Posted in Aussie

Haji Ibuku

“Yo mpik, udah tadi didaftarke, insya Allah 2011”. Kira-kira itulah is sms yang datang dari mbkku di Palembang. Alhamdulillah cita-citaku terkabul juga, bisa menghajikan ibu tercinta. Well, bahagianya ta k terkira hingga. Walaupun kebagian jatah 2011, saya hanya bisa berdoa semoga beliau diberi kekuatan dan kesehatan untuk menjalankan rukun Islam kelima itu. Maklum, usianya saat ni saja udah 62, berarti 2011 nanti beliau akan berhaji di usia 65.

Semoga kalo saya dapat rejeki lagi, mungkin bisa menemaninya selama berhaji. Tapi untuk saat ini alokasi dana tidak memungkinkan jika saya berangkat bersamanya.

Pulang dari kerja saya hanya bisa bersyukur dan mengucap hamdallah. Cita-cita semasa kecil itu terkabul juga. Walopun ayah telah tiada, kini saya bisa membahagiakan ibu dan keluarga di rumah. Kerja keras selama di negeri orang akhirnya berbuah kenikmatan yg tiada tara. Kepuasan batin yg tidak bisa tergantikan oleh apapun. Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberikan kesempatanku untuk berarti..walopun saya tahu itu belum apa-apa dibandingkan kasih sayangnya sebagai ibu terhadap anaknya. Ayo berniatlah teman-teman…….Chayyooo!!!

Posted in Aussie

Hang Out Empat Bangsa

Setelah tiga bulan di sini, tampaknya kali ini merupakan keli pertamanya saya hang out bareng temen-temen kampus di Civic . Hahaha..selama ini paling-paling hang out di kampus. Di samping sayanya sendiri yg sibuk banget ya memang gak begitu intim pertemanannya.

Namun hari ini beda, sejak dua minggu yang lalu entah kenapa kita berlima semakin akrab dan asyik aja. Ada saya dan Genia dari Indonesia, Mary dari Iran, Aimal dari Afganistan, dan Timothee dari Swiss. Continue reading “Hang Out Empat Bangsa”

Posted in Aussie

Australia-Indonesia Muslim Exchange

Malam ini dapat undangan diskusi dari mas Teddy terkait kedatangan tiga tamu dari Indonesia. Mereka datang karena terpilih dalam program AIME (Australia-Indonesia Muslim Exchange ). Kebetulan yg menjadi koordinatornya adalah mas Teddy dan isterinya, mbk Media.

Ketiga tamu itu adalah mas Ai – dosen UIN Bandung (aktivis Peace Generation Bandung), mas Mico – dosen UMY, dan mas FErdi –dosen UIN Jambi.  Obrolan seputar pengalaman masing-masing tamu selama di Indonesia. Lalu kita juga share bagaimana keadaan muslim di Canberra. Nilai-nilai pluralism dan tolerance menjadi topic utama tampaknya. Bagaimana kita bisa lebih menghargai perbedaan yang melingkupi kehidupan kita. Continue reading “Australia-Indonesia Muslim Exchange”

Posted in Aussie

Petualang Kumpul

Sabtu ini menyenangkan karena kita, komunitas Petualang diundang makan siang di rumah Mbk  Yuni Ryan di Woden. Sembari makan, kita juga disuguhin tontonan film Ayat-Ayat Cinta.

Yang datang lumayan banyak, keluarga mas Teddy, Keluarga mas Taufik, keluarga mbk Lili, Keluarga mbk Lily JOgja, Mas Anton, Mas Fauzan, dan juga murid bahasa Indonesianya mbk Yuni.

Awalnya rencana nonton kali ini adalah bertangis-tangis ria menonton film ini. Tapi ya ternyata hidangan bakso sapid an ayam taliwang yg begitu menggoda.. Continue reading “Petualang Kumpul”

Posted in Aussie

Volunteer on Starlightday

3 Mei 2008

Hari ini tiba juga. Jam 10 pagi bus ACTION 300 membawa saya ke Tugeranong Hyperdome. Di sana, Jane Panders telah menunggu dengan anaknya. Ya, hari ini adalah hari kerja saya sebagai volunteer di Starlightday. Saya bekerja dengan Starlight Children Foundation untuk fund raising. Foundation ini sendiri bekerja untuk mencari dana yg nanti akan ditujukan kepada anak-anak sakit yg kekurangan biaya di seluruh Australia.

Di sana saya bekerja sendiri, walopun seharusnya ada seseorang lagi yg bertugas. No worries, saya nyantai-nyantai aja. Kerjanya Cuma duduk/berdiri di belakang meja yg di atasnya telah tersaji beberapa merchandise yg dijual kepada pengunjung mall yg lalu lalang.

Merchandise yg dijual ada keyring, pin, pawn, pen, stiker, dan macam2. Continue reading “Volunteer on Starlightday”

Posted in Aussie

Tower dan Greyhound

Episode petualangan ini akhirnya tiba juga. Setelah berkeliling ria dan makan siang di Nelayan, saya diajak Elisa menuju slaah stu geudng tertinggi di sini (bukan yg tertinggi sih). Beruntungnya, kita gak dipungut biaya tiket disini karena ternyata salah satu petugasnya adalah teman sekolah Elisa dulu..padahal Elisa juga bingung loh..iya sih iya-iya aja kepada petugas itu.

