Posted in Aussie

Melbourne, I’m Coming!

25 April 2008

Di malam kedua saya diantar taxi dari Lakemba ke Domestic Airport menuju kota kedua yg akan saya kunjungi. Dengan ongkos AU $30, perjalanan memakan waktu 20 menit, dan selama di perjalanan saya dengan driver berbicara banyak hal, termasuk ttg dirinya yg ternyata imigran Libanon. Yap, komunitas perantauan asal Libanon memiliki jumlah yg cukup signfikan di Australia selain Cina dan India.

Well, naik pesawat murah Virgin Blue (AU $79) dan menghabiskan waktu 1,5 jam membawa saya ke sana tepat pukul 9.45 am. Tibalah saya di kota yg pernah menjadi ”The Most Living able City in the World”: Melbourne!

Turun dari pesawat langsung naik Skybus (AU $16) menuju Southern Cross Station yg menempuh waktu 30 menit. Tiba di sana Elisa dan Ella sudah menunggu. Kita langsung ngopi bareng di Starbucks Coffee. Wah seru bgt, menikmati malam di Melbourne ditemani secangkir  Coffee Latte.

Malam kian larut, Ella pun pulang. Lalu saya dan Elisa kembali naik kereta menuju Flinders Station, dekat dengan komplek Monash University. Karena Grant , pacar Elisa, telah menunggu di sana. Tak kurang dari 5 menit, sedan putih tiba menjemput kami. Di tengah perjalanan, kita mampir ke Safeway, semacam Woolsworth yang ada di Canberra (supermarket gitu..tapi di Melbourne 24 jam, klo di Canberra sampe jam 11pm). Beli sedikit makanan dan minuman tuk persiapan besok.

Tepat pukul 2 am, saya tiba di rumah mungil Elisa dan pacarnya di Chadstone. Malam ini, kita tidur pukul 3 am setelah sebelumnya menyantap indomie goreng buatan Elisa, telat banget ya…hehe.

Posted in Aussie

Sydney Opera House and Anzac Day

25 April 2008

Dari pukul 9 am, saya dah siap2 jadi backpacker di Sydney. Perlengkapan dibawa: dompet, kamera (ini wajib hukumnya!! :P), tas punggung, dan handphone. Stasiun kereta terdekat dengan opera house adalah Circle Quay,sekitar 30 menit dari Lakemba. Selama di jalan, saya mengingat-ingat lagi kira-kira apa yg tertinggal. O o..ketika saya mengecek kamera, ternyata MMC nya tertinggal di laptop saya…huhu..menyebalkan. Soalnya semalam saya baru saja transfer foto, setelah seharian jalan-jalan. Di hari kedua ini malah storage nya ketinggalan..hehe. Untung baru sampai Campise Station, lalu saya turun dan balik lagi ke Lakemba.

Sampai Circle Quay, saya hanya berdecak kagum..wah wah..alhamdulillah, sampai juga ke Opera House, salah satu tempat terkenal di dunia yg dulu hanya bias dilihat di TV..hehe..norak bgt ya..wkwkw. Jadi inget pas ke Bangkok, Thailand, dua tahun lalu, pertama kalinya ke luar negeri ya pas ke Bangkok itu. Sempat mengunjungi komplek Raja di sana. Dan patung Budha Tidur yg gedenya minta ampun.

Karena sendirian, saya cuek aja minta tolong difoto dengan orang-orang yg ada di sekitar situ. Banyak juga turisnya, jadi ya cuek aja minta tolong dengan mereka. Sekitar satu jam di sana dan memenuhi hasrat narsis saya, saya langsung cabut dan city walk (jalan-jalan). Nah, kebetulan hari ini Anzac Day (25 April), maka kota Sydney penuh dengan pawai para veteran perang. Wah seru juga…kota ramai dengan pengunjung, para veteran perang dengan bangganya parade di jalan-jalan kota. Sementara toko-toko pada tutup dan akan beroperasi pukul 12 nanti.

Jalan-jalan kota, Darling Harbor, Anzac Bridge, Aquarium, dan tak lupa nyobain Monorail!!! Karena salah satu target saya nyobain salah satu public transportasi ini!! Naik untuk sekali keliling kota cuma $5 (tuk pelajar). Dari atas monorail, kita diajak berkeliling kota Sydney dan melihat padatnya jalan-jalan kota dari atas rel. Monorail ini melintasi kota dan gedung-gedung bertingkat. Seru euy!!

Kapan ya Jakarta punya monorail?? Hiks-hiks…

Posted in Aussie

Sholat di Convenience Store dan Salah Kereta!!

24 April 2008

Saya sholat Ashar dan Dzuhur di Convenience Store. Ya, sebelum ditinggal sendiri oleh Bassam, beliau member tahu klo owner toko ini adalah orang Timur Tengah yg notabene Islam. JAdi, saya sholat jama’ Ashar-Dzhurur di Convenience Store yg nggak jauh dari Paddy’s Market.

