Posted in Umum

Menggugat Tuhan: Risalah Kekerdilan Hamba di Tengah Bencana

Sabtu, 27 Mei 2006

PAGI itu seharusnya saya bangun lebih awal.

Seharusnya pagi itu saya bangun lebih awal.

Saya seharusnya bangun lebih awal pagi itu.

~ Apologycal Words ~

DENGAN kalimat apalagi saya harus mengawali tulisan ini. Tidak ada ide lagi. Stagnasi menghambat jari saya untuk menari di atas tuts-tuts komputer. Saya kemudian mengingat-ingat kembali. Menerka-nerka, apa yang pernah saya alami. Ya, setidaknya tiga baris di atas merupakan tiga kalimat terakhir yang dengan keras saya kenang, tepat ketika bencana enam bulan lalu melanda Yogyakarta. Walaupun terkesan memaksa dengan mengutak-atik kata, toh tetap saja saya harus melukiskan kenangan itu di sini. Di samping deadline yang menunggu, juga tawaran hadiah yang menggoda naluri ke-mahasiswa-an saya.

Baiklah, tulisan ini akan berkisah tentang pengalaman saya ketika bencana itu bertandang. Kali ini saya akan mendedah pengalaman saya, bagaimana saya di sana, apa yang saya rasakan, siapa saja yang bersama saya, apa yang saya pikirkan, dan apa yang saya lakukan ketika itu. Mungkin juga bagaimana- waktu itu, mimik wajah saya, gestur tubuh, serta ekspresi-ekspresi saya. Sedihkah, panik, tertawa, heran, takut, atau apapun. Dan terakhir, ucapan apa yang keluar dari mulut saya ketika segenap kota Pelajar ini bergetar, nama Tuhankah? Jangan khawatir, ini bukan auto-biografi saya. Saya beri garansi Anda tidak akan muak karenanya. Baiklah, saya akan menderetkannya satu per satu melalui esai ini untuk Anda. Semoga menginspirasi.

Tuhan Bangunkan Saya atau ”Tuhan, bangunkan Saya!”

SEPERTI yang saya tulis di awal tulisan ini, saya bangun terlambat, atau dengan kalimat yang lebih sederhana, saya kesiangan. Subuh pun telat. Gempa dengan kekuatan 6,5 skala Richter itu membangunkan sekaligus mengagetkan saya. Sekira pukul enam lebih beberapa menit, tubuh saya terlempar. Mata pun terjaga, naluri kemanusiaan saya diketuk sembari bangkit ke luar kamar. Butuh cukup waktu untuk keluar dengan kondisi seperti itu. Nyawa terasa belum sempurna bersetubuh dengan jasad. Belum lagi jika mengingat kamar saya yang terletak di lantai dua. Dengan dada telanjang, saya beserta teman-teman yang lainnya berkumpul di halaman depan seraya mengira, ”Jangan-jangan, Merapi meletus!”.

Selang beberapa menit kemudian, goncangan kecil mengulang. Siaga? Tentu saja, jangan-jangan ada gempa susulan. Namun, sesaat setelah itu, keadan normal kembali, dengan dalih, ”ah, paling-paling juga Merapi, letaknya jauh dari kota”. Aktivitas pun kembali lagi, saya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa mandi, saya bersiap untuk melaksanakan ritual subuh yang terlambat itu.

Di kamar sekira tiga kali tiga meter itu saya sholat tanpa konsentrasi sempurna. Tentu saja, goncangan dahsyat itu membuat kekhawatiran saya berada pada puncaknya. Pikiran pun bercabang-cabang ketika sujud dan ruku. Mungkinkah goncangan ini terulang (lagi)? Sementara saya masih di dalam kotak kecil ini? Saya hanya bisa berdoa dengan setengah hati. Semacam ada benturan antara rasionalitas dan ritual transendental terhadap-Nya. Namun, satu hal yang patut saya syukuri, saya terbangun, atau lebih tepatnya dibangunkan. Setidaknya saya tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Terimakasih Tuhan!

