Posted in Puisi

Tentang Tiga

Kubisa diam kalau kau serat

Kubisa bilang bila kau tenang

Cukuplah Rhein hati ini

Deralah Rhein mayatku kini

Karena cukuplah ruh yang kupunya

Tercabik lengkap lewat di dada

 

Dunno disturb my eyes now

Let them alone with those faces

Tak terkira perihnya hingga

Rhein tertega yang kupunya

Resapi sukma belenggu air mata

Cukup sudah Rhein..

 

Jiwa kini tersungkur gunung

Tangan ini terpenggal jantung

Sebegitukah cintamu

Maukah kejam ataukah lara?

Ataupun sadis mungkinkah murka?

Tak tahu khilafku letak

 

Adakah sillah di sana

Termungkinkah kapabilitas ada?

Kekinian anomali hartaku punya

 

Jogja, 11 januari 05

 

 

 

Hati ini malu. Jiwa ini sungguh tak tahu malu

Kepada Mu Rabb aku Cuma bisa meminta

Sementara sujud lengang terjaga

Kemudian ruang maghfirah itu selalu ada

Aku malu Rabb

 

Hati ini malu. Jiwa ini sungguh tak tahu malu

Kepada Mu Rabb aku Cuma bisa meminta

Terasa kecil makhluk ini

Kikis sudah sombong ini

Keajaiban Mu yang teralami

Menyuburkan imanku yang sempat terongrong

 

Aku malu Rabb jiwa ini sungguh tak tahu malu

Langit yang dipinta selalu ada

Namun sujud yang tersedia sarat lengang adanya

Aku malu Rabb

Berilah istiqamah dan kekuatan hambamu yang maha kerdil ini.

 

 

Jogja, 11 januari 05

 

 

 

Fuck!! …

Suck!!

Bullshit!!

Asu

Segawon

Bajigur

Anjrit

Wuteva….you’re so…cuih!

 

Sebegitu parahkah arti sebuah kebencian?

Eit..bukan benci kawan. Mungkin seorang aku tidak punya banyak kosa kata untuk melukiskan sebuah perasaan kecewa dan kesal

Dan yang terdengar hanya umpat dan caci maki bernada sopan

 

Di mana sih arti sebuah teman bagimu?

Sebegitu mudahkah kamu melupakan apa yang telah aku berikan kepadamu?

Sehingga kata yang keluar dari mulutmu hanya: urusanmu!!

Lupakah engkau ketika malam aku rela membantumu membuat paper

Lupakah kamu ketika itu aku membantumu mencari dosen karena salah jadwal ujian!

 

Maaf kawan..aku juga telah banyak merepotkanmu selama ini. AKu dengan tak tahu malu nebeng di belakang jok motormu. Aku yang tak bermateri ini suka pinjem duit. Aku yang kemarin bermasalah minta dianterin keliling jual hp. Namun, apakah demikian caramu melampiaskan rasa ‘kerepotanmu atau keterpaksaanmu membantu’ kepadaku..

Picik sekali engkau kawan..

Bilang saja kalau selama ini kamu hanya menahan …merasa tidak enak kalau tidak membantu teman.

Bukan. Bukan, bukan itu teman. Bukan yang itu sahabat!  Dan bukan itu inginku!

Aku Cuma butuh pengertianmu. Rasa empatimu. Senyummu ketika aku senang. Dan tangismu ketika aku susah. Dan tatapan seriusmu ketika aku berkesah.

Aku Cuma butuh teman-butuh  teman. Sederhana saja,

Memang tak adil. Aku begitu egois, teman? Kita sudah tak memahmi lagi…

Dan tepukan khas pertama kali berkenalan sudah tak hapal untuk dipraktikan..

Sangat disesalkan…

 

Cerita lama yang kembli terulang. Friendship is bullshit?

 

Jogja, 7 januari 05 setelah ujian agama

 

 

 

Mon, apakah kamu masih punya cinta?

Apakah kamu masih menyimpan harta itu?

Apakah kamu sudah punya cukup nyali untuk berkata ‘ya’ padaku?

Apakah rasa sayangku masih lekat di benakmu?

Apakah surat itu kau simpan baik-baik?

Apakah masih ada secuil rasa di hatimu?

Apakah masih ada waktu untuk mendengar peluhku?

Apakah tugas-tugasmu sudah selesai kamu kerjakan? Sehingga aku yakin tak terabaikan?

Apakah orangtuamu sudah mengerti kalau perkawinan mereka diawali dari apa yang kita lakukan saat ini?

Apakah adikmu maih sayang padaku?

Apakah kamu selalu pulang malam?

Apakah kamu masih ingat ngenet di warnet di dekat rumahmu?

Apakah kamu juga sering memakai syal ungu dariku?

Apakah minuman kesukaanmu masih air jeruk ditambah sedikit susu?

Apakah bedak taburmu masih di beli di toko Jhon Guttenberg?

