Posted in Diary, Umum

Sudah Yakin dengan Kampus Pilihan?

ImageSELEKSI Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri telah usai. Ada yang tersenyum  lega, namun ada juga yang menjemput duka lara. Kampus-kampus swasta pun kini mendapat giliran menjemput calon mahasiswa barunya. Hal ini tentu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendulang pundi pundi rupiah.

Di salah satu milis blogger yang saya ikuti, seorang teman sharing mengenai concernnya atas pilihan yag dilakukan adiknya yang kebetulan diterima di dua perguruan tinggi. Pasalnya pilihan tersebut cukup membingungkan teman saya itu: UGM atau STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik). Sebagai salah satu alumni UGM, tentu jemari saya gatal untuk berkomentar.

Mengenai pilihan antara kuliah di kampus kedinasan (STIS) dan kampus umum (UGM) membuat saya tidak bisa diam begitu saja. Di samping dulu sering diundang berbagi di depan mahasiswa-mahasiswa baru, hal ini juga terkait pengalaman pribadi saya ketika pertama kali memutuskan hendak berkuliah di mana.

Mari kita kembali ke tahun 2004 …

Dulu, saya juga bercita-cita ingin menjadi salah satu mahasiswa kampus kedinasan STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Selain memang waktu itu kondisi keuangan keluarga tidak memungkinkan saya  melanjutkan kuliah, STAN menjanjikan “kehidupan pasca kampus” yang lebih jelas serta tidak memungut biaya.

Namun, sebelum sempat mengikuti ujiannya, alhamdulillah saya diterima di jurusan ilmu komunikasi UGM melalui jalur beasiswa. Nah, berhubung kepastian diterima di STAN juga belum ada, maka kesempatan berkuliah gratis di UGM pun tidak saya abaikan begitu saja!

Balik lagi ke topik awal. Saya sendiri memang belum pernah merasakan kuliah di sekolah kedinasan. Namun dari beberapa cerita teman yang berkuliah di sana, saya kemudian merasa bersyukur menjadikan UGM sebagai pilihan. Mengapa? Selama berkuliah empat tahun di UGM, saya melihat banyak kesempatan dari berbagai macam beasiswa dan program pertukaran pelajar, hingga event-event internasional. Interaksi antarmahasiswa, antar mahasiswa dengan mahasiswa asing serta iklim akademik yang kompetitif membuat mahasiswa menjadi lebih giat belajar dan aktif.

Apalagi jika bercerita tentang unit kegiatan mahasiswa. Setidaknya ada lebih dari 50 unit kegiatan mahasiswa yang menawarkan kegilaan masing-masing: soft ball, berkuda, silat, selam, teater, renang, pramuka, gamelan, yudo, dll. Pusat studi juga tumbuh berkembang di kampus (konon) kerakyatan ini. Dan partisipasi aktif berorganisasi inilah yang menghantarkan saya mendapat scholarship di University of Canberra, Australia.

Dan hal lain yang juga tak kalah penting adalah bagaimana kampus non kedinasan ini secara tidak langsung mendidik mental mahasiswanya untuk out of comfort zone. Berbeda dengan kampus kedinasan, ketidakjelasan masa depan pasca kampus justru membuat kita harus lebih siap dan melecut diri agar lebih baik. Aktif di fakultas, bersungguh-sungguh di kelas, dan terlibat di belasan Unit Kegiatan Mahasiswa adalah salah satu cara mengembangkan jaringan dan membangun kepercayaan sebagai bagian dari investasi masa depan.

Lebih jauh dari pada itu, di kampus semacam inilah justru seseorang dapat belajar mengenal hidup  bermasyarakat melalui ragam keilmuan yang ditawarkan. Apalagi UGM tentu dapat menarik minat banyak orang untuk belajar, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Kita dapat berinteraksi dengan mahasiswa dari fakultas Kedokteran, Teknik, Filsafat, Ekonomi, Pertanian, Fisipol, Psikologi dsbnya yang juga memiliki keragaman latar belakang budaya.

In short, pemahaman kita akan keberagaman perspektif dalam memandang persoalan pun akan jauh lebih kaya. Kelak, kita juga akan lebih mudah mengenal dan mengidentifikasi karakter masing masing profesi di dunia kerja. Jika dibandingkan dengan kampus kedinasan yang cenderung bersifat homogen (karakternya), berkuliah di kampus umum tentu memberikan nilai lebih dalam mendidik seseorang untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga secara sosial.

Again and again, sekelumit sharing saya ini tentu tidak bisa bisa digeneralisir begitu saja. Toh juga ada sebagian mahasiswa yang gagal memanfaatkan kekondusifan iklim sebuah kampus sebesar UGM. Jadi semuanya akan kembali pada pilihan kita dan bagaimana kita memanfaatkan pilihan tersebut sebaik baiknya.

Selamat memilih adik adik calon mahasiswa!

Sumber foto di sini.

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

16 thoughts on “Sudah Yakin dengan Kampus Pilihan?

  1. saya dulu malah sama sekali ga kepikiran buat masuk sekolah kedinasan. PTN biasa aja. lha kok nyangkutnya jadi pegawai negeri juga. setelah itu sekolah lagi selain karena memang sudah tertarik sejak dipromoin temen yang lebih dulu sekolah di situ, juga karena jurusan ini yang memungkinkan dengan kesempatan beasiswa dan kesesuaian bidang kerja. ternyata pilihan saya tepat. buat saya kuliah itu justru yang penting proses belajarnya. are you gonna enjoy it? kalau iya, ya jalanin. kalau nggak, ya cari lain. 😉

  2. untung saya kuliah di short kampus, hanya ada 5 tahun, setelah itu kampusnya tutup, jadi secara tdk langsung saya tdk perlu lagi sering2 sebar2 CV lamaran kerja..

    *yay asik*

    *murung dipojokan*

  3. Gak pernah kepikiran sekolah di sekolah kedinasan, mungkin karena pengaruh keluarga juga gak ada yang sekolah di situ 😆
    Bokap Nyokap UGM, jadilah daku berasa mantap waktu diterima UGM hihi..

  4. kembali lagi ke orangnya kalo menurut saya. Jiwa nya pengen kemana ? percuma juga kalo kuliah di universitas dan fakultas favorit kalo jiwanya ngga disana..

  5. kalo aku masih bingung kak.., ibu nyuruh ke STAN krn ktnya udh dijamin dpet kerjaan dan kan ga ad biaya buat kuliahnya. tp aku dri dulu pgnnya ke UGM kak, cita2’q dulu dokter,, tp smnjak ad sran dri ibu aku jadi bingung antara STAN sm UGM. enaknya gimna ni kak, saran dong

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s