Ketakutan Massal

SETELAH sholat keadaan kembali normal. Saya pun segera pergi ke kampus untuk mengikuti sebuah seminar nasional. Kebetulan saya menjadi salah satu panitia di sana. Dengan menunggangi sepeda balap saya telusuri jalan-jalan. Keadaan pun masih dalam keadaan normal. Ratusan kendaraan lalu lalang berkeliaran. Namun memang, ada bertumpuk-tumpuk orang di pinggir jalan. Sekedar untuk bercerita pengalaman mereka tadi pagi atau hanya untuk melihat Sang Merapi yang dijadikan tersangka itu.

Ketika tiba di kampus, saya termasuk panitia yang tiba lebih awal. Kemudian saya mengecek ruangan yang akan dijadikan tempat kegiatan. Terkunci memang. Sementara petugas kampus pun belum datang. Pikiran pun Bermacam-macam. Jangan-jangan backdrop dan spanduk yang terpajang semalam hancur berantakan.

Saya bergegas menuruni tangga belakang. Menyusuri koridor depan dan berharap teman-teman lain segera datang. Sekira setengah jam kemudian, semua panitia berkumpul di halaman depan kampus. Kami pun cemas, khawatir, sekaligus takut. Berbagai skenario kami rancang untuk menghadapi kemungkinan. Apakah seminar ini akan berlanjut? Bagaimana dengan pembicara? Apakah para undangan akan datang? Bagimana dengan konsumsi yang telah dipesan? Lalu, bagaiaman keadaan ruangan seminar tadi? Ah, kami galau sekaligus bimbang. Satu jam lebih kami berdiskusi. Terakhir, muncul keputusan untuk menunda acara ini sampai batas waktu yang belum ditentukan. Di samping pembicara yang membatalkan, juga ketakutan terhadap sepinya acara dan tidak kondusifnya tempat kegiatan.

Namun, ternyata, tidak sampai di situ. Raungan sirine memekaki telinga kami. Konvoi kendaraan lalu lalang berantakan di jalan Kaliurang. Hanya satu arah: ke utara. Ada apa ini? Kontan kami semua kaget sekaligus panik. Apa yang terjadi sebetulnya? Mobil ambulans berkali-kali melintasi kampus kami. Rombongan orang-orang turun ke jalan. Ada yang berlarian, naik sepeda, mobil, motor, bahkan berjalan kaki. Sekali lagi, hanya satu arah: ke utara. Suara klakson yang saling bertautan, bisingnya suara kendaraan dan gumpalan asap yang menyesakkan semakin berkontribusi meningkatkan adrenalin kami. Tendon-tendon pun lemas.

Lalu tiba-tiba melintas seorang ibu setengah baya dan anaknya dengan mimik muka yang semakin mencemaskan. ”Banyu, banyu, banyu laut mungga mas, enten tsunami! Saiki wis nang Malioboro!!”. ”What the hell!” Apa-apaan ini?! Kami hanya bisa mengumpat sembari cemas ketakutan. Semua anak-anak lari tunggang langgang. Masing-masig meyelematkan diri dan bergabung dalam deretan manusia yang menuju utara…arghh….

Mana mungkin ini bisa terjadi. Sangat tidak masuk akal. Mana mungkin air laut mencapai kota Yogyakarta. Ada puluhan kilometer yang perlu ditempuh untuk menggapainya. Perlu membenamkan Bantul dulu baru Jogja. Batinku memberontak. Kepanikan masal macam apa ini?!

Namun, tanpa disadari, bergerak di alam bawah sadar saya, kaki pun turut bergerak. Sepeda ramping itu saya kayuh menuju utara. Dengan menjejalkan diri di antara ribuan massa saya memperjuangkan hidup saya, nyawa saya, napas saya, dan harapan-harapan saya, sebelum ditenggelamkan tsunami itu. Saya menjadi satu dari ribuan orang di sana. Menjadi satu dengan deretan manusia-manusia serakah. Tak peduli siapa anda, posisi apa yang anda jabat saat ini, pejabat pemerintahankah, pegawai dengan gaji jutaan, miskin atau kaya, tukang becak atau direktur becak, semuanya bergegas mencari keselamatan. Bersatu padu memperebutkan predikat ”korban yang selamat” di atas ketakutan masal yang melarat-larat.