Well, kita menuju lantai 50-an something..(gak tau tepatnya..lupa merhatiin sih..hehe). Dan wow..kita bias melihat pemandangan kota yg indah sekali. Kota ini tampak benar2 cantik dengan sungai Yare yg melintasinya. Bener-bener keren…gak seperti Sydney yg sangat ramai. Suatu saat saya harus kembali lagi ke sini. Entah kapan…. I promise.

Dan dari sana, tepat pukul 5 saya dan ELisa megunjungi rumah orang tuanya Aa, Pak Herli dan bu Ita, di Notting Hill. Juga bertemu dengan adik bungsu Aad, Ahmad. Setelah solat magrib dan mencicipi mie ayam, kita langsung luncuran ke Monash University untuk sekedar ambil beberapa foto. Nah, lastly, kita balik lagi ke Chadstone tuk pamitan pulang dengan Sushi..hehe..Grent ikut mengantar bersama Elisa. tepat pukul 9 pm kita tiba di bus Greyhound. Selamat tinggal Melbourne. I’ll miss u.

Posted in Aussie

Restoran Nelayan dan National Library

Setelah berputar-putar sekira 30 menit lalu kita berhenti menuju Rstoran Nelayan. Restoran Nelayan. Yep, restoran Indonesia ini sungguh sangat terkenal bahkan di Indonesia. Jadi kalo ada mahasiswa mau kuliah di Melbourne pasti direkomndasiin untuk mampir di restoran ini. Lalu kita having lunch. Gila, isinya orang Indo semua..wkwkwk. Then, saya mesan nasi rendang plus the kotak sosro…mmmmm yummy euy!!

Setelah mengobati kekangenan dg nasi Padang saya lalu kebingunan kira2 di mana bias sholat dzhuhur. Elisa bilang coba kita Tanya di toko Asia di salah satu mall tepat di belakang restoran ini. Ternyata gak ada juga di sana. Akhirnya saya memutuskan untuk sholat di di lapangan rumput di depan National Library..wkwkwk… Continue reading “Restoran Nelayan dan National Library”

Posted in Aussie

Melbourne, I’m in Love

27 April 2008

 

Hari Minggu!! Hari kedua saya di rumah Elisa, tapi tetap saja belum bisa bersahabat dg Susie, anjing betinanya. Karena seumur hidup, saya belum pernah memeluk anjing, apalagi dijilat…so, ini membuat saya takut ketika anjingnya menggonggong melihat saya. Tapi untungnya Elisa mengerti, jadi Susie dikurung di toilet selama saya di rumahnya..hehe..maafkan saya Susie! J

Well, rencana hari ini adalah City Walk! Saya dan Elisa langsung meluncur ke City. Parkir mobil dan langsung ke Flinders Street Station menemui Ella, di tengah kota Melbourne. Wow..it was amazing sight. Saya suka dengan sungai Yare yg melintas tepat di tengah kota. Hampir seperti kota kelahiran saya Palembang. Tapi bedanya jauh bgt..mulai dari kebersihan, tata kota, jenis bangunan, dan masih banyak lagi. (Ya iyalah…jangankan Palembang, dibandingin Jakarta aja gimana gitu..wkwkwk..pisss).

Saya jatuh hati ke kota tua ini. Suasananya begitu menyenangkan dan menyejukkan. Tidak begitu sibuk seperti Sydney, tidak begitu sepi seperti Wollonggong, dan tidak begitu dingin seperti Canberra. Paduan antara komposisi bangunan, tata kota, transportasi sangat pas. Saya betul-betul menikmati kota ini…saya jadi ingat Jogja juga..suasananya persis seperti Malioboro, ada kereta antar suburb (tram) dan kereta kuda. Melbourne sangat beragam!! Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia melebur menjadi satu dg komposisi tertentu.

Continue reading “Melbourne, I’m in Love”

Posted in Aussie

Mampir ke Rumah Chris dan Dinner di Rumah Ella

Dalam perjalanan pulang yg dtemani derasnya hujan, kita bertiga mampir ke rumah Chris. Chris juga merupakan mahasiswa Monash yg Januari lalu mengikuti program yg sama dengan Elisa dan Ella di UGM. Dan kebetulan, ayahnya juga mengajar bahasa Indonesia di Melbourne.

Ngobrol-ngobrol gak jelas sekitar dua jam lebih, kita melanjutkan perjalanan ke rumah Ella. Malam ini, kita diundang makan malam ke rumahnya, karena kebetulan ayahnya adalah Chef sekaligus pengusaha catering.

Ketika diundang, saya bilang ke Ella untuk bilang ke ayahnya bahwa saya muslim, so, harus dipertimbangkan jenis makanan yg akan disajikan. Well, Alhamdulillah mereka mengerti.

Menu yg disajikan bervariasi, ada sayur tumis, ayam panggang, kambing, jamur, keju+roti, dan (ada juga) wine. Tentu saja saya gak mengonsumsi jenis minuman ini! Yang bikin special adalah, ayahnya membuat sambel ala Indonesia. Wow, it was really nice. Enak sekali.