“Assalamualaikum brother, do you have prayer room?” saya tanya.

“Mmmmm.. no, but actually there’s Musholla which is not far from here..about..mm, I’m not sure..!” jawab pria pertama sambil menunjukkan arahnya.

“Mmmm ok, thankyou!” jawabku.

Lalu tiba-tiba datang pria kedua dan bilang, “u wanna pray Ashar?”

“Yes, I wanna pray both Ashar and Dzuhur,” jawabku.

Lalu sambungnya, “Ok, follow me.”

Lalu masuklah saya ke bagian belakang toko itu dan mengerjakan sholat tadi.

Alhamdulillah akhirnya bias sholat juga di sini.

Nah, pulang dari sana saya langsung menuju Town Hall mengejar kereta yg akan membawa saya pulang ke Lakemba. Continue reading “Sholat di Convenience Store dan Salah Kereta!!”

Posted in Aussie

Ole-ole di Paddy’s Market

24 April 2008

Pulang dari lunch saya menghantar  seorang dari Sri Lanka – Mahasika – ke stasiun Town Hall. Dan tak lupa, saya pun membeli tiket untuk persiapan balik ke Lakemba. Harga tiketnya $ 3,88 tuk sekali perjalanan (single trip).

Nah, dari sana, tinggallah saya sendiri di kota yg berpenduduk lebih dari 4 juta jiwa ini. Saya keliling-keliling kota, menikmati suasana Sydney yg orang-orangnya begitu sibuk dengan peran sosialnya masing-masing.

Jalan-jalan yg tidak begitu besar dan dihimpit oleh pencakar langit, menambah kesan betapa sibuknya kota ini. Walopun begitu kemacetan nggak pernah terjadi. Kalopun ada, paling nggak karena banyaknya persimpangan dan lampu merah, bukan karena ada yg melanggar peraturan-peraturan tersebut.

Setelah sekian jam keliling dan ‘menjamahi’ kota ini, saya pun menuju supermarket yg menjadi tujuan utama para pelajar internasional ketika mau pulang kampung: Paddy’s Market. Continue reading “Ole-ole di Paddy’s Market”

Posted in Aussie

Lunch Bareng di The Pontoon Bar – Sydney

Bus Greyhound yang membawa saya dari Canberra tepat tiba di Sydney pukul 10am. Bus berkapasitas 50 orang itu menurunkan saya di Central Train Station, Sydney. Suasana siang itu sangat ramai. Ya , itulah kesan pertama saya terhadap kota tersibuk di Negeri Kanguru ini.

Lalu sesuai dengan yg disampaikan Pak Narto, saya langsung membeli tiket kereta untuk perjalanan menuju Lakemba, sebuah suburb di Sydney yg sebagian besar berpenduduk muslim. Jarak Lakemba-Sydney hanya 30 menit ditempuh dengan kereta. Selama di perjalanan, saya ngobrol ringan dengan perempuan Aussie yang saking asyiknya nya ngobrol, kita lupa berkenalan.

Sampai di stasiun Lakemba, saya ditelpon Bassam. Bassam membawa saya dengan sedan putih menuju flat yang dihuni oleh para mahasiswa Indonesia yang sebagian besar kuliah Nursing di sana. Dan tepat pukul 11.30 am, Bassam mengantar saya ke tujuan utama saya ke Sydney, yaitu The Pontoon Bar, di Wharf, Darling Bay, di Sussex Street.

Setibanya di sana, saya terjun sendiri di kota yang baru pertama kali saya injak. Dengan bermodal nekat dan English, saya mencari The Pontoon Bar. Yup, untungnya Eleanor Rivers (Manager of The Peace Scholarship Program) memberi no.hp Davina, salah satu rekan kerjanya yg menggantikannya hadir di lunch yg ia rencanakan sebelumnya. Ya, Eleanor dan putrinya sakit.

Lunch bareng bersama rekan-rekan scholar dari Sri Lanka, Chile, Cambodia, Australia, dan Mexico sungguh menyenangkan. Karena ini kali pertamanya kita bertemu setelah 2,5 bulan tinggal di Aussie.

Posted in Aussie

War Memorial

Kuliah term A akhirnya selesai juga. Semua siswa ELICOS University of Canberra dikumpulkan dalam satu bus besar menuju War Memorial, ya katakana semacam gathering setelah lelah belajar 3 bulan pertama. Akhirnya kesempatan berkunjung ke War Memorial justru datang dari kampus. Sekira lebih dari 100 orang rame-rame mengunjungi museum ini.

War Memorial merupakan museum untuk mengenang pahlawan Aussie ketika perang Dunia I dan II. Terdapat puluhan ribu nama-nama pahlawan yg tertera di sisi kiri dan kanan bagian Dallam bangunan, sangat detil dan rinci.

