Posted in Diary, Press, Umum

Lagi, Artikel tentang Sampoerna

Screen Shot 2014-05-21 at 12.39.54 PMSORE itu notif Facebook yang masuk begitu kencang. Perkara pinjaman pendidikan Sampoerna yang tahun lalu sempat saya posting di sini ternyata kembali berulang. Namun kali ini sedikit berbeda, jika tahun lalu isu yang marak menyoal Akademi Siswa Bangsa Internasional (ASBI), artikel yang menyebar di online forum Kaskus kali ini mencoba menguliti USBI (Universitas Siswa Bangsa Internasional) yang baru diresmikan oleh Putera Sampoerna Foundation (PSF) tengah tahun lalu.

Hal ini menarik mengingat tulisan yang mulanya dimuat di kompasiana tersebut memiliki kemiripan dengan artikel tentang ASBI tahun lalu, tentunya dengan identitas yang berbeda. Parahnya, sebagian komentar yang lalu lalang di hot thread tersebut sangat destruktif. Terlebih beberapa komentar bernada negatif yang muncul tidak diimbangi dengan logika berpikir yang sehat.

Postingan ini sengaja saya buat bukan karena saya pernah bekerja di PSF. Bukan karena saya memiliki banyak teman yang masih bekerja di sana. Bukan. Lebih dari itu, tulisan ini saya buat sebagai bentuk dukungan saya terhadap apa yang diimpikan oleh PSF tentang pendidikan dan kualitas generasi muda Indonesia ke depan. Sekaligus sebagai bentuk keprihatinan saya atas masih banyaknya orang-orang pragmatis yang sering kali ingin menggapai sesuatu tanpa mau berkorban. Tanpa mau berjuang.

Coba teman-teman baca ulang lagi tulisan saya di sini. Pinjaman bantuan dana pendidikan yang diberikan merupakan salahsatu upaya untuk mewujudkan generasi dan pemimpin pemimpin di masa depan yang memiliki kualitas global. Bantuan ini menyentuh anak-anak berprestasi dari kalangan tidak mampu yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan yang berkualitas. Atau lebih tepatnya menyentuh mereka yang belum bisa dibantu pemerintah. Dan skema bantuan ini kelak dapat menjamin keberlangsungan sebuah program. Karena kelak anak-anak inilah yang dapat membantu anak-anak lainnya di masa yang akan datang. Begitu seterusnya dan begitu seterusnya. Dengan demikian akan semakin banyak anak-anak yang tersentuh. Semakin banyak anak-anak cerdas yang terbantu. Skema ini memungkinkan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat dilakukan oleh siapapun.

Belajar dari 10 tahun sebagai organisasi filantropi, pemberian beasiswa ternyata tidak begitu efektif bagi keberlangsugan sebuah program. Institusi tidak bisa selamanya mengandalkan dana dari korporasi maupun donasi individu. Selain itu yang menyedihkannya lagi, tidak semua penerima beasiswa yang dulu pernah merasakan nikmatnya pendidikan berkualitas mau berkontribusi. Dan bagaimana cara mengukur bentuk kontribusi tersebut? Apa bentuk konkrit yang cukup signifikan agar program yang telah membantu mereka terus berkesinambungan dan dapat menyentuh lebih banyak orang? Untuk itulah ide skema ini muncul, agar setiap anak dapat ikut terlibat dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia lainnya.

Yang menarik dari pinjaman pendidikan ini adalah peran serta Koperasi Siswa Bangsa (KSB) yang turut andil memberikan muatan keterampilan dan jaringan antaralumni. KSB menyelenggarakan berbagai training dan platform agar anak-anak siap meniti karir dan terjun di dunia kerja. KSB menjadi sarana lintas generasi yang dapat memfasilitasi kebutuhan anggota, mulai dari professional network, internship, dsbnya.  Jadi, begitu seorang calon anak menerima pinjaman bantuan dana pendidikan ini, ia tidak hanya dapat mengenyam pendidikan yang berkualitas, tetapi langsung terjun ke dalam ekosistem pendidikan Sampoerna secara holistik. Bisa dibayangkan jika semakin banyak anak-anak yang sukses nanti, maka semakin meningkat pula kualitas generasi-generasi muda Indonesia di masa yang akan datang.

Perihal artikel yang beredar tersebut, PSF juga sudah memberikan klarifikasi per 19 Mei lalu di website resmi mereka di sini. Jika ada hal yang masih ingin ditanyakan, ada baiknya langsung menghubungi langsung kontak yang tersedia di akhir tulisan.

Salam pendidikan dari Amsterdam!

 

Sumber: http://www.sampoernafoundation.org/?…al-18-mei-2014

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2…k.Ratusan.Juta

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2…k.Ratusan.Juta

 

 

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

One thought on “Lagi, Artikel tentang Sampoerna

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s