Posted in Komunikasi

Geisha: Membayangkan Jepang Lewat Bioskop

“Kunshi wa hitori o tsutsushimu.”

“Orang hebat selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri.”

~Unknown Author~

 

 

SAYA mengenal Jepang lewat film. Berbagai film produksi Jepang saya lahap seperti sarapan pagi. Mulai dari alur cerita, soundtrack, lokasi, hingga bintang filmnya. Bahkan tak jarang saya menghapal beberapa lagu Jepang. Bukan untuk menjadi ke-Jepang-Jepangan, tapi tak lebih menyalurkan minat menyanyi. Salah satu film yang menginspirasi saya tentang negeri Sakura itu adalah film Memoirs of Geisha.

Film garapan Rob Marshall dengan produser Steven Spielberg yang mengangkat novel dengan judul senada karya Arthur Golden tersebut memang sukses di pasaran. Di samping sinematografi yang memikat, pun didukung aktor dan aktris yang menawan. Sebut saja seperti Zi Yi Zhang, Michelle Yeoh, Gong Li, dan Ken Watabane. Namun, saya tidak akan membicarakan itu di sini. Tidak untuk merayaan kesuksesan duo itu: persetubuhan antara kapitalisme dan idelogi sebuah kebudayaan yang diraih lewat produksi film. Namun, saya akan membincang sebuah bangsa dan kebudayaannya. Sesuatu yang lebih agung dari sekadar itu. Yaitu tentang Jepang dan segenab karakter budayanya yang direpresentasikan melalui film Memoirs of Geisha.

 

 

 

Sedikit tentang Geisha

Awalnya Geisha adalah seorang pria yang bekerja untuk menghibur atau lebih tepatnya pelawak. Lalu pada tahun 1800-an, Geisha mulai banyak diperankan oleh seorang wanita yang disebut dengan Onna Geisha. Biasanya, Geisha kecil memulai pelatihan utuk menjadi seorang Geisha sejak usia yang sangat muda. Pada masa itu, ia membantu Geisha senior dan menemaninya melayani atau bekerja dengan kliennya. Pada saat menemani itulah ia belajar dengan seniornya bagaimana menjadi Geisha sejati. Mulai dari cara berjalan, menggunakan Kimono, menuangkan teh ke cangkir, sampai pilihan kata yang harus disampaikan untuk menghibur klien. Geisha pun dituntut untuk memiliki multitalent, seperti pandai bermain musik, menari, berbicara tentang banyak hal, dan lain-lain. Keterampilan inilah yang dijual oleh seorang Geisha.

Geisha dikatakan berhasil apabila telah memiliki seorang Danna atau pelindungnya. Semua kebutuhan hidupnya akan dibiayai oleh pelindungnya tersebut. Saat ini, hampir semua wanita muda yang ingin menjadi Geisha harus mengikuti sekolah Geisha. Di sana mereka dilatih berbagai keterampilan khas Geisha. Mereka belajar alat musik tradisional seperti Shamisen, Shakuhachi (bamboo flute), dan drum, sebaik mungkin. Mereka juga dituntut untuk bisa menyanyi lagu tradisional, menari tarian Jepang kalsik (tari kipas), upacara teh, keterampilan ikebana (keterampilan merangkai bunga), puisi, bahkan pengetahuan umum dan ilmiah.

Geisha modern masih tinggal di rumah Geisha yang dikenal dengan sebutan Okiya, sedangkan wilayahnya disebut Hanamachi. Tetapi kebanyakan Geisha modern lebih memilih tinggal di apartemen. Sedangkan dua daerah yang prestisius adalah Gion dn Pontocho yang keduanya berada di Kyoto. Pada tahun 1920-an, di Jepang, terdapat lebih dari 80.000 orang Geisha. Namun saat ini, jumlahnya menurun menjadi kurang dari 1.000 orang.