Lalu di bagian tengah, terdapat kolam tempat melemparkan koin dan memberikan doa kepada arwah pahlawan itu. Menariknya, posisi bangunan ini berada pada satu garis lurus dengan Parliament House: New Parliament House – Old Parliament House – Griffin Lake – War Memorial. Jadi, kalo kita berada pada puncak bangunan baik di War Memorial atopun di Parliament House, akan tampak wiew / sight yang luar biasa indah…benar-benar tertata.

Ya, mungkin karena Canberra adalah kota yang direncanakan, jadi pentaannya benar-benar matang. Bahkan danau Griffin pun danau artificial!

Posted in Aussie

Wollonggong Trip

Angin dingin menyapa kami ketika pertama kali tiba di Wollonggong City Beach, objek pertama dari trip kali ini. Sekitar 50 rombongan mahasiswa Indonesia (termasuk keluarga) turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Saya kali ini kebagian menjadi ketua panitia, mengurusi calon-calon Master dan Doktor lulusan Univ of Canberra. Tapi alhamdulilah semuanya lancar berkat kerja team yg solid: saya, mas Fauzan, mas Juned, mas Dillah, dan mas Indra.

Awalnya trip ini direncanakan berlangsung selama 2 days 1 night, tapi ternyata akomodasi tidak memungkinkan, di samping jadwal yg bertepatan dengan libur sekolah. AKomodasi yang available untuk jumlah segitu hanya mengijinkan untuk menginap lebih dari dua malam. Akhirnya kita putuskan trip ini mejadi One Day Trip, untungnya peserta gak ada yg complain. Continue reading “Wollonggong Trip”

Posted in Aussie

Bangun Rumah, Ijin Tetangga

Satu hal lagi yang membuat saya kagum dengan peraturan di Aussie, yang menurut saya sangat Islami, yaitu ijin mendirikan rumah.

Ketika saya silaturrahmi ke rumah Pak Abrar, beliau menjelaskan kalau ijin mendirikan rumah atau bahkan merenovasi rumah di sini nggak segampang yang kita mau. Mentang-mentang punya uang lalu seenaknya mendirikan rumah.

Tapi, proses perijinan itu melibatkan banyak pihak, pemerintah kota, suburb, dan calon tetangga. Ya, komponen ketiga sangat menarik untuk didiskusikan.

Sebagai contoh, ketika kita sudah membeli tanah dan ingin mendirikan rumah di kawasan X, kita harus minta ijin ke tetangga kanan kiri dan depan belakang. Selama ijin dari mereka belum keluar, maka ijin mendirikan rumah belum bias dikeluarkan. Wow!! That’s amazing, isn’t it?

Hal ini untuk menjaga kenyamanan lingkungan itu, jangan sampai ada yang dirugikan ketika warga baru dating. Bahkan ukuran bangunan atau tinggi bangunan pun harus meperhatikan kondisi bangunan di sekelilingnya, jangan sampai merusak atau mengganggu view (pemandangan) tetangga kita itu. Wah-wah…bener-bener keren!! Dengan aturab ketat ini, nggak heran kalau rumah-rumah di Canberra rata-rata hampir sama dari segi ukuran dan model bangunan.  Toleransi sih..jadi gak begitu kentara antara yang kaya dan yang sangat kaya. Hehe…

Posted in Aussie

Rumah Tak Berpagar

Ada pengalaman menarik ketika saya pertama kali ke rumah Pak Abrar di Tugerranong, Canberra Selatan, semua rumah di daerah sana tak berpagar. Sebetulnya nggak hanya di sana, tapi semua rumah di Aussie…kebetulan aja saya baru concern di rumah beliau.

Sebenarnya nggak juga nggak berpagar, hanya bagian muka rumah aja yg nggak berpagar, sementara kanan kiri dan belakang tetap dipagari. Tapi, pagar tersebut hanya ala kadarnya, hanya untuk membatasi luas tanah dan area. Dan karena saking amannya, rumah-rumah yang berjendela kaca nggak memiliki terali besi. Sangat sangat gampang dimasuki pencuri.

Hal ini menarik ketika kita berbicara tentang kehidupan social di sini. Pertama, kondisi social yang sangat individualis tentu sangat bertolak belakang dg konsep bertetangga tadi. Rumah yang tak berpagar mengesankan pemilik rumah welcome kepada siapa saja yang datang, inclusive. Sementara rumah yg berpagar tinggi mengindikasikan sang pemilik rumah terkesan eksklusif.

