Posted in Ads, Diary, Umum

Kesempatan yang Sama untuk Masa Depan yang Lebih Baik

BEBERAPA waktu lalu saya sempat menghadiri pertemuan tahunan alumni penerima beasiswa LPDP. Sekira lebih dari 1000 alumni LPDP dari berbagai angkatan baik lulusan dalam maupun luar negeri bersua di salah satu aula besar kompleks Kementerian Keuangan. Selain sebagai salah satu alumni, saya sendiri sempat menjadi salah satu narasumber di salah satu sesi rangkaian kegiatan tahunan tersebut. Membayangkan Indonesia 10 tahun kelak, pertemuan alumni ini setidaknya memberikan harapan bahwa mimpi menjadi bangsa yang lebih baik dan bermartabat bukan lagi sebuah keniscayaan.

Berbicara tentang pendidikan, saya sendiri merupakan produk dari sistem pendidikan kita yang konon katanya timpang dan sarat masalah. Tanpa bermaksud mengeneralisir, setidaknya saya sendiri melihat persoalan ini dari kacamata pribadi. Akses pendidikan berkualitas yang tidak merata serta infrastruktur yang juga masih memiliki PR panjang adalah sedikit dari rentetan potret pendidikan tanah air. Saya tidak ingin membahas kualitas pendidikan kita yang masih jauh panggang dari api, namun satu yang pasti adalah akses pendidikan berkualitas kita betul-betul hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat kita.

Saya merupakan satu dari sedikit mereka yang beruntung mendapatkan beasiswa hingga bisa melanjutkan sekolah. Kondisi perekonomian keluarga yang terbatas membuat saya harus berpikir keras bagaimana melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya beruntung akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bersekolah dari lembaga pemberi beasiswa. Kampus Universitas Gadjah Mada membuka jalan bagi saya hingga menjadi lulusan komunikasi. Belum lagi berbagai beasiswa lainnya yang sempat saya raih selagi menyenyam pendidikan S1 di kota Gudeg itu. Terakhir, beasiswa LPDP yang saya terima saat menempuh master di Amsterdam 2 tahun lalu.

Kesempatan yang Sama

Pendidikan adalah hak setiap warga negara Indonesia. Apapun latar belakang yang kita miliki dan yang diatribusikan ke kita adalah sebuah hal yang tidak bisa dihindari. Lahir dari keluarga Sumatera dan muslim mungkin merupakan sebuah anugerah dan keberuntungan yang saya dapati. Mengingat mayoritas penduduk negeri ini didominasi oleh penganut agama tertentu dan dari suku tertentu, maka saya merasa “hidup” sedikit lebih nyaman dan “dimudahkan”. Dari kecil hingga SMA bersekolah di Sumatera, hidup saya begitu monoton dan homogen. Mengingat saya hidup dan besar dari lingkungan keluarga dan pergaulan yang itu-itu saja. Referensi saya atas kebhinekaan negeri ini hanya sekedar ingat di level koginitif. Hanya tahu teorinya begitu. Tahu bahwa Indonesia itu terdiri dari sekian belas ribu pulau. Tahu bahwa agama resmi yang diyakini di negeri ini sekian jumlahnya. Dan sadar betul bahwa bahasa daerah dan suku budaya sungguh beraneka. Namun hanya berhenti sampai di situ. Buktinya orang-orang terdekat yang saya anggap teman, semuanya beragama sama dan berbahasa daerah dan suku yang sama dengan saya.

Hingga SMA, saya belum memiliki referensi yang “baik” atas mereka yang berbeda keyakinan. Hingga di usia 18 tahun itu saya masih belum tahu betapa beragamnya cara hidup berdampingan teman-teman yang ada di timur nusantara. Hingga seusia itu saya belum benar-benar memiliki teman yang dapat saya andalkan dari “kelompok-kelompok” yang berbeda tadi. Sekali lagi, bukan karena saya selektif, tapi sesederhana karena saya belum pernah mengalami keberagaman yang selama ini saya dapati dari buku-buku pelajaran sekolah. Sama sekali.

“Kemudahan” karena keseragaman yang kita miliki menjadi sebuah mata uang yang mungkin dapat membantu mengakselerasi perubahan sosial seseorang pada sebuah tatanan sosial masyarakat tertentu. Mereka yang kebetulan berasal dari Kalimantan, misalnya, akan merasa dimudahkan mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang jajaran pimpinannya didominasi oleh orang Kalimantan. Mereka yang mungkin berkeyakinan A merasa akan sangat nyaman jika dipimpin oleh seseorang yang juga berkeyakinan A. Dan kembali pada konteks pendidikan, mungkin mereka yang merasa berasal dari suku B akan merasa sangat nyaman jika belajar dan berilmu dari sosok yang berasal dari suku B. Jika asumsi-asumsi ini benar adanya dan diyakini oleh masyarakat kita secara masif, maka cerita tentang Indonesia yang kaya dan sarat budaya hanyalah sebuah keniscayaan. Karena masa depan seseorang dengan berbagai macam latar belakang hanya akan “ditentukan” oleh seberapa beruntung ia lahir di bumi ini.

Saya sukar membayangkan jika semisal proses seleksi beasiswa yang saya ikuti mulai dari SMA hingga S2 berdasar pada atribut-atribut suku bangsa. Kesempatan untuk lolos sudah pasti sudah bisa diterka-terka. Filter socio-demografi menjadi filter pertama seberapa layak kita menjadi kandidat penerima beasiswa. Namun puji tuhan alhamdulillah, seleksi beasiswa yang saya ikuti tidak mensyaratkan apapun yang memberatkan dan atau memihak pada satu kelompok tertentu. Karena saya percaya bahwa setiap kita punya hak untuk berkompetisi dan menang. Terutama beasiswa negara yang sudah sarat mutlak untuk dapat mengakomodir kepentingan semua warganya yang berbhineka.

Beasiswa-beasiswa lain yang turut berkontribusi memberikan kesempatan semua anak-anak Indonesia adalah Tanoto Foundation. Beasiswa yang diberikan oleh Sukanto Tanoto ini memberikan kesempatan pada siapapun yang memang berhak dan layak untuk maju dan berkembang. Hal ini sebagai bagian dari kepedulian untuk mencetak generasi penerus negeri yang berkualitas, sekaligus menghadirkan pemimpin-pemimpin masa depan terbaik untuk bangsa. Nah, buat teman-teman yang sedang dan ingin melanjutkan sekolah, lembaga pemberi beasiswa ini sedang membuka kesempatan seluas-luasnya buat siapapun untuk berpartisipasi. Jika kalian memiliki teman ataupun saudara yang sedang berencana sekolah dan memang mengalami kendala biaya, silakan ikuti seleksi beasiswa ini dengan syarat dan ketentuan di tautan ini.

Mengenang kembali sekian tahun yang lalu saat pertama kali saya berkesempatan berkuliah tinggi, saya sangat berterimakasih kepada semua lembaga yang memiliki concern terhadap pendidikan. Kontribusi mereka dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara tanpa melihat perbedaan sungguh patut diapresiasi. Terakhir, buat teman-teman yang ingin maju dan berkembang, selamat berkompetisi!! Good luck!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

One thought on “Kesempatan yang Sama untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s