 

 

Memoirs of Geisha: Reflika Kebudayaan Jepang

Film merupakan media komunikasi yang memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan makna. Melalui film, berbagai pesan dapat disampaikan kepada audiens yang diinginkan. Kebudayaan, nilai-nilai sosial, adat-istiadat, teknologi, dan bahasa, dapat disampaikan secara holistik dan luruh. Proses penyampaian pesan yang dilakukan pun efektif karena melibatkan semua panca indra baik audio maupun visual laiknya medium televisi.

Menurut Mc Luhan (dalam Budi Irawanto, 20-21: 2005), televisi adalah medium “dingin” (cool) yang menyajikan citra (image) secara utuh. Ini mengarah pada partisipasi yang lebih besar secara sensoris. Proses komunikasi melalui video hanya mensyaratkan sedikit atau kontribusi yang tak terlampau aktif dari kapasitas penontonnya. Televisi menawarkan tantangan yang tak langsung atau pemahaman yang segera, dan otak yang sadar diundang oleh televisi untuk menggambarkan secara bebas dan menciptakan respon yang leluasa.

Demikian juga dengan film. Pesan yang disampaikan melalui film melibatkan banyak faktor dan unsur yang saling melengkapi. Mulai dari proses pra sampai pasca produksi. Proses kreatif dan riset yang panjang sudah barang tentu suatu kewajiban. Hal ini untuk menunjang kevalidan dan kesesuaian dengan realitas yang ada di dalam masyarakat. Proses kerja keras dan riset yang panjang itu tidak lain untuk mendukung terciptanya sebuah maha karya yang sempurna, dan pada titik ekonomis, akhirnya, memenuhi tuntutan pasar.

Adalah film Memoirs of A Geisha yang merupakan salah satu film berlatar belakang sejarah dan budaya. Menariknya, Geisha merupakan salah satu “produk” kebudayaan tradisional Jepang yang penuh dengan kemisteriusan tersendiri. Kehidupannya yang penuh rahasia dan tertutup memberikan kesan istimewa yang dilekatkan padanya. Lalu, bagaimana kehidupan Geisha tersebut direpresentasikan dalam film? Secara garis besar film tersebut menceritakan kondisi Jepang sekitar tahun 1930-an. Lebih lanjut lagi, Jepang menjadikan tradisi bukan sebuah hambatan, malah menjadi sebuah fasilitator untuk mencapai kesuksesan. Tradisi dan misteri kebudayaan Jepang dipelihara hingga kini, termasuk Geisha.

Geisha adalah salah satu aset budaya yang memiliki kompleksitas tersendiri. Tradisi yang dimiliki seorang Geisha adalah tradisi yang dijaga dan dirahasiakan secara turun temurun. Status sosial seorang Geisha menduduki posisi tersendiri dalam masyarakat Jepang. Bahkan mereka menduduki posisi teras dalam struktur sosial masyarakat Jepang.

Misteri tradisi dan status sosial Geisha menarik tatkala ditarik ke dalam sebuah media film. Apalagi mengingat adanya distorsi pemahaman dan kerancuan antara Geisha dan pelacur di kalangan masyarakat umum. Hal inilah yang kemudian menarik ketika status sosial tersebut divisualisasikan dalam film dengan tarikan plot yang romantis. Pilihan artistik dan bahasa visual menjadi penting tatkala hendak menggambarkan sebuah status sosial dan peran sosial dalam masyarakat. Apalagi posisi tersebut sulit untuk diekspoitasi secara umum.

 

Konstruksi Kebudayaan Jepang

Geisha merupakan salah satu bentuk filosofis dari jutaan kebudayaan Jepang yang unik dan berkarakter. Ciri khas inilah yang kemudian menjadi spirit masyarakatnya untuk membangun Jepang. Spirit tersebut menjai katalisator kebangkitan mereka menjadi macan Asia. Betapa canggih karakter tersebut sampai tidak lebih dari setengah abad Jepang berhasil membangun peradaban mereka yang kental unsur tradisi yang membudaya sejak ratusan tahun.

