Posted in Indonesia, Travel, Umum

Mengandaikan Malioboro di Palembang

SAYA berani bertaruh tidak ada satu warga Palembang pun yang tidak pernah makan pempek. Pun demikian dengan gudeg, tak satupun warga Jogja yang paling tidak, pernah mencicipinya. Sementara suka atau tidak suka, itu urusan lain. Paling tidak mereka pernah mencoba. Toh selera seseorang tak selalu berbanding lurus dengan di mana ia bermukim, bukan?

Lalu sebenarnya, apa sih yang ingin saya utarakan melalui kedua jenis makanan tadi? Kelezatannya kah? Keunikan rasa bla bla bla? Atau sesuatu yang menyangkut sejarah?

Tidak sodara sodara. Ini bukan tentang cerita makanan atau selera lidah. Persoalan perut saya kira cukuplah diulas dan dibincang oleh Pak Bondan saja, si Bapak Maknyus di salah satu televisi swasta itu. Di sini, saya ingin membincang ihwal potensi wisata. Yang mungkin makanan tadi menjadi satu dari sekian unsur atraktif sebuah keunikan budaya dari sebuah kota. Kota Palembang dan kota Jogja yang menjadi pembandingnya.

Jadi, ini adalah sesuatu yang lebih luas dari sekedar persoalan perut. Ini tentang masa depan. Tentang cita sebuah kota yang diimpikan. Tentang kota Palembang yang kini masih di awang-awang. Karena terus terang, dari sepengalaman saya lebih dari tujuh tahun tinggal di tanah Jogja, Palembang hanya dikaitkan dengan makanan yang berbahan dasar ikan. Itu saja. Atau paling tidak, jembatan Ampera dan sungai Musinya. Selebihnya, adalah cerita bahwa Palembang merupakan satu dari sekian kota yang berlangganan masuk di televisi swasta.

418906010_7fd7d6a69a
Rujak mie dengan pempek ikan. 🙂

Lalu apa poin tulisan saya ini?

Sebetulnya sederhana. Ini berangkat dari persoalan pribadi saya. Soal di mana saya kerap kesulitan jika diakrabi pertanyaan tentang Palembang dari beberapa teman di kota Gudeg. Semasa mahasiswa misalnya. Seringkali beberapa rekan berujar, “di Palembang ada apa aja? Nanti kalo aku ke sana diajak keliling-keliling ya?” Bahkan, pertanyaan-pertanyaan seperti ini kerap keluar dari teman-teman mahasiswa asing yang kebetulan belajar di sana.

Kontan saya kebingunan. Saya tidak tahu harus bercerita apa. Referensi wisata saya di kota sungai itu hanya Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan pempek saja. Selesai. Tidak ada lagi.

Well, mungkin saya salah karena pengetahuan objek wisata di kota kelahiran sendiri tak saya kuasai dengan benar. Karena terus terang selama saya hidup di sana sebelum saya merantau tidak begitu banyak pengetahuan wisata yang saya dapati. Baik melalui pendidikan formal maupun sekedar dari pergaulan.

Namun, jika berbicara tentang Jogja. Sodara tepat jika bertanya pada saya. Semasa mahasiswa dulu, saya juga bekerja sebagai Tour Guide. Jadi seluk beluk objek wisata kota pendidikan ini cukup saya kuasai. Mulai dari wisata alam, wisata pendidikan, wisata budaya, hingga wisata kuliner, insyaAllah saya akrabi.

Hal ini memang dapat dimaklumi. Di samping Jogja memang ditunjang dengan berbagai objek wisata yang layak dikunjungi, potensi wisata kota ini memang digarap secara serius oleh pemerintah setempat. Sehingga wajar jika Jogja menjadi kota kedua untuk tujuan turis lokal maupun manca Negara setelah Bali.

Lalu apa kabar Palembang?

Nah, itulah yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Setiap kota memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Jika Jogja kaya akan unsur budayanya, maka Palembang pun saya kira tak kalah. Namun yang menjadi persoalan adalah dalam hal penggarapannya.

Proyek penggarapan Palembang Kota Air dengan memaksimalkan potensi wisata sungai Musi beberapa tahun yang lalu, kini tidak begitu terdengar gaungnya. Dan saya sendiri merasa tidak melihat efeknya secara maksimal bagi perkembangan wisata kota ini.