Ini hanya sekedar asumsi, berdasarkan pengalaman saya aja. Ketika saya tinggal di kampung halaman, semua rumah gak ada pagarnya, sehingga kita bisa dengan mudah berinteraksi dan saling tegur sapa. Silaturrahmi, sekedar mampir, bercengkerama, bahkan menginap. Tapi ketika rumah berpagar tinggi, orang akan enggan untuk lebih intim berinteraksi, karena kita sudah membatasi diri. Continue reading “Rumah Tak Berpagar”

Posted in Aussie

Air Putih dan Pempek

Setelah 2,5 bulan nggak bersinggungan dengan jajanan khas Indonesia, akhirnya kemarin kesempatan itu dating juga. Jadi pas kita mau belanja ayam potong di Kippex, kita mampir ke warung Asia di sana. Dan, saya bener-bener kaget sekaligus senang tak terkira..Wussup?? Karena di sana disediakan menu Indonesia seperti pempek, ketoprak, mie ayam, dan bakso. Senangnya bukan main!! Nah, untuk mengobati kekangenan ini, saya memilih pempek dan the kotak Sosro sebagai pengalaman pertama saya di sini. Mmmmmm..yummi juga pempeknya, betul-betul persis sama dengan yang di Indonesia…weleh-weleh…

Nah, satu lagi nih yg bikin saya salut di Aussie, air keran nya bias langsung diminum. Jadi kita gak perlu repot-repot beli air gallon atau sekedar masak air mpe mendidih. Karena keran sudah dipasang dengan dua pilihan itu: panas dan dingin. Tinggal pencet aja air mana yang ingin diminum..langsung maknyuuuss.

Kapan ya Negara kita bias kayak gitu…semakin hari semakin gemas saya ingin membangun bangsa ini. Yok temen2..kita bangun Negara kita….dimulai dari diri sendiri: sederhana kok, tinggal nerapin nilai-nilai yang kita pelajari selama SMP ato SMA dulu kayak toleransi, disiplin, saling menghargai. Those are all.

Posted in Aussie

Weekend with My Own Car

Sarana transportasi di Canberra memang nggak sebagus di Sydney dan Melbourne dalam hal jadwal operasi. Bus ACTION hanya beroperasi sampai pukul 11 malam selama Weekdays (Senin-Jumat), itu pun dengan periode tertentu: 5 menit sekali, 15 menit sekali, 30 menit, dan satu jam sekali (periode ini disesuaikan dengan suburb tujuannya). Sementara jadwal Weekend (Sabtu-Minggu), akan lebih sulit lagi memanfaatkan fasilitas ini. Karena hari Sabtu, jadwal operasi hanya satu jam sekali. Sementara Minggu jauh lebih sulit lagi, karena di samping satu jam sekali periodenya, jadwal operasi bus inipun berakhir sampai pukul 7pm.

Jadi nggak heran jika Sabtu Minggu jumlah kendaraan pribadi yang beroperasi meningkat tajam. Ya..ya..lagi –lagi saya kagum, fasilitas umum benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal. Sementara mobil pribadi hanya digunakan ketika Weekend. Seandainya Jakarta kayak gini, mungkin kemacetan juga bias di atasi. Padahal, kalo mau itung-itungan, mobil di sini jauuuuuuuhhh lebih murah. Gaji saya sebulan aja bias beli mobil sedan second yang lumayan. Sementara di Indonesia, dengan harga mobil yang selangit aja, angka kepemilikan kendaraan masih tinggi, apalagi kalo murah kayak di sini…waduh..ayo Pak Presiden..kita ubah karakter bangsa kita..

Posted in Aussie

Halal Gak Ya?

Sebenernya telat saya nulis ini, dah dua bulan lebih baru cerita di sini..hehe. Ya, agak sulit mencari makanan halal di Canberra, gak seperti di Sydney atau Melbourne yang begitu mudah mencari makanan halal. Mungkin karena jumlah penduduk muslim yg begitu kecil di sini sehingga pebisnis kuliner di sini nggak begitu aware dengan makanan halal.

Nah, dari situ, Alhamdulillah sudah ada Halal Guide yang sangat membantu kita. Halal Guide ini disusun oleh tim pengajian Permata Canberra. Walaupun sedikit ribet dengan proses ini, tapi benar-benar terasa keimanan kita diuji. Soalnya makanan enak di mana-mana kawan.

Karena jajanan seperti roti, biscuit, coklat, kue, dll gak semuanya halal, karena mengandung emulsifier yang tidak halal dikonsumsi. Jadi pilihan jajanan gak begitu banyak. Restoran yang jelas-jelas halal adalah Kebab Ali Baba, Jabal di Yaralumla, dan kedai pas hari Jumat di Masjid Abu Bakar Yaralumla. Sementara restoran kayak Kingsley Chicken, Jewel of India, dan Nando, hanya menyediakan beberapa menu yang halal, yaitu ayam.  Continue reading “Halal Gak Ya?”