Geisha tak lebih dari ribuan subkultur di Jepang. Ia adalah salah satu produk kebudayaan yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap kondisi Jepang saat ini. Spirit yang ia bawa memberikan inspirasi etos kerja dan semangat rakyat Jepang. Negara industri berhasil disandangnya dalam waktu singkat setelah kekalahannya dengan Amerika pasca Perang Dunia II. Kemajuan yang ia capai tidak terlepas dari sikap bangsa yang ulet, tekun, dan disiplin. Selain itu, dalam menjalankan proses modernisasi, ia kerap menjaga proses tradisi yang sudah mengakar di negaranya selama beratus-ratus tahun.

Proses modernisasi di Jepang dilacak sejak Restorasi Meiji (awal abad XIX), ketika para samurai yang berpikiran maju menghendaki modernisasi Jepang. Tetapi kalau kita tarik ke belakang lagi, sebetulnya Restorasi Meiji juga bisa sukses ketika sudah melewati masa jengoku jidai (masa perang) zaman Tokugawa (sekitar abad XV-XVII). Setelah selesainya era Tokugawa yang penuh perang, Jepang mengalami masa damai selama 200 tahun. Dan itulah modal besar yang dimiliki Jepang untuk mendidik bangsanya.

Kebudayaan masyarakat Jepang yang ulet dan disiplin tersebut dapat dilihat dari kehidupan Geisha. Bagaimana seorang Maiko (istilah sebelum menjadi Geisha) belajar dan berlatih dengan Geisha seniornya. Memakai Kimono, berjalan dengan sandal yang tinggi, merelakan rambutnya berminggu-minggu tidak tersentuh air, dan bagaimana menjaga kebersihan, merupakan bagian dari ritual-ritual yang harus dilakukan oleh seorang Maiko sebelum menjadi Geisha yang sebenarnya. Tradisi dan kebudayaan tersebut kemudian dikonstruksikan dalam sebuah film mengingat film juga merupakan media untuk merekonstruksikan kebudayaan masyarakat.

“Geisha originated as skilled professional entertainers; originally most were male. While various ranks of professional courtesans provided sexual entertainment, geisha used their skills in traditional Japanese arts, music, dance, and storytelling. Town (machi) geisha worked freelance at parties outside the various pleasure quarters, while quarter (kuruwa) geisha entertained at parties within the pleasure quarters. As the artistic skills of high-ranking courtesans declined, the skills of the geisha, who were both male and female, became more in demand.”

 

Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak. Dalam bahasa Inggris Geisha dilafalkan geɪ ʃa (“gei-““may”). Di Kansai, istilah “geiko” dan geisha pemula “maiko” yang digunakan sejak Restorasi Meiji hanya digunakan di distrik Kyoto. Pengucapan gi ʃa (“gei-““key”) atau “gadis geisha” umum digunakan pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang dan mengandung konotasi negatif yaitu pelacuran. Di Tiongkok, kata yang digunakan adalah “yi ji,” yang pengucapannya mirip dengan “ji” dalam bahasa Mandarin yang berarti prostitusi.

Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka. Rumah-rumah geisha membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka. Semasa kanak-kanak, geisha seringkali bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai geisha pemula (maiko) selama masa pelatihan.

 

Bushido dan Geisha

Ada perbedaan besar antara Bushido dan Geisha. Di samping dimensinya yang berbeda, tampaknya kedua istilah ini memiliki bias gender. Bushido yang diidentikkan dengan samurai yang notabene adalah laki-laki. Sementara Geisha melulu diasosiasikan dengan perempuan.

Bushido adalah etika moral bagi kaum samurai yang berasal dari zaman Kamakura (1185-1333) dan terus mengalami perkembangan pada zaman Edo (1603-1867). Aspek yang diajarkan adalah kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dll. Sementara aspek yang paling dominan dalam falsafah ini adalah aspek spiritual.