Satu jam lebih kita makan malam dan ngobrol ringan. Ternyata, dari cara makan malam saja, kita memiliki kebudayaan yg berbeda. Dari undangan makan malam yg juga dijadikan sebagai media komunikasi antar anggota keluarga ini saya dapat melihat beberapa perbedaan yg cukup signifikan cara orangtua mendidik anaknya: sangat frontal dan terbuka…

Posted in Aussie

Melbourne: Churchill Island and Philippe Island

26 April 2008

Elisa dan Ella telah merencanakan liburan saya di sini. Hari pertama ini akan dihabiskan dengan kunjungan ke Philippe Island dan Churchill Island. Perjalanan menempuh waktu 2 jam. Kali ini Elisa yg menjadi driver ditemani Ella di sampingnya, sementara Grant tidak ikut. Dan saya sendiri duduk di belakang ditemani keranjang piknik.

Objek pertama adalah Churchill Island, yg merupakan pulau kecil yg didesain sebagai miniatur rumah tua Asutralia berikut ladang, kebun, dan binatang ternaknya sperti kuda, ayam, babi, kambing, dan domba.

Memasuki wilayah ini, kita dibawa pada abad-abad pertama Australia dihuni oleh orang-orang Inggris. Yang paling menarik adalah, lokasi objek wisata ini betul-betul ‘dihidupkan’ persis kala itu. Beberapa voluntir sengaja tinggal dan mengenakan pakaian-pakaian tradisional. Jadi, kita benar-benar dapat merasakan langsung kondisi Australia pada waktu itu.

Sekitar satu jam di sana, petualangan kita berlanjut ke Philippe Island. Pulau ini merupakan marga satwanya native animal of Australia. Kebun binatang mini ini khusus melindungi binatang-binatang asli Australia seperti Kangaroo, Koala, Possum, Wombat, Dingo, Echidna, Emu, Tazmania Devil, dan Platypus. Sebelum ke sana kita mampir dulu ke pantai…having lunch dan menikmati dinginnya angin laut selatan Australia.

Satu jam kemudian kita baru beralih ke kebun binatang. Biaya masuk objek wisata ini sebesar AU $15, dan kita hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam karena langit keburu hujan.

Posted in Aussie

Melbourne, I’m Coming!

25 April 2008

Di malam kedua saya diantar taxi dari Lakemba ke Domestic Airport menuju kota kedua yg akan saya kunjungi. Dengan ongkos AU $30, perjalanan memakan waktu 20 menit, dan selama di perjalanan saya dengan driver berbicara banyak hal, termasuk ttg dirinya yg ternyata imigran Libanon. Yap, komunitas perantauan asal Libanon memiliki jumlah yg cukup signfikan di Australia selain Cina dan India.

Well, naik pesawat murah Virgin Blue (AU $79) dan menghabiskan waktu 1,5 jam membawa saya ke sana tepat pukul 9.45 am. Tibalah saya di kota yg pernah menjadi ”The Most Living able City in the World”: Melbourne!

Turun dari pesawat langsung naik Skybus (AU $16) menuju Southern Cross Station yg menempuh waktu 30 menit. Tiba di sana Elisa dan Ella sudah menunggu. Kita langsung ngopi bareng di Starbucks Coffee. Wah seru bgt, menikmati malam di Melbourne ditemani secangkir  Coffee Latte.

Malam kian larut, Ella pun pulang. Lalu saya dan Elisa kembali naik kereta menuju Flinders Station, dekat dengan komplek Monash University. Karena Grant , pacar Elisa, telah menunggu di sana. Tak kurang dari 5 menit, sedan putih tiba menjemput kami. Di tengah perjalanan, kita mampir ke Safeway, semacam Woolsworth yang ada di Canberra (supermarket gitu..tapi di Melbourne 24 jam, klo di Canberra sampe jam 11pm). Beli sedikit makanan dan minuman tuk persiapan besok.

Tepat pukul 2 am, saya tiba di rumah mungil Elisa dan pacarnya di Chadstone. Malam ini, kita tidur pukul 3 am setelah sebelumnya menyantap indomie goreng buatan Elisa, telat banget ya…hehe.

Posted in Aussie

Sydney Opera House and Anzac Day

25 April 2008

Dari pukul 9 am, saya dah siap2 jadi backpacker di Sydney. Perlengkapan dibawa: dompet, kamera (ini wajib hukumnya!! :P), tas punggung, dan handphone. Stasiun kereta terdekat dengan opera house adalah Circle Quay,sekitar 30 menit dari Lakemba. Selama di jalan, saya mengingat-ingat lagi kira-kira apa yg tertinggal. O o..ketika saya mengecek kamera, ternyata MMC nya tertinggal di laptop saya…huhu..menyebalkan. Soalnya semalam saya baru saja transfer foto, setelah seharian jalan-jalan. Di hari kedua ini malah storage nya ketinggalan..hehe. Untung baru sampai Campise Station, lalu saya turun dan balik lagi ke Lakemba.

