Posted in Diary

Koherenitas Hati, Naluri, dan Emosi

IYA IYA .. saya tahu sodara kangen. Udah sih biasa aja. Toh cuma empat bulan ini blog saya mati suri. Dan sodara masih bisa apdet tentang saya lewat twitter kok. Iya twitter ini.. di sini.. di @defickry.

*udah mau muntah belum?* =)))) *cegat ojek*

————————————————————————————-

Tiada apologi atas waktu yang diam diam mencuri sedikit hidup saya. Berjuta cerita segenap labirinnya lengkap mewarnai empat bulan terakhir ini. Entah itu cerita kantor, dinamika mahasiswa asing – beserta kecerdasan berikut ketidakbecusannya, atau kondisi iman yang saya akui semakin mengendur saja. Belum lagi romantisme pertemanan maya yang memang menggoda itu. Ah.. jika saya untaikan lewat tulisan, tak cukup kiranya perbendaharaan kata mengurai runutnya. #apasih *twitteraddict pake hastag*

Keriangan yang membuncah tentu tak sempurna tanpa sepasang mata yang memeras kelenjar. Artinya, dua terminologi sedih dan bahagia adalah sesuatu yang mutlak. Sepakat. Saling mengikat berkelidan. Tak ada ruang dan celah yang mengantara.

Demikian saya. Ada semacam kegalauan massif yang sempurna belakangan ini. Labil telat atau semacamnyalah. Dan dalam teori saya, saya sebut sebagai kegagalan benak dalam menstimulus keseimbangan koherenitas hati, naluri, dan emosi. Dan hey… kondisi ini tidak berbanding lurus dengan berapa usia sodara sekarang, juga tak ada hubungannya dengan aktivitas biologis bulanan? Karena pada titik dan moment tertentu, spesies pemilik akal seperti kita ini juga dapat mengalami moment nadir bak tersambar petir.

Efek dari kegagalan ini adalah fungsi otak tidak lagi fleksibel dalam menterjemahkan mana maya mana nyata. Sehingga, hubungan individu dalam konteks sosiologis dan bahkan teologis menjadi pincang. Tak ada lagi romantisme yang diagungkan hati. Relung relung humanisme kering seiring tandusnya rasa dan nurani. Yang ada hanyalah remah asa yang sampai pada ujung waktu akan lenyap tak melepas jejak.

Dan yang ada hanyalah kompromitas yang gemunung. Pemakluman dan sikap permisif menjadi mata uang yang dengan gampangnya hilir mudik dalam hubungan sosiologis dan teologis tadi.

Lalu ide apa yang sebenarnya hendak saya desiminasi dalam benak sodara sodara?

Sebetulnya sederhana. Bahwa kita bukan makhluk statis yang diciptakan sama. Sang Maha Kreatif menyelipkan naluri dan perasaan yang beraneka pada tiap insannya. Pada titik yang paling dasar, semuanya bermuara pada nilai nilai humanisme. Bahwa kita punya alpa dan keliru. Bahwa kita pernah saling sikut menyikut dan singgung menyinggung.

Dari sini ijinkan saya hendak berapologi atas ketidaknyamanan yang saya berikan dalam hubungan sosiologis kita setahun belakang ini. Dan kepada Pemberi Napas tak luput saya mohonkan ridho-Nya.

Selamat Sya’ban. Selamat Ramadhan. Semoga diri ini tersucikan. Minal Aidin Walfaidzin. Mohon maaf lahir dan bathin. =)

Sumber foto: stok kantor 😀 (www.acicis.murdoch.edu.au)

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

16 thoughts on “Koherenitas Hati, Naluri, dan Emosi

  1. ampoooooon bahaso kau fik! alangke rumitnyoh!

    Anyway, kancing yg putus perlu dijahit lagi, baju yg kusam perlu dicuci, saya tidak bisa memberikan perumpamaan yang lebih bagus daripada yang dikau bisa buat, yang pasti iman yang kendur perlu dikencangkan, ingat Fikri sahabatku, hidup tidak hanya untuk hari ini dan besok, tapi ada hari ‘esok’ yang niscaya di sebrang kehidupan sana yg akan ditemui setiap ummat.
    ^_^

    1. benar.. kadang kita tahu betul apa yang sebenarnya terjadi dg diri kita. namun kadang, untuk mengambil langkah kembali dan menyusun bata yg kadung berantakan butuh energi tingkat tinggi. dan mungkin saya sedang di awal proses itu. =D

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s