Jika melihat aspek yang diajarkan di dalam bushido, setidaknya Geisha memiliki beberapa kesamaan. Misalnya pada aspek tata-krama, kehormatan, kesetiaan, dan kemurnian. Seorang Geisha sejati selalu memegang janji terhadap Dannanya. Ia berpegang teguh untuk menjaga kesetiaannya. Selain itu, menjaga tata krama dan kehormatan ketika mereka bekerja merupakan sebuah keharusan dari profesinya itu.

 

Geisha dan Maiko: Sempai-kohai

Tatanan sosial di Jepang juga mengenal adanya hubungan masyarakat vertikal yaitu hubungan sempai-kohai (senior-junior). Biasanya seorang senior dipanggil sempai oleh para junior, sedangkan senior memanggil para juniornya dengan namanya saja. Seorang sempai bertanggungjawab untuk mengayomi para kohai sehingga hubungan mereka mirip hubungan kakak-adik.

Pun demikian dengan Geisha. Biasanya, seorang Geisha memiliki Maiko yaitu semacam adik tingkat di Okiya. Maiko memperoleh pelajaran dan pengalaman berharga dari seorang Geisha seniornya. Kemanapun Geisha bekerja, biasanya Maiko selalu diajak untuk melihat langsung bagaimana Geisha melayani para tamunya dengan berbagai kemampuan dan keterampilan menjamu. Di sanalah ia melihat secara langsung seniornya bekerja dan bahkan mempraktikkannya.

 

Kunshi wa hitori o tsutsushimu” dan Budaya Indonesia

Membaca budaya Jepang lewat film mungkin menarik. Di samping disuguhi plot dramatis, kita juga dapat menikmati alamnya yang modern sekaligus tradisional itu. Mulai dari film klasik hingga film ber-settting Jepang modern. Ada banyak pelajaran yang dapat diambil. Termasuk film Memoirs of Geisha ini.

Membicaraan Geisha, saya teringat dengan pepatah lama Jepang yang berbunyi “Kunshi wa hitori o tsutsushimu“, yang artinya “orang hebat selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri.” Walaupun tidak ada korelasi positif dengan Geisha, setidaknya saya sedikit tergelitik sekaligus malu. Mereka berusaha untuk menjadi lebih baik dan menjadi sempurna hanya untuk kehormatan mereka sendiri. Bukan untuk dilihat oleh orang lain.

Mereka malu dengan dirinya sendiri apabila gagal dalam mendapatkan sesuatu. Mereka malu bukan karena makian, cacian, ataupun kritik saran orang lain, tetapi malu karena tidak berhasil menjadi manusia seutuhnya yang mampu menjaga moral mereka sendiri.

Mengandaikan Indonesia seperti Jepang, saya hanya bisa berdoa, semoga perubahan itu tidak diawali dengan munculnya Geisha versi Indonesia. Salam!

 

 

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

22 thoughts on “Geisha: Membayangkan Jepang Lewat Bioskop

  1. sebuah kebudayaan akan menarik dan membuat kita merasa bangga seandainya kita bisa menghargai dan melestarikan budaya tersebut . sebuah kehidupan yang penuh adab di masa lalu yang dapat kita saksikan lewat peninggalan yang tersisa. budaya jepang khususnya merupakan sebuah peraturan yang sangat disiplin, anda bisa menyaksikan dalam film, novel dan literature lain yang mengangkat tentang budaya jepang. kita bisa melihat sampai sekarang etos dan semangt juang/ kerja orang jepang yang sesungguhnya patut kita berikan acungan jempol. dari sini kita bisa melihat kebudayaan seperti apa yang melatar belakangi masyarakat disana. LUAR BIASA!!!!!