Sampai Circle Quay, saya hanya berdecak kagum..wah wah..alhamdulillah, sampai juga ke Opera House, salah satu tempat terkenal di dunia yg dulu hanya bias dilihat di TV..hehe..norak bgt ya..wkwkw. Jadi inget pas ke Bangkok, Thailand, dua tahun lalu, pertama kalinya ke luar negeri ya pas ke Bangkok itu. Sempat mengunjungi komplek Raja di sana. Dan patung Budha Tidur yg gedenya minta ampun.

Karena sendirian, saya cuek aja minta tolong difoto dengan orang-orang yg ada di sekitar situ. Banyak juga turisnya, jadi ya cuek aja minta tolong dengan mereka. Sekitar satu jam di sana dan memenuhi hasrat narsis saya, saya langsung cabut dan city walk (jalan-jalan). Nah, kebetulan hari ini Anzac Day (25 April), maka kota Sydney penuh dengan pawai para veteran perang. Wah seru juga…kota ramai dengan pengunjung, para veteran perang dengan bangganya parade di jalan-jalan kota. Sementara toko-toko pada tutup dan akan beroperasi pukul 12 nanti.

Jalan-jalan kota, Darling Harbor, Anzac Bridge, Aquarium, dan tak lupa nyobain Monorail!!! Karena salah satu target saya nyobain salah satu public transportasi ini!! Naik untuk sekali keliling kota cuma $5 (tuk pelajar). Dari atas monorail, kita diajak berkeliling kota Sydney dan melihat padatnya jalan-jalan kota dari atas rel. Monorail ini melintasi kota dan gedung-gedung bertingkat. Seru euy!!

Kapan ya Jakarta punya monorail?? Hiks-hiks…

Posted in Aussie

Sholat di Convenience Store dan Salah Kereta!!

24 April 2008

Saya sholat Ashar dan Dzuhur di Convenience Store. Ya, sebelum ditinggal sendiri oleh Bassam, beliau member tahu klo owner toko ini adalah orang Timur Tengah yg notabene Islam. JAdi, saya sholat jama’ Ashar-Dzhurur di Convenience Store yg nggak jauh dari Paddy’s Market.

“Assalamualaikum brother, do you have prayer room?” saya tanya.

“Mmmmm.. no, but actually there’s Musholla which is not far from here..about..mm, I’m not sure..!” jawab pria pertama sambil menunjukkan arahnya.

“Mmmm ok, thankyou!” jawabku.

Lalu tiba-tiba datang pria kedua dan bilang, “u wanna pray Ashar?”

“Yes, I wanna pray both Ashar and Dzuhur,” jawabku.

Lalu sambungnya, “Ok, follow me.”

Lalu masuklah saya ke bagian belakang toko itu dan mengerjakan sholat tadi.

Alhamdulillah akhirnya bias sholat juga di sini.

Nah, pulang dari sana saya langsung menuju Town Hall mengejar kereta yg akan membawa saya pulang ke Lakemba. Continue reading “Sholat di Convenience Store dan Salah Kereta!!”

Posted in Aussie

Ole-ole di Paddy’s Market

24 April 2008

Pulang dari lunch saya menghantar  seorang dari Sri Lanka – Mahasika – ke stasiun Town Hall. Dan tak lupa, saya pun membeli tiket untuk persiapan balik ke Lakemba. Harga tiketnya $ 3,88 tuk sekali perjalanan (single trip).

Nah, dari sana, tinggallah saya sendiri di kota yg berpenduduk lebih dari 4 juta jiwa ini. Saya keliling-keliling kota, menikmati suasana Sydney yg orang-orangnya begitu sibuk dengan peran sosialnya masing-masing.

Jalan-jalan yg tidak begitu besar dan dihimpit oleh pencakar langit, menambah kesan betapa sibuknya kota ini. Walopun begitu kemacetan nggak pernah terjadi. Kalopun ada, paling nggak karena banyaknya persimpangan dan lampu merah, bukan karena ada yg melanggar peraturan-peraturan tersebut.

Setelah sekian jam keliling dan ‘menjamahi’ kota ini, saya pun menuju supermarket yg menjadi tujuan utama para pelajar internasional ketika mau pulang kampung: Paddy’s Market. Continue reading “Ole-ole di Paddy’s Market”

Posted in Aussie

Lunch Bareng di The Pontoon Bar – Sydney

Bus Greyhound yang membawa saya dari Canberra tepat tiba di Sydney pukul 10am. Bus berkapasitas 50 orang itu menurunkan saya di Central Train Station, Sydney. Suasana siang itu sangat ramai. Ya , itulah kesan pertama saya terhadap kota tersibuk di Negeri Kanguru ini.

Lalu sesuai dengan yg disampaikan Pak Narto, saya langsung membeli tiket kereta untuk perjalanan menuju Lakemba, sebuah suburb di Sydney yg sebagian besar berpenduduk muslim. Jarak Lakemba-Sydney hanya 30 menit ditempuh dengan kereta. Selama di perjalanan, saya ngobrol ringan dengan perempuan Aussie yang saking asyiknya nya ngobrol, kita lupa berkenalan.

Sampai di stasiun Lakemba, saya ditelpon Bassam. Bassam membawa saya dengan sedan putih menuju flat yang dihuni oleh para mahasiswa Indonesia yang sebagian besar kuliah Nursing di sana. Dan tepat pukul 11.30 am, Bassam mengantar saya ke tujuan utama saya ke Sydney, yaitu The Pontoon Bar, di Wharf, Darling Bay, di Sussex Street.

