Posted in Diary, Thailand, Travel

Kembali ke Bangkok

Di salah satu thread mailing list blogger Kopdar Jakarta, saya selalu berkesah sembari berujar, “kapan ya bisa menang kuis kayak Chika,, Ifan,, dan Dimas…, kayaknya mereka hoki mulu’ deh…” -__-

And you know what, ternyata Tuhan mengabulkannya justru di kala saya nggak begitu aware dengan sebuah kuis yang saya ikuti dua minggu lalu.

Awalnya simbok venus nge-wassap dan bilang, “fick, kamu menang kuis Air Asia yang ke Bangkok ya? Itu di status facebook fan page dan tweetnya menyebut nama Muhammad Fikri.”

“Heh? masa’ sih? Aku belum dihubungi kok mbok., kan yang punya nama Fikri banyak banget. Tapi kalo rejeki mah gak bakalan ke mana sih,” ujarku sembari menahan kebahagiaan di kerongkongan.

DAN selang setengah hari setelah itu, pihak Air Asia pun menelpon dan memastikan saya lah Fikri yang dimaksud. Dan serunya, setiap pemenang boleh mengajak satu lagi teman untuk berlibur ke negeri Siam sana. Di samping gratis tiket PP Jakarta-Bangkok, kita juga dihadiahi akomodasi 2 malam di hotel bintang empat: President Palace Hotel.  Jeng jeeeeeng…..

Awalnya saya ingin mengajak ibunda atau kakak perempuan saya untuk menemani. Namun, karena ada beberapa ketidaksiapan, maka jatah satu kursi tersebut saya berikan kepada simbok venus yang memang orang pertama memberi tahu hal ini. Selain sebagai salah satu teman blogger, penerbangan ke Bangkok ini juga akan menjadi perjalanan pertamanya ke luar negeri. Jadi moga-moga ini menjadi hal yang menyenangkan 😀

Singkat kata, tepat di Jumat sore (09/03) pesawat kami take off membawa 6 peserta, satu jurnalis, dua orang Air Asia, serta 3 orang perwakilan dari  Tourism Authority of Thailand. Dan ini adalah kunjungan ke dua saya setelah sebelumnya ke sana di tahun 2006.

Perjalanan 3 jam tidak begitu terasa. Air bus dengan nomor penerbangan QZ7716 pun mendaratkan kami di bandara Shuvarnabumi yang megah itu. Begitu kelar cek imigrasi dan bagasi, van hijau merah membawa kami ke President Palace Hotel di kawasan Sukhumvit.

Fasilitas hotel bintang 4 ini sangat menyenangkan, ditambah lagi lokasinya yang strategis dan dekat dengan keramaian. Itulah kenapa ketika peserta lain tepar di hotel di malam pertama, saya dan simbok justru mengeja malam hingga di pukul 2 pagi.

Karena judul program kali ini adalah shopping, maka lokasi yang kami kunjungi pun adalah pusat perbelanjaan terkenal di sana. Berturut turut Chatuchak market, Terminal 21, dan Platinum. Ketiga lokasi tersebut besarnya bukan kepalang, wajar waktu yang disediakan pun terasa kurang. Oh ya, satu hal yang membuat saya agak terheran, entah kenapa di berbagai sudut kota, selain foto Raja, aktor Thailand yang bermain di film The Billionaire, personil band 2 PM, serta Super junior muncul di banyak billboard di sana.

Di Sabtu malam, ketika setiap peserta dibebaskan ke mana entah, maka kaki saya meluncur ke beberapa red light area di sana. Sebut saja Nana dan Silom. Namun entah apa yang membuat saya lupa, saya tidak sempat mengambil foto foto di sana.

Yang jelas, di daerah tersebut berderet belasan tempat pijat, spa dan sauna. Juga berjejer rapi wanita dan pria. Mirip seperti yang ada terjadi di gang Dolly, Surabaya. Dan yang paling menarik adalah, di pinggir trotoarnya juga tersusun rapih pedagang kaki lima yang menjajakan pakaian dalam yang rupanya luar biasa. Kebayang kan berbagai macam bentuk celana dalam yang aneh bin ajaib. Dan di sini, saya hanya bertahan hingga jam 3 pagi, untuk kemudian naik ojek ke hotel sebelum mentari datang.

Keesokan harinya saya memisahkan diri dari rombongan untuk setengah hari saja. Ketika peserta beramai-ramai pergi ke Ananta Samakhom Throne Hall, saya melarikan diri ke area selatan. Hingga sebelum makan siang, saya mencoba menjelajah Bangkok dengan MRT dan BTS nya.

Iri rasanya ketika dihadapkan pada fakta bahwa Bangkok memiliki banyak alternatif transportasi publik. Saya pikir, setiap orang Jakarta yang pernah berlibur di Bangkok akan berpendapat sama. Kapan ya pemerintah kita mampu merealisasikan ini. *sigh*

Sebelum pukul 2, saya pun kembali menemui rombongan di rumah makan Thailand di bilangan Siam Square. Menariknya, konsep orisinil restoran ini juga dibarengi dengan harga yang sangat damai di hati. Berbeda dengan sebagian besar rumah makan di daerah wisata Indonesia yang kerap memasang tarif khusus wisatawan jika ingin menyantap hidangannya. 😐

Setelah makan siang, kami dihadapakan pada kenyataan bahwa IKEA adalah lokasi terakhir yang kami kunjungi. Vendor penyedia berbagai macam furniture asal Swedia ini sungguh membuat saya orgasme akan kebutuhan interior design rumah. Selain barangnya keren keren, harganya pun sangat reasonable dan cocok untuk kantong orang Jakarta!

Well, pokoknya weekend di Bangkok kemarin adalah salah satu weekend yang paling menyenangkan. Nggak hanya gratis jalan-jalan, tapi di sana paling nggak saya mendapat insight baru bahwa liburan 3 hari di Bangkok sungguh sangat affordable. Apalagi bagi mereka yang tinggal di Jakarta, menghabiskan weekend di Bangkok nggak bakalan ngebocorin kantong kalian. Again, terimakasih buat Air Asia dan Tourism Authority of Thailand yang sudah memberi kesempatan yang berharga ini. I promise I’ll be back on my own!! Very soon.

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

23 thoughts on “Kembali ke Bangkok

  1. Ini luar biasa banget, misal:
    Kerja di Singapura (senin-rabu), lalu di Jakarta (hari kamis – jumat), lalu menghabiskan akhir pekan bersama keluarga di Thailand entah di mana (sabtu – minggu). 🙂

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s