Posted in Press, Umum

Siapapun Dapat Menjadi Pendidik

TIDAK dapat dipungkiri bahwa citra seorang guru tidak terlepas dari profesi seseorang yang mengajar di dalam kelas, berinteraksi dengan murid di sekolah, serta tak jauh dari kegiatan belajar-mengajar yang ditetapkan oleh kurikulum pendidikan nasional. Profesi guru juga kerap dinomorduakan karena bukan merupakan profesi populer dan diidam-idamkan oleh banyak siswa.

Selain terdapat pandangan bahwa menjadi seorang guru hanya berkutat di dalam kelas, isu bahwa tingkat kesejahteraan guru kurang menjanjikan juga menjadi persoalan tersendiri bagi profesi ini. Maka jelas bahwa kondisi ini tentu terbentuk dari hasil kurikulum pendidikan di negara kita serta oleh apa yang tengah digambarkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas. Lalu apakah ada yang salah dengan gambaran profesi pahlawan tanpa tanda jasa tersebut? Dan bagaimanakah perbedaan antara profesi guru dan sosok pendidik?

Menjawab tantangan tersebut, Sampoerna School of Education berusaha mengedukasi dan mengenalkan perbedaan mendasar dari sosok seorang guru dan pendidik dalam talk-show bertajuk “Be an Educator in a Changing World” pada Rabu lalu (13/06) di Pisa Kafe Mahakam, Jakarta Selatan. Dengan merangkul beberapa komunitas blogger dan komunitas sosial, acara yang dimoderatori oleh presenter Lucy Wiryono ini berhasil menyedot perhatian lebih dari 50 peserta yang hadir. “Acara ini bertujuan memberikan edukasi dan diskusi terbuka bagi teman-teman khususnya blogger dan aktivis media sosial bahwa menjadi pendidik adalah salah satu kunci keberhasilan sebuah bangsa yang besar,” ujar Paulina Pannen, Dekan Sampoerna School of Education dalam pembukaan talk-show yang berlangsung selama tiga jam tersebut.

Sebagai pembicara pertama, salah satu alumni Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar, Patrya Pratama, turut hadir berbagi mengenai pengalamannya ketika bertugas sebagai pengajar di daerah pedalaman Paser, Kalimantan Timur. Dengan materi berjudul “Setahun Mengajar Seumur Hidup Menginspirasi”, Patrya bercerita bahwa menjadi pendidik di daerah pedalaman sungguh memberikan pengalaman yang luar biasa. “Miris misalnya ketika ternyata saya menjadi salah satu orang yang membuat sejarah pada saat lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk pertama kalinya dinyanyikan oleh murid-murid SD di sana,” ujar Patrya di depan puluhan blogger.

Sesi selanjutnya diisi dengan diskusi menarik dengan Dik Doank sebagai pembicaranya. Lama tak muncul di layar kaca, artis pemilik akun twitter @dikdoank21 ini disibukkan dengan dunia pendidikan dan seringkali menjadi pembicara di berbagai acara bertema serupa. “Menjadi pendidik merupakan cita-cita saya sejak kecil. Jauh sebelum saya terjun ke dunia hiburan, saya sedikit demi sedikit membangun Kandank Jurank Doank ini dengan dana seadanya,” terang pemilik Kandank Jurank Doank, sekolah alam yang terletak di Ciputat, Banten, Jawa Barat.

Dalam istilah tertentu, profesi yang dilakukan oleh Dik Doang merupakan profesi edupreneur, yaitu seorang agent of change atau sosok yang membawa perubahan dan pendekatan baru di luar sistem pendidikan publik yang sudah ada. Seorang edupreneur terkadang tidak berada di dalam sistem tersebut, tetapi melihat dari luar, dan kemudian mendapatkan pemahaman yang lebih baik atas persoalan pendidikan yang ada, sehingga solusi yang ditawarkan menjadi lebih relevan. Kandang Jurank Doank yang ia dirikan merupakan contoh nyata di mana seorang edupreneur mampu mendirikan organisasi yang terfokus pada pengembangan kapasitas institusi pendidikan yang sudah ada. Dalam kesempatan tersebut, Dik Doank juga menekankan pentingnya membagi ilmu pengetahuan di lingkungan sekitar demi perubahan yang lebih baik.

Sebagai penutup, Nisa Felicia, salah satu dosen dari Sampoerna School of Education juga bercerita bahwa siapapun dapat berkontribusi terhadap pendidikan. Tidak harus menjadi guru, apapun profesi yang saat ini dimiliki, semuanya berpotensi mendidik dan bekontribusi bagi kemajuan bangsa. “Hal yang perlu diketahui banyak orang, misalnya, bahwa kesempatan menjadi anggota komite sekolah sangat terbuka luas. Melalui keanggotaan di komite tersebut, setiap orang mampu melakukan perubahan dan berkontribusi,” tegas Nisa di dalam salah satu materinya.

Melalui talk-show ini Sampoerna School of Business ingin membawa masalah ke permukaan bahwa pendidik merupakan kunci keberhasilan bangsa. Dalam menghadapi dunia yang berubah, kita perlu membangun pendidik yang inovatif. Hal ini seringkali juga disebabkan adanya kesalahpahaman mengenai istilah pendidik dan guru. Kata ‘pendidik’ lebih tepat digunakan saat menunjukkan peran seseorang sebagai ‘mentor’; orang yang mendorong, mendukung dan membimbing seseorang. Sementara kata ‘guru’ digunakan untuk menggambarkan seorang ‘pelatih’ atau ‘pembimbing akademik’. “Ada perbedaan mendasar antara istilah pendidik dan guru. Kata ‘pendidik’ juga memiliki makna yang lebih luas dan mendalam. Seorang pendidik biasanya meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan terhadap orang yang diajar. Maka tidak semua guru bisa disebut sebagai pendidik. Hanya beberapa dari guru yang meninggalkan tanda yang menetap dia hati orang yang diajar yang bisa disebut sebagai pendidik,” ujar Nisa menambahkan.

Selain talkshow dan makan malam bersama, acara ini juga dimeriahkan dengan kompetisi live-tweet dengan hashtag #BeAnEducator yang hingga acara berakhir mampu menghasilkan lebih dari 800 tweet dan 1,8 juta impression di media sosial. “Talk-show malam ini memberikan manfaat dan inspirasi yang besar bagi saya. Cerita pengajar muda dan Dik Doank, misalnya, betul-betul menampar saya akan bentuk kontribusi yang harus kita berikan untuk pendidikan,” ujar Adlil UImarat, salah satu blogger pemenang kompetisi live-tweet yang juga bekerja sebagai karyawan di salah satu stasiun TV swasta di Jakarta.

Sumber artikel di  sini.

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

3 thoughts on “Siapapun Dapat Menjadi Pendidik

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s