Posted in Aussie

Week 9: Minggu yang Lelah

Week 9!! Gak terasa udah dua bulan lebih saya tinggal di kota ini, Canberra, kota yang penuh kejutan!! It’s not about gifts or good news but..Cuaca yang gak jelas..hehe. Pagi dingin, berapa jam kemudian panas, lalu sejuk, dan panas lagi. It was terrible, isn’t it? Jadi, salah kostum sudah biasa di sini. 🙂

Minggu ini hari yang lelah, selain rutinitas kampus yang melelahkan dan kerja setiap hari,  progress test juga dimulai minggu ini. Reading, Listening, Grammar, dan Writing test.

Dimulai dengan Listeing test, tentang interview di radio, ya ampun susah banget, penyarnya cepat bgt ngomongnya, kita semua di kelas pada gak nangkep maksud interview itu, alhasil kasetnya diulang lagi..hehe..tapi overall, test kali ini jauh lebih sulit.

Kalo grammar insya Alla masih bisa diatasi. Nah, pas writing test, saya bermasalah dg accuracy.haha…sometime punctuation, ya pokoknya yang kecil-kecil gitulah..tapi justru itu yang bahaya, bisa-bisa meaningnya gak kena..kalo urusan berapa kata, jangan ditanya, gw jago bikin long essay, tapi tetep dengan kekacauan dmn2..hehe..

Posted in Aussie

Daylight Saving, Ayah, dan Teman

Akhirnya hari ini datang juga, Minggu, 6 April 2008. Tepat pukul 2 pagi tadi, seluruh masyarakat Canberra harus me-reset jamnya satu jam lebih awal (mundur satu jam). Yep, jadinya, beda waktu antara Indonesia (WIB) dengan Australia pun menjadi tiga jam. Ya, sebuah pengalaman seru…

Karena kalo kita gak aware dengan hal ini, bisa-bisa jadwl harian kita kacau balau…bayangin aja sampe beda satu jam darijadwal normal…yang namanya janjian, jalan-jalan, dll mulai beraktivitas satu jam lebih awal..hehe…

Dan, pada hari ini juga, maksudnya tanggal segini, ada dua moment tentang dua orang yang saya sayangi. Pertama, ayah saya. Beliau meninggal hari Sabtu, 6 April, 2002, ketika saya masih kelas satu semester kedua SMA. Beliau meninggal karena menderita sakit tumor di perut. Kata dokter, penyakit terbeut sudah kronis dan sudah lama bersarang di sana…tapi karena gak pernah check up, akhirnya hari itu datang juga…ya, kalo udah azal, dimanapu dan kapanpun kita, itu adalah sesuatu yang gak dapat dihindarin. Ayah meninggal pada usia 72 tahun di tahun itu, termasuk orang-orang lama yang sempat merasakan penjajahan Jepang dan Belanda…dan saking lamanya, beliau sendiri gak tau kapan tanggal lahirnya…pun demikian dengan ibu saya yang, Alhamdulillah, masih di rumah. Continue reading “Daylight Saving, Ayah, dan Teman”

Posted in Umum

About Peace Generation

First moment I know about Peace as a study by joining Peace Camp for Student on January 2005. I know this event by listening to the radio in the night in my little boarding house in Yogyakarta. Peace Camp!! It sounded interesting. Something made me nervous was deadline of registration, because it would be closed on tomorrow. So, without listening to anything else in the radio, I prepared immediately everything which should be submitted in the applications. Well, through long competitions and many steps of selection, I passed and became one of the participants.

5 days involved as participant in the event gave me much knowledge about peace. We got valuable experiences how peace influenced and pushed world to be better, conflict reconciliations, peace method, cultural understanding, interpersonal communication skill, and heart approach to build good relations with each other. That time was my unmemorable experience to know Peace Generation as an organizer of the event. And now, I became a part of it.

After involved 2 years in Peace Generation we held many activities concerning peace. We held International Peace Camp for Student 2007 on January 2007 in Yogyakarta that was our media to transfer and train participant about peace approach to solve conflict and problem. We also held peace campaign on Annual International Peace Day, Peace Handicrafts Competition, and Talk show about Peace. Continue reading “About Peace Generation”

Posted in Aussie

Autmn yang Menggila

Sudah hampir seminggu ini Canberra mulai diselimuti Autmn. Dan hampir seminggu ini juga susunan saraf tubuhku makin bekerja tidak sempurna. Udara kering yang dingin membuat otak saraf sedikit lambat bekerja, produktivitasku menurun sekian persen. Apology? Boleh jadi..hoho..

Dan, jadwal matahari terbit tenggelam mulai bergeser beberapa menit, kini jam 7am sudah semakin terang sementara 7.30pm sedikit merangsek jadwal magrib. Semunya berjalan sedikit mendekati normal aktivitas biologisku, tidak terlalu lama menahan lapar dan tidak terlalu pagi keluar apartemen.