  2. salut!!saya juga prnh nontn film memoirs of geisha. tapi menurut saya kurang begitu menarik dibandingkan dengan bukunya.alur yang diceritakan pada film terkesan berantakan, kurang terlihat nilai2 kebudayaan disana,
    dan mengenai geisha itu sendiri sangat kuat pada kebudayaan jepang

  3. geisha ya?!
    mmm,saya pernah nonton pertunjukannya secara langsung tapi yang tampil bukan geisha asli,mereka hanyalah pendu2k sekitar yang melestarikan budaya “geisha”, sedangkan gisha itu sendiri sudah lanjut usia (tanpa ada penerusnya).tapi terus terang,dalam hal mempertahankan kebudayaan penduduk jepang, saya salut bgt!!sampai gaya/style org sana banyak di tiru/dikonsumsi org di luar jepang salah satunya di indonesia.

  4. membacamu, saya melihat hidup yang mengalir.
    menarik sekali mengamati minatmu yang beragam.
    Sudah berapa ratus buku kau telan, wahai pemikir meditatif?

    🙂

  5. Hajimemashite…

    Geisha..misteri..keindahan..ketamakan..duka..kesendirian..kehilangan..cinta..
    Lukisan indah atau buram Jepang??
    Who knows..

    Jepang sampai sekarang adalah sebuah buku yang tak lrapuh mesti dibuka tiap lembar halamannya oleh petualang dunia

  6. maaf baru bls.
    posisi teras maksudnya untuk mengiaskan posisi terdepan ato terhormat di sebuat strata masyarakat tertentu. misalnya bangsawan ato keturunan raja, ato pejabat dll.

    paragraf terkahir sih intinya ketika kita ingin mengubah sesuatu, peubahan itu haris dikonversi dan dikontekskan dg kondisi kekinian dan kedisinian..gmn kondisi sosial kita, budaya kita, dll…gitu Dhi…sukses ya.

  7. Jepang merupakan negara yang maju akan badaya dan masyarakatnya. Maka dari itu kita harus bisa menirukan usaha mereka dalam memajukan bangsanya, sekian terima kasih

  8. gue kadang bingung ma culture indonesiana…
    qt amat bangga ma kebudayaan jepang, but kayaknya gak ada yang bangga ma budaya qt ndiri dech….
    trus gimana dunk?/!
    klo dipikir,,,apa yang bisa dibanggakan oleh kita, generasi penerus bangsa Indonesia ya???!!
    Let’s get the answer……

  9. Really nice article!!
    Bole di copy gak?? untuk referensi ajah tentang budaya jepang. Kebetulan aku lagi belajar budaya jepang.
    Udah baca memoir of Geisha, Keren!!! Filmnya lumayan!! Thanks before!!

  10. Q ska dng pengetahuan nie…
    Sngat keren n mnambah ilmu q…
    q sngat snang dng Jepang n smua budaya’a termasuk Geisha…
    Kalau bsa Memoirs of Geisha di tanyangkan di Tv2 Indonesia lagi…
    Karna bsa mmberi Ilmu yang sangat berguna…
    Hehehe

  11. kita liat bekas jajahan jepang di asia korea cina sekarang menjadi negara maju semua sayang kita dijajah jepang cuma 3 1/2 thn

  12. ohayou gozaimasu!!!!

    hmmm. jepang… menurutku adalh suatu bangsa yang sangat menghargai akan sejarah,,dan menjadikan sejarah sebg suatu jembatan untuk meraih suatu kesuksesan…. yang aq salut 5 jpg 2 orang2 sn punya semangat yang tinggi, tekad yang bulat dan tidak pernah putus asa………!!!!!!!
    n pastinya suka 5 komiknya yg hmm………imajinatif……. seprti” naruto n eyeshield21 n dkk……….hee…
    Arigato gozaimasu!!!!!!!!111

  13. kalo saya pribadi lebih seneng ama budaya indonesia yang beraneka ragam, lebih kaya budaya indonesia. aneh buat orang-orang yang ngefans sama jepang, emank udah pada hapal yah budaya indonesia yang seabreg?

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s