Menurut saya hal ini kurangnya promosi dan publikasi. Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah belum adanya objek unggulan yang digarap secara serius. Jika kita berbicara kota Jogja saja misalnya, selalu tidak terlepas dengan kawasan belanja wisata Malioboro. Di sana, dapat kita temui dengan mudah berbagai souvenir khas Jogja serta suasana yang sangat khas Jogja. Dengan kendaraan tradisional Andong, ataupun sentra perbelanjaan Batik misalnya.

benteng-kuto-besak
Benteng Kuto Besak di malam hari.

Nah, Palembang saya kira belum memiliki sentra kawasan semacam itu. Jika kita meliirik daerah Tangga Buntung atau Benteng Kuto Besak, saya kira kedua objek tersebut jika digarap secara serius dan maksimal dapat menjadi projek percontohan kawasan wisata. Di sana dapat dibangun beberapa pusat perbelanjaan wisata yang sifatnya masif dengan tujuan memaksimalkan potensi wisata. Di dalamnya dapat menampung banyak hal seperti pusat makanan khas Palembang, pakaian khas songket, dan beberapa pertunjukan seni yang selalu ditampilkan dalam jangka waktu tertentu.

IMG_0143
MAsjid Agung Palembang

Pendek kata, semua terintegrasi dalam satu lokasi yang berdekatan. Ya, saya ingin menyebutnya seperti Malioboro-nya Palembang. Sebuah lokasi di tepi sungai Musi di mana di sana juga dijadikan kawasan khusus untuk pejalan kaki.

Saya yakin dengan potensi yang kita miliki sekarang, jika digarap dengan serius dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, maka mewujudkan Palembang sebagai salah satu tujuan utama wisata bukanlah sebuah keniscayaan.

Dan pada akhirnya, apa yang saya citakan akan kembali pada apa yang disebut promosi, publikasi, dan kemasan. Ketiga hal tersebut sangat penting dalam konsep pemasaran jasa. Berbagai saluran promosi dapat dimaksimalkan dilakukan terus menerus. Tidak hanya sebentar tetapi berkelanjutan dan berkesinambungan. Baik melalui media konvensional seperti media cetak maupun elektronik, hingga media baru seperti internet dengan fasilitas media sosialnya.

Jika hal tersebut akan benar adanya, rasanya tidak sabar untuk pulang rantau. Kalau bisa berlebaran di sepanjang bulan. Sehingga indahnya sore di tepi Musi dapat dinikmati tak hanya sekali setahun. Dan tak hanya Jogja, mungkin Katon Bagaskara pun akan terinspirasi menggambarkan suasana Palembang di salah satu tembangnya kelak. Entah kapan…

Sumber gambar:

Advertisements

Author:

He calls himself a simple social butterfly as he frequently engages in social media such as blogs and micro blogging. Indonesian living in Amsterdam.

15 thoughts on “Mengandaikan Malioboro di Palembang

  1. Tangga Buntung masih terkenal sebagai kawasan “bronx” ga sih? kalo iya, mesti dihilangkan dulu stigma itu. Minimal basmi semua preman-premannya. Kalo ngga ya percuma mau dijadiin kawasan wisata. Kasian turis-turisnya.. :mrgreen:

  2. Saya yakin, sesungguhnya Palembang juga tidak kalah dengan Yogya. Sungguh. Masing-masing mempunyai kekuatannya sendiri-sendiri. Tulisan alternatif yang baik, untuk mengajak berpikir, terutama teman-teman di Palembang. Trims informasinya, salam kenal, sukses selalu untuk Anda.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

  3. Ciri khas jika “disamakan” maka akan hilang khasnya, dan Palembang mestinya buanyak kekhasannya yang nggak harus disamakan dengan kota lain. Dan memang, demi kenyamanan, “preman” mesti ditertibkan lebih lagi hehehe…
    : )

  4. Menarik, krn gw org jogja tp malah yang ngerantau di palembang. Iya sih, sebenernya wisata kurang digarap disini. yang jelas kawasan ampera itu lah harusnya lebih digarap dan dikonsep 🙂

  5. Kalo menurut anda jogja saja misalnya, selalu tidak terlepas dengan kawasan belanja wisata Malioboro, dipalembang juga ada pasar 16 ilir 😀 .

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s