Tsunami: Napas Intelektualitas yang Tersengal

SUASANA masih begitu kacau pagi itu. Klakson-klakson kendaraan masih saling bertautan. Kemacetan masih menjadi pemandangan dominan jalan Kaliurang. Tak peduli mobilnya bergesekan dengan motor di depan, tak peduli kakinya terkena knalpot motor sebelah, semuanya seakan terhipnotis melaju ke utara dengan gigihnya. Tergambar sekali betapa egoisnya manusia. Jangankan untuk memikirkan teman, keluarga, atau harta, memikirkan baju yang melekat di badan saja sudah cukup luar biasa menguji tingkat kesadaran saya. Apalagi jika bersih keras memikirkan logika tsunami dan bagaimana mekanismenya. Ah, teralu lama dan bertele-tele. Sementara naluri biologis saya untuk bertahan hidup melumpuhkan kinerja otak kiri.

Celakanya, kondisi itu juga diamini oleh ribuan massa yang saling berjejalan itu.. Parahnya, mahasiswa yang notabene memiliki tingkat pengetahuan dan rasionalitas yang tinggi, pun turut hanyut dalam bauran itu. Tak ada lagi peran sosial, tak ada lagi benturan kepentingan. Logika berpikir sedemikian lumpuhnya menyerang. Teman saya, misalnya. Anto, mahasiswa Geografi tingkat tiga, bahkan telah kehilangan akal sehatnya. Tingkat intelektualitasnya tentang centang perenang Geografis seakan luluh berantakan dikalahkan panik yang seakan memburamkan antara maya dan nyata. Tingkat rasionalitas tidak berlaku dalam hal ini.

Menggugat Tuhan: Refleksi Kekerdilan Manusia

SAYA jadi bingung apakah saya harus berterimakasih atau bersedih dengan adanya gempa. Di satu sisi, saya selamat karena saya tidak berdomisili di pusat gempa di daerah selatan Yogyakarta. Namun di sisi lain, tidak sedikit juga teman saya yang menjadi korban. Mungkin saya harus melakukannya sekaligus. Sedih sekaligus senang. Walaupun saya ragu untuk mendefinisikan keduanya karena saya bukan mereka, para korban itu.

Mengingat (kembali) apa yang saya ceritakan di atas, betapa saya telah menelanjangi diri sendiri. Tentang naluri kemanusiaan saya, tentang tingkat intelektualitas saya yang menyedihkan, atau tentang ketidakberdayaan saya. Saya pun tidak akan menutup diri untuk mengakui itu. Betapa tidak berartinya nilai kemanusiaan saya ketika berhadapan dengan kekuatan-Nya. Alih-alih bersikap sombong, untuk sekedar bernapas saja sulit.

Mungkin inilah potret kecil kiamat shugro atau saya lebih suka menyebutnya thriller kiamat kubro. Semua manusia tidak berdaya di hadapan-Nya. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Harta benda, kekuatan fisik, kecerdasan emosional, ataupun intelektualitas kita sebagai kaum terpelajar, seakan tidak begitu sempurna menjelaskannya. Lalu pertanyaannya, untuk apa semua anugerah berpikir serta nikmat kemanusiaan yang kita miliki begitu tidak berdaya ketika menghadap bencananya?

Semua ini tak lain adalah skenarionya yang luar biasa. Sang Sutradara tidak serta merta membuat plot cerita yang datar-datar saja. Harus ada konflik di sana. Tinggal bagaimana aktornya, kita, sebagai manusia, mampu memanaj itu dengan baik dan apik. Ini bukan sebuah apologi atas ketidakberdayaan manusia, tapi ini memang kodrat kita sebagai hamba-Nya. Jika tidak sadar sekarang, kapan lagi, karena kita manusia biasa yang hanya bisa berusaha. Dan setidaknya kita masih punya tuhan. Itu saja. []

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

One thought on “Menggugat Tuhan: Risalah Kekerdilan Hamba di Tengah Bencana

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s