Setibanya di sana, saya terjun sendiri di kota yang baru pertama kali saya injak. Dengan bermodal nekat dan English, saya mencari The Pontoon Bar. Yup, untungnya Eleanor Rivers (Manager of The Peace Scholarship Program) memberi no.hp Davina, salah satu rekan kerjanya yg menggantikannya hadir di lunch yg ia rencanakan sebelumnya. Ya, Eleanor dan putrinya sakit.

Lunch bareng bersama rekan-rekan scholar dari Sri Lanka, Chile, Cambodia, Australia, dan Mexico sungguh menyenangkan. Karena ini kali pertamanya kita bertemu setelah 2,5 bulan tinggal di Aussie.

Posted in Aussie

War Memorial

Kuliah term A akhirnya selesai juga. Semua siswa ELICOS University of Canberra dikumpulkan dalam satu bus besar menuju War Memorial, ya katakana semacam gathering setelah lelah belajar 3 bulan pertama. Akhirnya kesempatan berkunjung ke War Memorial justru datang dari kampus. Sekira lebih dari 100 orang rame-rame mengunjungi museum ini.

War Memorial merupakan museum untuk mengenang pahlawan Aussie ketika perang Dunia I dan II. Terdapat puluhan ribu nama-nama pahlawan yg tertera di sisi kiri dan kanan bagian Dallam bangunan, sangat detil dan rinci.

Lalu di bagian tengah, terdapat kolam tempat melemparkan koin dan memberikan doa kepada arwah pahlawan itu. Menariknya, posisi bangunan ini berada pada satu garis lurus dengan Parliament House: New Parliament House – Old Parliament House – Griffin Lake – War Memorial. Jadi, kalo kita berada pada puncak bangunan baik di War Memorial atopun di Parliament House, akan tampak wiew / sight yang luar biasa indah…benar-benar tertata.

Ya, mungkin karena Canberra adalah kota yang direncanakan, jadi pentaannya benar-benar matang. Bahkan danau Griffin pun danau artificial!

Posted in Aussie

Wollonggong Trip

Angin dingin menyapa kami ketika pertama kali tiba di Wollonggong City Beach, objek pertama dari trip kali ini. Sekitar 50 rombongan mahasiswa Indonesia (termasuk keluarga) turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Saya kali ini kebagian menjadi ketua panitia, mengurusi calon-calon Master dan Doktor lulusan Univ of Canberra. Tapi alhamdulilah semuanya lancar berkat kerja team yg solid: saya, mas Fauzan, mas Juned, mas Dillah, dan mas Indra.

Awalnya trip ini direncanakan berlangsung selama 2 days 1 night, tapi ternyata akomodasi tidak memungkinkan, di samping jadwal yg bertepatan dengan libur sekolah. AKomodasi yang available untuk jumlah segitu hanya mengijinkan untuk menginap lebih dari dua malam. Akhirnya kita putuskan trip ini mejadi One Day Trip, untungnya peserta gak ada yg complain. Continue reading “Wollonggong Trip”

Posted in Aussie

Bangun Rumah, Ijin Tetangga

Satu hal lagi yang membuat saya kagum dengan peraturan di Aussie, yang menurut saya sangat Islami, yaitu ijin mendirikan rumah.

Ketika saya silaturrahmi ke rumah Pak Abrar, beliau menjelaskan kalau ijin mendirikan rumah atau bahkan merenovasi rumah di sini nggak segampang yang kita mau. Mentang-mentang punya uang lalu seenaknya mendirikan rumah.

Tapi, proses perijinan itu melibatkan banyak pihak, pemerintah kota, suburb, dan calon tetangga. Ya, komponen ketiga sangat menarik untuk didiskusikan.

Sebagai contoh, ketika kita sudah membeli tanah dan ingin mendirikan rumah di kawasan X, kita harus minta ijin ke tetangga kanan kiri dan depan belakang. Selama ijin dari mereka belum keluar, maka ijin mendirikan rumah belum bias dikeluarkan. Wow!! That’s amazing, isn’t it?

Hal ini untuk menjaga kenyamanan lingkungan itu, jangan sampai ada yang dirugikan ketika warga baru dating. Bahkan ukuran bangunan atau tinggi bangunan pun harus meperhatikan kondisi bangunan di sekelilingnya, jangan sampai merusak atau mengganggu view (pemandangan) tetangga kita itu. Wah-wah…bener-bener keren!! Dengan aturab ketat ini, nggak heran kalau rumah-rumah di Canberra rata-rata hampir sama dari segi ukuran dan model bangunan.  Toleransi sih..jadi gak begitu kentara antara yang kaya dan yang sangat kaya. Hehe…

Posted in Aussie

Rumah Tak Berpagar

Ada pengalaman menarik ketika saya pertama kali ke rumah Pak Abrar di Tugerranong, Canberra Selatan, semua rumah di daerah sana tak berpagar. Sebetulnya nggak hanya di sana, tapi semua rumah di Aussie…kebetulan aja saya baru concern di rumah beliau.

