Posted in Resensi

Refleksi Rasial dan Marjinalitas di Australia

 

AUSTRALIA dikenal dengan negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme dan kebebasan. Negara multikultural ini sangat menghormati sekali rakyatnya untuk berekspresi dan berpendapat. Namun dalam beberapa kasus, nyatanya, hal tersebut tidak sepenuhnya dijalankan oleh negara ini. Terbukti dari masih banyaknya kasus rasial seperti konflik antara warga kulit hitam dan kulit putih serta antara suku aborigin dan kaum pendatang. Termasuk di dalamnya komunitas kaum urban dan antikemapanan, seperti kaum Skinhead, yang diceritakan dalam film dokumenter Romper Stomper yang dibintangi oleh Russel Crowe.

Kaum Skinhead yang bercirikan kepala plontos ini kerap hidup di sudut kota-kota besar sebagai pengejawantahanan ideologi yang mereka usung. Ideologi tersebut yaitu ideologi antikemapanan dengan tidak mengapresiasikan nilai-nilai normatif yang secara wajar ada dalam kehidupan masyarakat normal. Lagi-lagi, kaum ini disebut sebagai kaum marjinal karena norma atau nilai yang berlaku di antara anggotanya tidak sesuai dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat pada umumnya.

Untuk mengekspresikan nilai-nilai tersebut, mereka menggunakan fashion dan aksesoris, serta gaya rambut yang keluar dari mainstream. Para pria dengan sengaja mencukur rambut mereka sampai plontos. Mengukir lukisan di tubuhnya serta menggunakan aksesoris atau busana yang sangat nyentrik. Misalnya pakaian mereka yang selalu dikawinkan dengan sepatu Boot dengan celana jeans yang panjangnya hanya sampai batas mata kaki. Sedangkan wanitanya menggunakan make-up yang sangat mencolok dengan gaya rambut yang tidak biasanya. Gaya rambutnya pun bermacam-macam serta warna-warni.

Kaum Skinhead Australia (yang notabene) berkulit putih ini ternyata sangat membenci etnis Asia khususnya China (dalam kasus Film Romper Stomper). Dalam film yang dibuat tahun 1992 ini, digambarkan bahwa mereka akan dengan sengaja memicu kerusuhan dengan mengganggu anggota atau bagian dari etnis China tersebut tanpa alasan yang jelas. Dan dalam film ini, kaum Skinhead sendiri mengalami dekandensi integritas internal yang disebabkan oleh masalah egoisme, percintaan, dan krisis kepercayaan. Sehingga mereka terpecah-pecah dan tidak bertahan lama. Di akhir cerita, solidaritas di antara kaum Skinhead ini akhirnya (hampir) berakhir. []

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

One thought on “Refleksi Rasial dan Marjinalitas di Australia

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s