Posted in Resensi

Cengkarut Perfilman Tanah Air

 

Landskap perfilman Indonesia ibarat belantara luas yang dipenuhi belukar persoalan serta onak masalah. Memasuki landskap itu tanpa menggenggam secarik peta niscaya hanya akan menuai kebingunan atau malahan bisa tersesat ke wilayah tak bertuan.

Perfilman Indonesia, seperti yang pernah diungkapkan mendiang Asrul Sani-tokoh perfilman nasional, terkenal karena keburukan-keburukannya. Berbagai macam persoalan dari penggalian tema, pendanaan, pendistribusian, hingga peraturan tentang perfilman merupakan rentetan persoalan rumit yang berujung pada stigma negatif. Maka untuk mengetahui akar persoalannya perlu dilakukan pemetaan persoalan sebagai masukan dan saran untuk pengambilan kebijakan di masa yang akan datang.

Buku “Menguak Peta Perfilman Indonesia” merupakan salah satu langkah strategis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang persoalan yang menggerogoti dunia perfilman tanah air. Buku ini merupakan pemetaan tahap kedua setelah sebelumnya telah dilakukan pemetaan tahap pertama pada Desember 2003. Namun, pemetaan tahap pertama hanya berupa langkah “pengidentifikasian” persoalan atau hanya pada tataran permukaannya saja sehingga perlu dikaji lebih mendalam pada pemetaan tahap kedua dalam buku ini.

Pemetaan yang dilakukan pada tahap kedua ini merupakan pendalaman dari persoalan yang mengitari perfilman Indonesia. Persoalan yang dihadapi ternyata multi dimensional dan saling terkait sehingga dalam penjelasannya, pemetaan ini membatasi bahasannya pada persoalan perfilman mulai dekade 1990-an hingga sekarang dan hanya mengkaji film cerita yang diputar di bioskop. Cakupan peta persoalan dipaparkan dengan mendahulukan Persoalan Produksi lalu dilanjutkan pada Persoalan Kreativitas dan Sensor, Persoalan Distribusi Film, Persoalan Sumber Daya Manusia, Persoalan Apresiasi dan Festival, serta Persoalan Arsip dan Dokumentasi Film. Keenam peta persoalan ini dipaparkan secara mendalam, runut, dan saling berkaitan.

Persoalan yang diangkat dalam buku ini memang sudah banyak dibahas walaupun belum begitu mendalam seperti yang ditulis oleh Garin Nugroho (“Krisis sebagai Momentum Kelahiran”, Kompas, Agustus, 1991 dan “Film Indonesia, Antara Pertumbuhan dan Kecemasan”, Tempo, Mei 1993). Sudwikatmono juga pernah menulis buku “Sinepleks dan Industri Film Indonesia dalam Layar Perak” terbitan Gramedia tahun 1992.

Pengkajian persoalan perfilman yang mendalam dipaparkan dalam bentuk susunan rangkaian historis perkembangan perfilman yang sistematis sehingga membuktikan bahwa metode kualitatif yang dipakai sebagai landasan karya ini dapat diterapkan dengan baik. Fakta dan data yang dituangkan dalam buku ini menjadi menarik tatkala dijelaskan secara gamblang dalam bentuk uraian., data, dan tabel di tiap babnya. Selain itu, latar belakang penulis yang merupakan dosen di bidang yang berkaitan dengan permasalahan ini menjadi kekuatan dan nilai tersendiri buku ini.

Namun, persoalan yang dibahas dalam buku ini memang belum sepenuhnya menjawab betapa kompleksnya persoalan yang dihadapi. Misalnya pada persoalan penonton film yang hanya disinggung sedikit dalam Persoalan Festival dan Apresiasi. Padahal kenyataanya penonton film kini tak lagi hanya sekedar penonton pasif tetapi dapat memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pefilman nasional.

Selain persoalan penonton film, perkembangan film dokumenter dan film independen yang dalam beberapa tahun belakangan mulai berkembang pesat juga tidak disinggung dalam buku ini. Hal ini mungkin dikarenakan tidak adanya lagi arsip dan data yang valid tentang jumlah dan pendistribusian film-film tersebut mengingat Departemen Penerangan yang ada pada zaman Orde Baru sudah tidak ada. Persoalan selanjutnya yang tidak begitu tersentuh adalah mengenai posisi dan peran organisasi perfilman yang sebagian besar juga merupakan bentukan dari pemerintah Orde baru.

Secara garis besar buku ini seakan-akan memberikan kritik bagi pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari rekomendasi yang ditawarkan pada bagian penutup seperti masalah transparansi, membentuk badan, menetapkan pajak, sensor, distribusi, pertanggungjawaban terhadap pendidikan yang minim, apresiasi dan pengarsipan yang kesemuanya dianggap tanggung jawab pemerintah. Selain itu, kelemahan buku ini juga terdapat pada tampilannya yang terkesan kaku karena banyaknya tabel-tabel. Namun, terlepas dari pada itu, buku ini sangat bagus dibaca oleh pejabat pemerintah terkait, insan perfilman, dan masyarakat umum.

 

 

Judul Buku : Menguak Peta Perfilman Indonesia

Penyunting : Budi Irawanto

Penulis : Novi Kurnia, Budi Irawanto, Rahayu

Penerbit : Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI

Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIPOL, Universitas Gadjah Mada

Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta

Cetakan : Pertama, 2004

Tebal : 189 halaman, i-xii; daftar pustaka, indeks, 14,5 x 21 cm

ISBN 979-3723-44-0

Harga : Rp 20.000,00

 

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s