Sebenarnya nggak juga nggak berpagar, hanya bagian muka rumah aja yg nggak berpagar, sementara kanan kiri dan belakang tetap dipagari. Tapi, pagar tersebut hanya ala kadarnya, hanya untuk membatasi luas tanah dan area. Dan karena saking amannya, rumah-rumah yang berjendela kaca nggak memiliki terali besi. Sangat sangat gampang dimasuki pencuri.

Hal ini menarik ketika kita berbicara tentang kehidupan social di sini. Pertama, kondisi social yang sangat individualis tentu sangat bertolak belakang dg konsep bertetangga tadi. Rumah yang tak berpagar mengesankan pemilik rumah welcome kepada siapa saja yang datang, inclusive. Sementara rumah yg berpagar tinggi mengindikasikan sang pemilik rumah terkesan eksklusif.

Ini hanya sekedar asumsi, berdasarkan pengalaman saya aja. Ketika saya tinggal di kampung halaman, semua rumah gak ada pagarnya, sehingga kita bisa dengan mudah berinteraksi dan saling tegur sapa. Silaturrahmi, sekedar mampir, bercengkerama, bahkan menginap. Tapi ketika rumah berpagar tinggi, orang akan enggan untuk lebih intim berinteraksi, karena kita sudah membatasi diri. Continue reading “Rumah Tak Berpagar”

Posted in Aussie

Air Putih dan Pempek

Setelah 2,5 bulan nggak bersinggungan dengan jajanan khas Indonesia, akhirnya kemarin kesempatan itu dating juga. Jadi pas kita mau belanja ayam potong di Kippex, kita mampir ke warung Asia di sana. Dan, saya bener-bener kaget sekaligus senang tak terkira..Wussup?? Karena di sana disediakan menu Indonesia seperti pempek, ketoprak, mie ayam, dan bakso. Senangnya bukan main!! Nah, untuk mengobati kekangenan ini, saya memilih pempek dan the kotak Sosro sebagai pengalaman pertama saya di sini. Mmmmmm..yummi juga pempeknya, betul-betul persis sama dengan yang di Indonesia…weleh-weleh…

Nah, satu lagi nih yg bikin saya salut di Aussie, air keran nya bias langsung diminum. Jadi kita gak perlu repot-repot beli air gallon atau sekedar masak air mpe mendidih. Karena keran sudah dipasang dengan dua pilihan itu: panas dan dingin. Tinggal pencet aja air mana yang ingin diminum..langsung maknyuuuss.

Kapan ya Negara kita bias kayak gitu…semakin hari semakin gemas saya ingin membangun bangsa ini. Yok temen2..kita bangun Negara kita….dimulai dari diri sendiri: sederhana kok, tinggal nerapin nilai-nilai yang kita pelajari selama SMP ato SMA dulu kayak toleransi, disiplin, saling menghargai. Those are all.

Posted in Aussie

Weekend with My Own Car

Sarana transportasi di Canberra memang nggak sebagus di Sydney dan Melbourne dalam hal jadwal operasi. Bus ACTION hanya beroperasi sampai pukul 11 malam selama Weekdays (Senin-Jumat), itu pun dengan periode tertentu: 5 menit sekali, 15 menit sekali, 30 menit, dan satu jam sekali (periode ini disesuaikan dengan suburb tujuannya). Sementara jadwal Weekend (Sabtu-Minggu), akan lebih sulit lagi memanfaatkan fasilitas ini. Karena hari Sabtu, jadwal operasi hanya satu jam sekali. Sementara Minggu jauh lebih sulit lagi, karena di samping satu jam sekali periodenya, jadwal operasi bus inipun berakhir sampai pukul 7pm.

Jadi nggak heran jika Sabtu Minggu jumlah kendaraan pribadi yang beroperasi meningkat tajam. Ya..ya..lagi –lagi saya kagum, fasilitas umum benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal. Sementara mobil pribadi hanya digunakan ketika Weekend. Seandainya Jakarta kayak gini, mungkin kemacetan juga bias di atasi. Padahal, kalo mau itung-itungan, mobil di sini jauuuuuuuhhh lebih murah. Gaji saya sebulan aja bias beli mobil sedan second yang lumayan. Sementara di Indonesia, dengan harga mobil yang selangit aja, angka kepemilikan kendaraan masih tinggi, apalagi kalo murah kayak di sini…waduh..ayo Pak Presiden..kita ubah karakter bangsa kita..

Posted in Aussie

Halal Gak Ya?

Sebenernya telat saya nulis ini, dah dua bulan lebih baru cerita di sini..hehe. Ya, agak sulit mencari makanan halal di Canberra, gak seperti di Sydney atau Melbourne yang begitu mudah mencari makanan halal. Mungkin karena jumlah penduduk muslim yg begitu kecil di sini sehingga pebisnis kuliner di sini nggak begitu aware dengan makanan halal.

Nah, dari situ, Alhamdulillah sudah ada Halal Guide yang sangat membantu kita. Halal Guide ini disusun oleh tim pengajian Permata Canberra. Walaupun sedikit ribet dengan proses ini, tapi benar-benar terasa keimanan kita diuji. Soalnya makanan enak di mana-mana kawan.

