Posted in Diary

Bioskop Rakyat Murah Meriah

Setelah berpetualang di kota Solo beberapa waktu lalu dan merasakan salah satu hiburan rakyat di sana, Kamis lalu (9/10), saya dan dengan formasi yang sama, Dite, Widha, Sony, plus Wiwit mencoba merasakan hiburan rakyat lainnya di Jogja. Seharian mengunjungi Playen, Gunung Kidul (sekitar 1,5 jam dari Jogja) – lokasi di mana salah satu anggota Peace Generation menikah – kita langsung menuju Ambarukmo Plaza (mall teranyar di jogja).

Awalnya adalah menonton Laskar Pelangi untuk kali ketiga, tapi ternyata, di hari kesembilan lebaran itu tiket film garapan Riri Riza tersebut habis sebelum bahkan jam 10 pagi. Well, we then have nothing to do. Setelah ngobrol panjang nggak jelas di mall, akhirnya kita putuskan untuk makan sekedar di Mie Menteng di lower ground. Rencananya sih setelah gak dapat tiket, kita mau pulang langsung, tapi karena tiba-tiba saya bilang, “ini Latte lo!!” lalu yang lain bersepakat, “wa..wa..mau..mau…”

*Intermezo* -> Jadi latte adalah istilah yg kita pakai untuk menyebut makan-makan gratis yang dibiayai oleh komunitas. Sebenernya gak hanya sekedar makan gratis begitu saja, tapi ada hal yg dibincangkan terkait komunitas. Maka untuk “melegalkan” makan-makan itu, kita lalu berbincang tentang rencana kegiatan Peace Camp for Peace Generation yang saya ketuai. πŸ™‚

Setelah makan, temen2 cewek pada pulang duluan. Tinggallah saya, Dite, Sony, Widha, dan Wiwit yang masih belum tahu mau kemana kaki melangkah. Lalu ada yang nyeletuk, “eh, nonton di Permata yuk!” Dan respon saya seketika adalah, “#@%$#@%@#$^#^%&, what the hell!, ngapain?? di sana kan diputer film yang kayak gituan?” dan lalu tiba-tiba Wiwit bilang, “makanya kie, dicoba..kan kalo gak kayak gini, kita gak bakalan tau…sama halnya dengan fenomena Handoko yg kalian lihat di Solo kemaren. Dan tanpa mikir lagi, kita langsung menuju bioskop yang berlokasi di jalan Kusumanegara itu.

Satu jam sebelum film dimulai, kita habiskan dengan sekedar minum teh di angkringan, numpang pipis di pom bensin, dan sedikit bernarsis ria di depan kompleks Pakualaman. Selesai, kita kembali lagi ke bioskop tadi.

Suasana di dalam bisokop begitu pengap, remang, dan gerah. Jangankan AC, kipas angin pun tak ada. Screen-nya persis layar tancap dengan “gangguan” garis naik turun di layarnya. Tempat duduknya berupa tempat duduk zaman bapak ibu saya masih muda,,,keras sekali dan gak ada empuk-empuknya…hiks… Maklum, harga tiket cuma Rp 5000 euy πŸ™‚ . Dan di antara para penonton itu, kita tampak begitu mencolok sebagai rombongan mahasiswa tak tentu arah. Mungkin juga karena satu-satunya rombongan yang membawa tas.

Nah, hal yang paling menggelikan adalah di samping tiket masuk yang tanpa nomor bangku, poster-poster film yg dipajang ternyata menipu. Dari empat poster film tersebut, tiga poster merupakan poster film-film Indonesia yang sudah pernah “in” di bioskop-bioskop sekelas 21 ato Blitz, sementara satu poster lainnya adalah satu-satunya film yang nantinya akan diputar. Artinya ketiga poster film yg dipajang tadi hanyalah penghias belaka euy…gegegege…

Keanehan ini juga dapat diidentifikasi dari judul2 yang dipajang. Contohnya adalah: 1) Pulau Hantu, 2) Tentang Dia, 3) Hot Desire, 4) Mendadak Dangdut. Coba sodara-sodara perhatiin keempat judul tersebut, ada yang aneh??? Betul sekali…kok tiba-tiba judul film ketiga paling gimanaaaaa gt..belum lagi kalo liat gambar posternya…wew!!! Sudahlah tak perlu saya ceritakan bagaimana rupanya.

