun…muter2 mall gak jelas..keluar mall yg satu eh ketemu mall yg lain lagi..persis kayak di Tunjungan Plaza Surabaya. Gak hanya gw aja yg bingung terjebak di sini, tapi juga org asli sini juga sering..hoho..jadi gak malu2 bgt..hehe,,,…

Dan….setelah akhirnya berhasil ke bus interchange..gw naik bus lagi ke Belconnen Mall tuk cari Quiltz (semacam sleeping bag..thick blanket). dan pas keluar mall tuk cari Belconnen Interchange, hal bodoh sekali lagi terjadi. gw harus bela2 in ke parkiran di lantai paling atas tuk ngeliat bus interchangenya..oh my God..haha..

Jadi, di sini, semuanya harus jalan!! Gak papalah..biar sehat..hehe..apologi lagi 🙂

Posted in Aussie

Terrible Class..But I keep Going.. :)

Hari ini adalah hari penting bagi warga asli Oz (aborigin). Pagi ini, Kevin Rudd, di awal kepemimpinannya, menyatakan akan memperbaiki kondisi masyarakat Aborigin yang ketika di masa2 PM2 terdahulu. Ya pokoknya diskriminasi gitu deh..dan semua yang nonton (via TV) di Refrectory room itu tampak khusyuk sekali..hhoho..

While me?? Karena bosen dan tahu intinya jadi cabut aja ke LTD dan ngenet..haha..tapi gak nyangka ternyata pas kelas “Current Affairs” kita harus diskusi ttg apa yang barusan tadi ditonton rame2 di Refrectory room!! Oh My God..

Tapi tetep aja..keluar jurus ampuh mencari perhatian class…pura2 aja nanya2 dan sok tahu gitu mengawali diskusi dan nge-lead anak2..haha..i look great..hehe..dasar!!…jangan ditiru..hehe…..

Posted in Aussie

Computer Class

12 Februari 2008

Pagi-pagi, Canberra dirudung hujan. Gak hujan aja dingin, apalagi hujan..oh my God..huhuh..mana ada kelas pagi lagi. Dan..satu jam hujan2an nunggu bus datang. Memang agak susah bus di sini. Gak kayak i Indonesia, tiap menit ada, soalnya pak sopir pada rebutan penumpang tuk ngejar setoran. Tapi kalo di sini, telat sedikit aja dari jadwal bus yang ditentukan, u will be leaved. ugh..

Hari ini kelas komputer d buiding 9. TapiSeru bgt!! Kita belajar online tuk Listening dan Reading.

Trus pulangnya langsung belanja ke Belconnen Mall.

Posted in Aussie

Apapun Makanannya…Minumnya Susu Seger!! :)

Setelah seharian gabung di kelas Computer dan Listening, sorenya langsung shoping ke Belconnen Mall dan Woolworsth. Ya..belanja-belanja tuk keperluan sehari-hari. Walopun udah pindah ke negeri orang, tetep aja seleranya Indomie Goreng..hehe..ya untungnya ada beberapa. Soalnya mie yang lain gak kenal dan gak tahu halal atau nggaknya.

Juga tak lupa susu dan jus apel. Yap, harga air mineral di sini jauh lebih mahal dari pada susu. So, apapun makanannya minumnya ya susu segar..haha..harganya?? rahasia!! kan penyakit konversinya udah ilang..hehe..yang jelas jauh lebih murah. Tapi tetep aja kalo dibandingin di Indonesia murahan di Indonesia…

Setelah dari Belconnen Mall, kita pulang ke rumah…masih dianterin ama si Huemen, si empunya rumah. Gila, dia baek bgt mpe nganterin kita kemana2..kayaknya baru kali ini nemuin host yang sebaik itu…dan malam ini saya dipinjemin “tuna” untuk menghangatkan tubuh. Karena udara malam begitu dingin. Gak cukup hanya sekedar selimut tebal….huhuhu…….

Posted in Aussie

Penyakit Konversi

Iya, udah hari kelima masih aja kebiasaan untuk mengkonversikan setiap barang ke rupiah. Padahal hal itu akan mempersulit kita sendiri loh. Bisa-bisa kita gak bakal makan disini. Karena menurut saya, biaya terbesar dari cost selama sebulan adalah makanan. Dengan kurs $1 = Rp 8.500,-, semua barang disini terasa mahaaaaaal bgt. Sekali makan untuk porsi dan menu yang sangat sederhana seharga $5 (coba konversiin = Rp 42.500,-)…Kue onde-onde aja saya beli pas di Multikulture Festival seharga $2..