Autmn kurasakan sedemikian dinginnya, dan gak tahu bagaimana pertahananku kala Winter menjelang.

Kalau sudah begini, sudah siapkah kau Ikie? 🙂

Posted in Aussie

Finally I Win…

Setelah menunggu lima hari, akhirnya saya berhasil winning laptop itu..hehe. Alhamdulillah menang bidding Laptop Toshiba U300, saya bela-belain telat satu jam masuk kelas demi laptop itu..hehe..lumayanlah, saya bisa beli dg harga AU$1400, kalau di toko masih AU$1999, bahkan ada yang sampei AU$2000an (kurs AU$1 = Rp 8300-an).

Specnya keren banget, Intel Core2Duo, Processor speed 2,2GHz, 2Gb RAM, 250Gb Harddisk, Webcam built in, Bluetooth, Fingerprint reader, Vista, 13 inchi lagi..hehe…bersyukur bgt..walaupun kadang sesak juga ngeluarin duit sebanyak itu..lumayankan kalo dirupiahin bisa sampe 12 jutaan..hiks-hiks..sama dg motor tuh…tapi worthed lah.

Karena besok Jumat itu libur (Easter Day) sampe Senin, maka saya harus sabar hingga Selasa..hiks2…sudah gak sabar nih…

Posted in Aussie

Harmony Day

Hari ini, Rabu (19/03), adalah hari penting bagi University of Canberra. Karena ini merupakan peringatan tahunan untuk perdamaian, yaitu Harmony Day. Dalam peringatan kali ini, salah satu mahasiswa Indonesia, Fauzan, yang juga menjadi Ketua PPIA UC (UCISS) mendapat Harmony Award dari pihak Universitas.

Hanya tiga mahasiswa yang berhasil mendapat award ini…patut bersyukur, setidaknya kita memiliki bargaining position yang kuat di ajang internasional!! salut tuk mas Fauzan…

Nah sorenya…ada performance Tari Saman oleh mas Fauzan, Heri, Ismail, Anika, Citra, mbk Fitri, dan Tantri. Gilaaaaaaa…keren bgt!! semua penonton takjub!! Seruu…hehe..saya jadi ingin ikut…tapi gak bisa ding, karena waktu latihannya yang gak sempet..kerja–kuliah–kerja–kuliah….jalan2…

Posted in Aussie

Tidbinbilla Park dan Hanging Rock

Minggu pagi (16/3) saya ikut jalan-jalan bersama anak-anak TPA ke Tidbinbilla Park (sekitar satu jam lebih dari Canberra). Kita berangkat pukul 10 dari Toad Hall, dan saya ikut mobilnya akh Deden. Di perjalanan agak deg-degan juga karena bensin ampir habis, takutnya kita mogok di jalan, sementara kita gak lewat kota, jadi sempat sport jantung juga hehe..

Tapi alhamdulillah sampe pas banget…di sana kita hiking sebentar sekira 1 jam, abis itu barbecue-an, makan ayam kodok, sosis, beef, dan nasi kuning. Kebetulan Hanah (anaknya mbk Evi) ultah…

Nah, sebelum pulang, kita mampir ke Hanging Rock, itu adalah batu besar tempat Shelter orang Aborigin. Batunya gede bgt dan berada di atas bukit…seru jug euy!!

Posted in Aussie

Tugeranong Mall

Seharusnya hari ini (15/3) saya pergi ke acara silaturrahmi PPIA pusat di rumahnya Windu di Redhill. Tapi karena mas Dilah gak jadi datang, saya juga males datang…ujung2nya, dari pada balik lagi ke apartemen, mending saya jalan aja sekalian entah kemana.

Langsung saya naik bus 313 arah Tugeranong. Ya..kesempatan naik bus ke suburb-suburb yang belum pernah dikunjungi kan cuma seminggu sekali..

Sampai di sana, saya langsung masuk mallnya..gila, panjang amat!! dan pas di jalan, saya teringat kalo Pak Abrar tinggal di Tugeranong. Saya langsung sms beliau. dan Akhirnya saya dijemputnya…

Ternyata di rumah beliau ada tamu dari Sydney. JAdi acara makan2 di sana…mmmmm..

Posted in Aussie

Camping di Boundard Park dan Hobart Beach

Di sini, saya juga ikut komunitas Petualang, kebetulan anggotanya mahasiswa2 Indonesia juga hehe…mahasiswa ANU dan UC, juga mereka yang bekerja di salah satu instansi itu. Kita menghabiskan dua malam di Boundard Park (sekitar 3 jam dari Canberra). Kira-kira ada lima rombongan yang ikut; Mas Teddy dan keluarga (beliau Doktor dan bekerja di ANU), Mbk Evi dan keluarga (beliau adalah mahasiswa S3, Direktur Urusan Internasional sekaligus Dosen UI), Pak Umar dan isteri, Mas Denny dan keluarga, Pak Ramdah, Mas Fauzan, Ma Dilah, dan saya.