Karena jajanan seperti roti, biscuit, coklat, kue, dll gak semuanya halal, karena mengandung emulsifier yang tidak halal dikonsumsi. Jadi pilihan jajanan gak begitu banyak. Restoran yang jelas-jelas halal adalah Kebab Ali Baba, Jabal di Yaralumla, dan kedai pas hari Jumat di Masjid Abu Bakar Yaralumla. Sementara restoran kayak Kingsley Chicken, Jewel of India, dan Nando, hanya menyediakan beberapa menu yang halal, yaitu ayam.  Continue reading “Halal Gak Ya?”

Posted in Aussie

Week 9: Minggu yang Lelah

Week 9!! Gak terasa udah dua bulan lebih saya tinggal di kota ini, Canberra, kota yang penuh kejutan!! It’s not about gifts or good news but..Cuaca yang gak jelas..hehe. Pagi dingin, berapa jam kemudian panas, lalu sejuk, dan panas lagi. It was terrible, isn’t it? Jadi, salah kostum sudah biasa di sini. 🙂

Minggu ini hari yang lelah, selain rutinitas kampus yang melelahkan dan kerja setiap hari,  progress test juga dimulai minggu ini. Reading, Listening, Grammar, dan Writing test.

Dimulai dengan Listeing test, tentang interview di radio, ya ampun susah banget, penyarnya cepat bgt ngomongnya, kita semua di kelas pada gak nangkep maksud interview itu, alhasil kasetnya diulang lagi..hehe..tapi overall, test kali ini jauh lebih sulit.

Kalo grammar insya Alla masih bisa diatasi. Nah, pas writing test, saya bermasalah dg accuracy.haha…sometime punctuation, ya pokoknya yang kecil-kecil gitulah..tapi justru itu yang bahaya, bisa-bisa meaningnya gak kena..kalo urusan berapa kata, jangan ditanya, gw jago bikin long essay, tapi tetep dengan kekacauan dmn2..hehe..

Posted in Aussie

Daylight Saving, Ayah, dan Teman

Akhirnya hari ini datang juga, Minggu, 6 April 2008. Tepat pukul 2 pagi tadi, seluruh masyarakat Canberra harus me-reset jamnya satu jam lebih awal (mundur satu jam). Yep, jadinya, beda waktu antara Indonesia (WIB) dengan Australia pun menjadi tiga jam. Ya, sebuah pengalaman seru…

Karena kalo kita gak aware dengan hal ini, bisa-bisa jadwl harian kita kacau balau…bayangin aja sampe beda satu jam darijadwal normal…yang namanya janjian, jalan-jalan, dll mulai beraktivitas satu jam lebih awal..hehe…

Dan, pada hari ini juga, maksudnya tanggal segini, ada dua moment tentang dua orang yang saya sayangi. Pertama, ayah saya. Beliau meninggal hari Sabtu, 6 April, 2002, ketika saya masih kelas satu semester kedua SMA. Beliau meninggal karena menderita sakit tumor di perut. Kata dokter, penyakit terbeut sudah kronis dan sudah lama bersarang di sana…tapi karena gak pernah check up, akhirnya hari itu datang juga…ya, kalo udah azal, dimanapu dan kapanpun kita, itu adalah sesuatu yang gak dapat dihindarin. Ayah meninggal pada usia 72 tahun di tahun itu, termasuk orang-orang lama yang sempat merasakan penjajahan Jepang dan Belanda…dan saking lamanya, beliau sendiri gak tau kapan tanggal lahirnya…pun demikian dengan ibu saya yang, Alhamdulillah, masih di rumah. Continue reading “Daylight Saving, Ayah, dan Teman”

Posted in Aussie

Autmn yang Menggila

Sudah hampir seminggu ini Canberra mulai diselimuti Autmn. Dan hampir seminggu ini juga susunan saraf tubuhku makin bekerja tidak sempurna. Udara kering yang dingin membuat otak saraf sedikit lambat bekerja, produktivitasku menurun sekian persen. Apology? Boleh jadi..hoho..

Dan, jadwal matahari terbit tenggelam mulai bergeser beberapa menit, kini jam 7am sudah semakin terang sementara 7.30pm sedikit merangsek jadwal magrib. Semunya berjalan sedikit mendekati normal aktivitas biologisku, tidak terlalu lama menahan lapar dan tidak terlalu pagi keluar apartemen.

Autmn kurasakan sedemikian dinginnya, dan gak tahu bagaimana pertahananku kala Winter menjelang.

Kalau sudah begini, sudah siapkah kau Ikie? 🙂

Posted in Aussie

Finally I Win…

Setelah menunggu lima hari, akhirnya saya berhasil winning laptop itu..hehe. Alhamdulillah menang bidding Laptop Toshiba U300, saya bela-belain telat satu jam masuk kelas demi laptop itu..hehe..lumayanlah, saya bisa beli dg harga AU$1400, kalau di toko masih AU$1999, bahkan ada yang sampei AU$2000an (kurs AU$1 = Rp 8300-an).

Specnya keren banget, Intel Core2Duo, Processor speed 2,2GHz, 2Gb RAM, 250Gb Harddisk, Webcam built in, Bluetooth, Fingerprint reader, Vista, 13 inchi lagi..hehe…bersyukur bgt..walaupun kadang sesak juga ngeluarin duit sebanyak itu..lumayankan kalo dirupiahin bisa sampe 12 jutaan..hiks-hiks..sama dg motor tuh…tapi worthed lah.