Uang kos saya aja seminggunya $110. So, sebulannya $440 (berarti sebulan sekitar Rp 3.740.000,-) . Wah di Jogja udah bisa kos dua tahun tuh..hehe…

Nah, yang paling bego bgt, knapa juga saya gak bawa Oxford Dictionary-ku..ugh, ketinggalan di asrama. Karena disini kamusnya mahal bgt sekitar $100. Buku2 yang lain yang wajib beli sekitar $150…

Semoga penyakitnya cepet sembuh ya..hehe..

Tapi yang paling enak disini tuh mobilnya murah bgt dan kalo kerja, gajinya lumayan. Satu bulan kerja kamu bisa beli mobil di sini. Ya, kerjanya cuma jadi waitress, service cleaning, dll. Doain saya cepet dapet kerja ya…hehe..

Posted in Aussie

Sunday Market

Hari Minggu, lagi2 bareng ma temen2 kita ke Sunday Market Woden. Di sana dijual beraneka macam barang, mulai dari yang di dapur, ampe yang di garasi. Mulai dari pakaian dalam, mpe barang elektronik ada. Dan semuanya murah bgt. Saya aja sempet beli jaket cuma $2. haha..yang jual orang Filipina. Barang2 second-hand gitu yang dijual, tapi lumayan loh masih laik pakai..hehe..dari pada beli di toko euy..mahal buanget.

setelah itu kita langsung lanjut ke Brand Depot. Itu kayak market kecil, bentuknya square di deket bandara. Untuk kesana kita kudu naik bus khusus. Costnya $5. tapi kalo Student itu cuma $2,99. ($1= Rp 8.500). Di sana cuma liat-liat aja sih..karena mahal bgt..hiks2..penyakit konversiku masih kambuh dan belum sembuh. Jadi apa-apa itu pasti dikonversiin ke Rupiah..haha..bayangin jaketnya yang kalo beli di Jogja cuma 100 ribu di sana itu $70 (sama dengan 600 ribuan..). Wah..mending di save aja..hehe..

Posted in Aussie

Multiculture Festival in Canberra

Hari Sabtu kemarin saya dg mas Deni, Mb Melly dan MAs Andri jalan2 ke City. Di sana rame bgt, coz ad Festival Mustikultur tahunan. Secara di Canberra tempatnya kedutaan seluruh dunia, maka acara tahunan ini udah ditunggu2 masyarakat se OZ. Jadi org Sydney, Melbourne, dll pada datang semua. Wah seru juga, bisa ngeliat orang2 sedunia, mulai dari kepulauan Solomon di PAsifik sana, sampe Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dll. Semua pertunjukan ada disana. Ya seru aja, berasa keliling dunia sehari ..hehe..

Di sana juga ada stan Indonesia yang jual sate ayam, nasi kuning, dan sate tahu, ..tapi yang jual ternyata orang bule..haha..tapi dia bisa bahasa Indonesia sih..blesteran kyknya.

Posted in Aussie

Hari ini, Tha Last Orientation Day

Pagi ini saya sudah harus di kampus jam 09.30 waktu Canberra. orientasi terakhir gt. Kita diajak keliling kampus dan beberapa fasilitas yang bisa diakses. Contohnya perpusnya, gila!! keren bgt. Sehari kita bisa bawa 50 buku ke rumah, dan lamanya maksimal 3 minggu. Lama bgt ya..haha..emang bisa kebaca segitu..hehe…

Dan Student Card nya betul2 ampuh!! Dengan Student Card kita bisa mendapatkan apapun dengan murah. tiket bus, buku, nyewa something, ngeprint, dll. Ya gitulah…

Nah, karena hari ini hari Jumat, ada bus khusu yang membawa moslem student ke Masjid pada pukul 12.45 tepat!! Saya tadi karena baru pertama kali terlambat setengah menit dan hampir tertinggal..hiks-hiks..malunya..hehe. Namanya Masjid Abu Bakar, 15 menit nyampe sana dg mobil. lumayan jauh dan dekatdg Gedung Parlemen. Disana bnyk bgt orang Arab dan Asia. Lumayanlah buat kangen-kangenan gt. Dan ada yang jual kebab dan roti2 ala Timur Tengah deh. Dan masjid itu berada di depan Embassy of Iran.