Apakah kamu ingat ketika menangis di pundakku?

Apakah kamu sudah sudah yakin bahwa aku bukan pilihanmu?

Apakah aku terlalu cacat dan sebegitu buruk untukmu?

Apakah aku terlalu cuek untuk ukuran laki-laki?

Apakah aku terlalu naïf untuk sebuah cinta?

Apakah dan apakah?

Dan jutaan apakah yang masih tersimpan di gudang benak bersarang cinta masih menunggu untuk teriak

Karena kamu begitu sempurna untukku……….

Dan masihkah kamu memberikan celah itu untukku lagi……

 

Jogja, 7 januari 05

 

 

 

Seorang teman sama seperti baju yang kau kenakkan sehari-hari

Balutan busana rapi untuk kemudian lesuh akan setia menanti. Teman akan setia menutupi kejelekkan-kejelekkanmu. Berusaha menahan aroma tubuhmu yang bau seperti bangkai. Seorang teman akan setia…akan setia

 

Jogja, 7 januari 05

 

 

 

Pergi dan teriak di luar sana

Hentamkan kakimu jangan kau lupa

Pegangi kudamu. Lepaskan sayapnya

Ataukah aku harus menunduk melupakan kisah usang itu?

 

Tinggalkan saja aroma tubuh busukmu!

Larilah ke perpustakaan kemarin

Jangan siakan kasih si bungsu

Hentak-hentakkan peln-pelan

Detak-detakkan jantungmu kawan

 

Sedang tanganku terlalu besar untuk ukuran lawan

Lewat saja kau akan tamat

Kiamatmu hamper dekat

Syukurilah kawan riwayat aku.

 

Jogja, 11 januari 05

 

 

Seorang ibu adalah manusia sempurna. Walau ku

tahu tak ada manusia sempurna kecuali utusanNya.

Namun, bukan berarti aku mau menyamakan beliau

nabi. Namun, hanya itu yang bisa kuukirkan

 untuk mendesripsikan bundaku. Tiap pagi, ibu

 dengan setia membangunkanku. Apalagi ketika

puasa itu. Matanya paling dini untuk terbelalak

 sana. Tubuhnya yang lemah sangat kuat

 tuk anandanya tercinta. sementara

kita memang tidak tahu malu

Bisanya hanya berkata: hai ibuku sayang. Adakah seuntai konkret

buat ibu?

Ibu terlalu lemah untuk menampar anaknya yang kurang ajar. Ibu

Terlalu baik untuk memberi maaf se-MalinKundang. Ibu

terlalu tabah tuk setiap luka

Dan aku terlalu durhaka tak bisa berbuat apa-apa untuk membahagiakan ibuku.

 

Jogja, 11 januari 2005

 

 

 

Saya suka ini…..

Pernahkah anda merasa mengenal seseorang dengan sempurna?

Dan  anda merasa sok tahu atas hidup dan matinya

Lalu anda menghakimi tentang jadwalnya ketika suka dan duka

Dan seakan-akan anda tahu kapan seharusnya ia tersenyum ataupun murung

Dan ketika anda yakin dengan semua hal di atas, maka

Tanyalah..

Tahulah anda: anda akan merasa sangat menyesal

Betapa bodohnya anda! Anda tak kan pernah tahu

Bahwa di balik senyumnya terdapat jasad yang tergeletak luka parah

Dan seseungguhnya perbuatan anda yang anda kira biasa saja

Adalah seperti merazamnya

Racun itu jauh melesak ke sel-sel hati

Dan semakin ia tertawa keras, maka

Anda hanya akan menjadi badut sempurna di sana

Karena sungguh, kelenjar airmatanya telah mongering

Terganti air kencing

“Selamat menjadi manusia tak berperasaan…!”

Saya suka ini…

 

Jogja, 3 Maret 05

 

 

 

Pernahkah anda mengalami bingung pada tataran konstelasi?

Lalu anda berkeras bahwa stagnasi adalah segalanya

Memutuskan apa yang seharusnya berdosa untuk dilakukan

Maka anda tidak akan berkembang

Anda hanya akan berlari-lari pada kerangka kekerdilan anda sendiri:

Tak pernah berlapang dada atas apa yang maha terbaik untuk anda

Dan ketololan anda semakin menjadi dan mewabah

Atas sikap yang anda perlihatkan

Baiklah, mungkin saat ini anda merasa

Bahwa keputusan yang anda ambil adalah yang mendekati sempurna: dengan dalih memeras otak…

Maka, berpikirkah anda jenis otak apa yang bersarang

Di kepala anda saat ini?   

 

Jogja, 8 Maret 05

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

One thought on “Tentang Tiga

  1. Nice poet. For who? 🙂
    Sepertinya aku juga perlu belajar mengungkapkan emosi lewat puisi, selama ini hanya mentok di ujung hati.

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s