Karena besok Jumat itu libur (Easter Day) sampe Senin, maka saya harus sabar hingga Selasa..hiks2…sudah gak sabar nih…

Posted in Aussie

Harmony Day

Hari ini, Rabu (19/03), adalah hari penting bagi University of Canberra. Karena ini merupakan peringatan tahunan untuk perdamaian, yaitu Harmony Day. Dalam peringatan kali ini, salah satu mahasiswa Indonesia, Fauzan, yang juga menjadi Ketua PPIA UC (UCISS) mendapat Harmony Award dari pihak Universitas.

Hanya tiga mahasiswa yang berhasil mendapat award ini…patut bersyukur, setidaknya kita memiliki bargaining position yang kuat di ajang internasional!! salut tuk mas Fauzan…

Nah sorenya…ada performance Tari Saman oleh mas Fauzan, Heri, Ismail, Anika, Citra, mbk Fitri, dan Tantri. Gilaaaaaaa…keren bgt!! semua penonton takjub!! Seruu…hehe..saya jadi ingin ikut…tapi gak bisa ding, karena waktu latihannya yang gak sempet..kerja–kuliah–kerja–kuliah….jalan2…

Posted in Aussie

Tidbinbilla Park dan Hanging Rock

Minggu pagi (16/3) saya ikut jalan-jalan bersama anak-anak TPA ke Tidbinbilla Park (sekitar satu jam lebih dari Canberra). Kita berangkat pukul 10 dari Toad Hall, dan saya ikut mobilnya akh Deden. Di perjalanan agak deg-degan juga karena bensin ampir habis, takutnya kita mogok di jalan, sementara kita gak lewat kota, jadi sempat sport jantung juga hehe..

Tapi alhamdulillah sampe pas banget…di sana kita hiking sebentar sekira 1 jam, abis itu barbecue-an, makan ayam kodok, sosis, beef, dan nasi kuning. Kebetulan Hanah (anaknya mbk Evi) ultah…

Nah, sebelum pulang, kita mampir ke Hanging Rock, itu adalah batu besar tempat Shelter orang Aborigin. Batunya gede bgt dan berada di atas bukit…seru jug euy!!

Posted in Aussie

Tugeranong Mall

Seharusnya hari ini (15/3) saya pergi ke acara silaturrahmi PPIA pusat di rumahnya Windu di Redhill. Tapi karena mas Dilah gak jadi datang, saya juga males datang…ujung2nya, dari pada balik lagi ke apartemen, mending saya jalan aja sekalian entah kemana.

Langsung saya naik bus 313 arah Tugeranong. Ya..kesempatan naik bus ke suburb-suburb yang belum pernah dikunjungi kan cuma seminggu sekali..

Sampai di sana, saya langsung masuk mallnya..gila, panjang amat!! dan pas di jalan, saya teringat kalo Pak Abrar tinggal di Tugeranong. Saya langsung sms beliau. dan Akhirnya saya dijemputnya…

Ternyata di rumah beliau ada tamu dari Sydney. JAdi acara makan2 di sana…mmmmm..

Posted in Aussie

Camping di Boundard Park dan Hobart Beach

Di sini, saya juga ikut komunitas Petualang, kebetulan anggotanya mahasiswa2 Indonesia juga hehe…mahasiswa ANU dan UC, juga mereka yang bekerja di salah satu instansi itu. Kita menghabiskan dua malam di Boundard Park (sekitar 3 jam dari Canberra). Kira-kira ada lima rombongan yang ikut; Mas Teddy dan keluarga (beliau Doktor dan bekerja di ANU), Mbk Evi dan keluarga (beliau adalah mahasiswa S3, Direktur Urusan Internasional sekaligus Dosen UI), Pak Umar dan isteri, Mas Denny dan keluarga, Pak Ramdah, Mas Fauzan, Ma Dilah, dan saya.

Di malam pertama, kita mancing di Tathra, sekitar satu jam dari lokasi camping. Wah seru banget, ikan banyak banget loh!! Saya tiba-tiba jadi hobi memancing…hehe..secara ikannya gampang banget didapet. Saya berhasil mendapat 7 ikan..lumayan lah..hehe..ditotal, kita dapet 30 lebih ekor ikan.

Besok menjelang siang, kita rame2 ke lokasi wisata Eden. Memang keren bgt sob!! Dan sayang sekali kita datang pas summer, biasanya kalo winter, dari lokasi ini kita daapt melihat Paus biru lo..wah!!!

Dan pulang dari Eden kita langsung mamir ke Magic Mountain…kayak Dufan, tapi jauh lebih kecil, tapi saya, mas Dilah, Ika dan Pak Umar gak ikut, jadi kita langsung menuju camping dan bakar ikan yang kita dapat semalam.

Di hari terakhir, kita hiking (susur pantai di Hobart Beach). Seru dan keren bgt!! Air lautnya dingin banget..maklum laut selatan..udah deket Arktik..hehe..terus biasalah, di sana jeprat jepret serasa model..hehe..

Haha..tiga hari yang menyenangkan!!