Nah, pas pulang, kan seharusnya bus jemput kmai jam 14.00 tepat, tuh bus telat satu menit, dan saya langsung manfaatin keterlambatan bus tuk membeli roti di Masjid. Eh, pas saya keluar ternyata bus langsung kabur..telat dan tertinggalah saya sendiri kayak orang bego hehe..

Untungnya mas Dilah masih ada, dan juga ketemu dengan Pak Yusuf Abrar. Akhirnya saya ikut mobilnya mas Didin. Satu mobil dengan mas Slamet dan mas Dillah. dan pada akhirnya pas nyampe kampus (pukul 14.30), saya tertinggal bus yang awalnya akan mengantar kami keliling City. HIks..SO, finally i just go to Library and have some fun with internet…

Posted in Aussie

Kali Pertama di Negeri Kanguru

Akhirnya hari itu tiba juga. Saya take off dari Soekarno Hatta pukul 20.45 WIB (setelah seharian tidur di Musolla bandara..hehe..). Perjalanan Jakarta-Sydney memakan waktu kurang lebih 7 jam..huhu..capek bgt. Seatnya 51B. Disamping saya Bu Sally, orang Sunda yang jadi PR di Sydney. Everything runs well selama di pesawat.

Tiba di Sydney pukul 07.45 Waktu Sydney. Setelah itu ambil bagasi, pemeriksaan dsbnya. Nunggu sekitar 1 jam trus nyambung flight ke Canberra, saya take-off pukul 10.00 dan tiba di Canberra pukul 11.05 Waktu Canberra.

Dari pesawat, ada perbedaan yang sangat signifikan antara Sydney and Canberra. Sydney begitu padat dg gedung bertingkat dan perumahan penduduk yang rapih (ya iyalah..the busiest city in OZ,,hehe..) . Sementara Canberra is so quite city. Namanya juga Australia Capital City. Ya, kebanyakan negara maju membentuk kota khusu tuk pemerintahannya.Beda bgt ma Jakarta yang berpenduduk 10 juta jiwa. Di Canberra cuma 322.000 jiwa..hoho..berlipat2 je bedanya!!

Bulan February seharusnya masih Summer, tapi gak tahu ya, saya merasa ini sudah begitu dingin. Gak kebayang nantinya gimana pas dua musim berikutnya. So, i should prepare warm jacket.

Oh ya, dari bandara saya dijemput oleh Halley, dia senior student of UC dari jurusan graphic design. Terus saya diantar ke Rumah Atase Pendidikan RI, Pak Agus untuk menaruh suitcase. oh ya, saya bersama dg Emi, mahasiswa dari Okinawa, Jepang.

Setelah itu, tanpa istirahat, saya langsung ke University untuk enrollment dan short test. Alhamdulillah semuanya sukses. Dan hari ini juga (7 Feb), saya ketemu dg Mbk Melyanti, dia pegawai Diknas dan mendapat beasiswa S3 d UC dari Diknas. Dia baik bgt dan sangat helpful. Ternyata, dia membawa suaminya, mas Deni. Beliau dosen di salah satukampus swasta di Jakarta, sekaligus media planner di Pertamina Jakarta. GIla, mas Deni keren bgt, dia memulai karirnya dari sales di Majalah Keadilan, trus di Matari Advertising Agency, dan langsung ke Ogilvy..wah..wah..

Di hari pertama ini saya langsung mendapat Student Card dan buka bank account. wah, semuanya lancar bgt. betul-betul mudah. Padahal di saku saya cuma ada $30. Mau ngapain coba dg uang segitu. Padahal buat sekali makan aja bisa $7-10. Haha…mana beasiswa saya belum dtransfer oleh IDP Sydney…hiks..hiks..

Dan malam pertama disini, saya menginap d Rumah Pak Agus, sekamar dg Mas Andri. Beliau S2 d UC, dpt beasiswa dari ADS.