Di malam pertama, kita mancing di Tathra, sekitar satu jam dari lokasi camping. Wah seru banget, ikan banyak banget loh!! Saya tiba-tiba jadi hobi memancing…hehe..secara ikannya gampang banget didapet. Saya berhasil mendapat 7 ikan..lumayan lah..hehe..ditotal, kita dapet 30 lebih ekor ikan.

Besok menjelang siang, kita rame2 ke lokasi wisata Eden. Memang keren bgt sob!! Dan sayang sekali kita datang pas summer, biasanya kalo winter, dari lokasi ini kita daapt melihat Paus biru lo..wah!!!

Dan pulang dari Eden kita langsung mamir ke Magic Mountain…kayak Dufan, tapi jauh lebih kecil, tapi saya, mas Dilah, Ika dan Pak Umar gak ikut, jadi kita langsung menuju camping dan bakar ikan yang kita dapat semalam.

Di hari terakhir, kita hiking (susur pantai di Hobart Beach). Seru dan keren bgt!! Air lautnya dingin banget..maklum laut selatan..udah deket Arktik..hehe..terus biasalah, di sana jeprat jepret serasa model..hehe..

Haha..tiga hari yang menyenangkan!!

Posted in Aussie

PPIA ACT Welcoming Party

Sabtu kemarin (1 Maret) Persatuan Pelajar Indonesia – Australia (PPIA) Australia Capital Territory’s (ACT)  mengadakan welcoming party di Lake Burkley Griffin. Rame banget yang datang pada acara ini. Selain itu, acara ini juga organized by PPIA ACT, PPIA ANU, dan PPIA UC. Nah, saya mewakili PPIA UC menjadi bagian dalam kepanitiaan acara ini. Saya menyiapkan  game outdoor untuk sesi fun games.

Sebetulnya games ini dipersiapkan pas acara welcoming party di UC Minggu lalu, tapi karena gak jadi, maka games ini dimainkan pada acara ini.  Saya si anak baru tau-tau langsung nimbrung aja..haha..padahal bukan pengurus..hehe..

Ada beberapa games yang saya mainkan, game matematika, tali, dan apalgi ya..lupa dink..hehe..seru juga bisa mainin para peserta, padahal mereka adalah para pejabat Kedutaan Besar RI..hehe..piss Pak!!

Posted in Aussie

Salah Beli Laptop

Wah, ini dia kalo info yang didapet gak jelas…sebelum saya bidding di ebay tuk beli laptop Toshiba, saya kira 15,4″ tidak sebesar setelah saya lihat aslinya. Wah, ternyata berat juga..saya beli di ebay seharga AU$870 (kurs AU$1 = Rp 8500)…dan karena gak puas, langsung besoknya saya bikin iklan di milis dan bikin pengumuman di kampus.

Saya jual laptop itu..dan alhamdulillah laku dengan cepat, bahkan ada lima calon pembeli loh…padahal saya pasang harga lebih dari harga beli saya, hehe..karena harga di toko, laptop Toshiba A200, Intel Core2Duo, HardDisk 160Gb, Built in Camera, dll itu harganya AU$1200-1300. Jadi, banyak bgt peminatnya..kebetulan aja saya dapat murah..hehe..

Yang beli laptop saya akhirnya mahasiswa Kenya, namanya Moses, mahasiswa Master di UC jurusan Farmasi. Orangnya sangat baik dan ramah, dan dia sudah dua tahun tinggal di Canberra bersama keluarganya.

Posted in Aussie

Tolak Kingsley Terima ATO

Haha..karena ada tawaran kerja yang lebih tinggi rates dan jamkerjanya, tawaran menjadi Kitchen Hand di Kingsley Chicken saya tolak..hehe..

Alhamdulillah, akhirnya bisa kerja juga di Kantor Pajak Aussie, (Australian Tax Office), Canberra. Dari awal tiba di sini, saya udah muter otak dan cari2 info gimana caranya bisa kerja sambil kuliah. Akhirnya, mbk Fitri, salah satu teman di UC kebetulan mau keluar dari UC dan sedang mencari pengganti. Gayung bersambut, saya pun menghubunginya.

Dan pas tanggal 5 Maret, adalah hari pertama saya kerja!! Ups…jangan tanya posisinya apa..hehe..di kantor ini saya kerja sebagai cleaner, bukan kerja di bidang pajak (wkwkwkwk… :p).