Dan betul sekali, film tersebut adalah film Hongkong produksi tahun 80-an yang menceritakan sosok pembunuh berdarah dingin yang dengan kejam membunuh korbannya setelah dipaksa melakukan hubungan intim. *can u imagine? πŸ™‚ *

Dan sampai akhir cerita, kita berlima tiba-tiba berkomentar sama, “tobatttttttttt.. Ora mutu blaaaaaaaaaaaaassss*

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

32 thoughts on “Bioskop Rakyat Murah Meriah

  1. “Dan sampai akhir cerita, kita berlima tiba-tiba berkomentar sama, β€œtobatttttttttt.. Ora mutu blaaaaaaaaaaaaassss*”

    hahahaha…pasti kecewa karena ternyata ga ada “adegan”nya to?? ngakuu!

  2. wah enak nonton film jaman sekarang di jogja…setelah ada amplaz…

    sebelum terbakar Empire dan regen, jogja punya 21. Setelah terbakar cumapunya Bioskop Mataram yang sudah usang..pernah nonton di situ..tikusnya banyak

  3. Klarifikasi dari salah satu peserta:
    “Judul film emang HOT gambar posternya apalagi??? Tapi kalo dilihat apa yang tayang, bwgggghhhhhh! Jujur, lebih HOT adegan panasnya film Holywood yang tayang di 21”

    Overall, kejadian malem itu pasti mengesankan. Esspecially me, in the day after, i had my sad momment ever in life ;'(

  4. @achoey sang khilaf
    wah..jgn buka aib mas suka nonton layar tancep..huehehe

    @Au’
    makanya klo gak salah dulu ada bioskop SAGA di Merdeka..ya gak sih?? trus juga ada bioskop Raja yg lokasinya persis depan rumah..jd inget film pertama yg ditonton waktu itu: Catatan Si Boy.. πŸ™‚
    @Bimas
    wah salah broooo….nape ente kagak ikut kemaren..wah ajib tuh..hahaha..
    @Wie
    iyalah wie..kan kudu tau level ketidak mutuannya samapi mana..hiiiii
    @permatamerahputih
    lol juga πŸ˜›
    @antinhueheueheue..
    @indahhaha…jgnkan film cak itu nda, film yg normal be lagi la pecak itu gelagat wong kito..gyaaaaaaaaaa
    @maskokokekekek juga :p
    @thevemomungkin jg ada tikusnya mas di sana kemrn..cuma kita gak care aja…udah fokus dg filmnya sih….
    @wiwit Prasetyonowah..sorry wit..sabar ya bro..pasti ada hikmah πŸ™‚ SEmangaT!!

  5. @fickry:
    Sori bro….masih tanggal muda,habis lebaran…jadi iman masih kuat. Pssst……besok ajak2 lagi ya… :p kekekeke

    @wiwiet:
    Sabar ya wit…siapa tau dengan kejadian itu malah bisa dapet gantinya yang lebih bagus lagi πŸ™‚

  6. sekadar info saja kie,
    bukan di jalan kusumanegara, tapi di jalan sultan agung
    tuh bioskop juga pernah dipake syuting film GIE
    perhatikan pintu masuk sebelah selatan penjual gudeg

    sapa tau ada yang minat mw ke sana setelah baca postinganmu
    menjajal ‘petualangan’ baru (bagi yang belum pernah sama sekali)

  7. liat bisokop permata, jadi inget ama film-film “kejayaan” jamab dulu yang dibintangi oleh “Diana Peng Tan”.. hwakakaakak..

    duh, kangen Gudeg Permata!

  8. I in addition to my friends appeared to be examining the great tips located on your web site then quickly I had a horrible feeling I never expressed respect to the site owner for those strategies. All of the boys are actually joyful to study all of them and already have in fact been loving them. Appreciation for being considerably kind as well as for making a choice on this form of fantastic issues most people are really needing to be informed on. My very own sincere regret for not expressing gratitude to you sooner.

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s