Saya bertanggungjawab atas lantai 3 dan 4 kantor ini. Sehabis kuliah dari jam 5 sampe jam 9 malam saya kerja. Otomatis pulangnya langsung teler bgt, dan itu dari Senin mpe Jumat. Kebayangkan!! Saya kerja penuh 20 jam karena mahasiswa internasional dibatasi kerja maksimal 20 jam seminggu. Jadi pas banget saya kerja di sana, sehari 4 jam dikali lima hari..wah.wah..lumayanlah capek dan bayarannya…hehe..kapan lagi dibayar pake dollar, ya gak!! 😛

Posted in Komunikasi

Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

dalam Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan

Gerakan Pramuka Indonesia

(dalam proses pembinaan pramuka usia siaga 7-10 tahun)

Latar belakang

Sebagai makhluk sosial manusia tidak terlepas dari hubungannya dengan manusia lainnya. Apa yang ia lakukan dan apa yang sampaikan akan selalu bersinggungan dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Pelbagai kebutuhan pokok, misalnya, makan, minum, berpakaian, mencari pekerjaan, dan lain-lain. Kesemua kebutuhan tersebut akan dan hanya akan terpenuhi jika ia melakukan transaksi dan komunikasi dengan manusia lainnya.

Komunikasi dan transaksi yang terjalin tersebut lebih dikarenakan aspek primer yang menjadi hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, ia membutuhkan bantuan orang lain. Berangkat dari sifat dasar manusia dalam hal pemenuhan kebutuhan inilah kebutuhan untuk berkomunikasi pun harus digenapi.

Kebutuhan komunikasi ini dibangun dan dikonstruksi serta mengalami internalisasi sejak kecil. Ketika mengalami fase bayi atau balita, seyogyanya seorang anak telah mendapat pelajaran komunikasi oleh kedua orangtuanya. Bagaimana cara mengucapkan huruf, bagaimana memanggil “mama’, atau bagaimana instruksi lapar maupun marah. Menariknya, anak-anak memiliki kemampuan mengingat jauh lebih besar dari orang dewasa, hal ini karena memori anak-anak masih kosong dan belum terdistrosi oleh memori atau pengalaman-pengalamannya di dunia.

Gerakan pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang diakui oleh Negara Republik Indonesa (berdasar Kepres No. 283 Th 1961) memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Gerakan Pramuka juga memiliki posisi strategis mengingat Pramuka adalah kegiatan pendidikan nonformal di luar sekolah. Hal inilah yang kemudian menjadikan pramuka berguna dan berjasa besar menjadi media pembelajaran anak-anak.

Bagaimana Pramuka menerapkan metode pendidikannya kepada anak didik usia siaga (sekira kelas 1 s.d kelas 4 SD)? Bagaimana konsep learning by doing yang juga merupakan konsep orality dan literacy diterapkan? Di sini tampak jelas terjadinya proses hibridisasi antara kedua konsep tersebut. Hal ini dikarenakan pramuka memiliki metode pembelajaran yang menyentuh dan menggunakan multi indera. Misalnya pembelajaran sandi-sandi dan tanda arah. Selain itu proses pengenalan dan pendidikan nasionalisme pun tidak melulu diajarkan secara konvensional tetapi menggunakan game dan lagu-lagu. Continue reading “Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy”

Posted in Komunikasi

Umpan Balik: Unsur Penentu Keberhasilan Komunikasi

Komunikasi merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Komunikasi yang baik tentunya akan menciptakan hubungan yang harmonis antarsesama. Keberhasilan komunikasi ini bila ditinjau dari segi keilmuan, maka dapat ditelaah berdasarkan unrsur-unsur yang ada di dalamnya, yaitu komunikator, pesan, media, komunikan, dan umpan balik. Kelima unsur yang merupakan hasil kajian Harold Laswell ini saling berkaitan dan mempengaruhi. Di antara kelima unsur ini, umpan balik merupakan unsur yang paling penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi.

Keberhasilan komunikasi bisa dilihat dari tujuannya: tercapai atau tidak. Selain itu, sebelum melakukan komunikasi, kita harus mengetahui siapa sasaran kita. Dalam hal ini, komunikator memainkan peranan penting dalam komunikasi. Tujuan dari pesan itu sendiri harus disesuaikan dengan jenis pesan yang akan disampaikan. Apakah hanya supaya  komunikan megetahui (metode informative) atau komunikan melakukan tindakan tertentu (persuasif atau instruktif). Continue reading “Umpan Balik: Unsur Penentu Keberhasilan Komunikasi”

Posted in Aussie

Features

Ini gedung ELICOS, tempat saya kuliah. Di gedung 20 inilah mahasiswa Internasional dari manca negara kursus Bahasa Inggris atau IELTS preparation. Baik untuk melanjutkan Bachelor, Master, maupun Ph.D.

Di Australia, ELICOS di University of Canberra merupakan yang terbaik. Pusat IELTS ada di sini. Dan untuk kredibilitas lulusan, lulusan University of Canberra merupakan lulusan penerima gaji tertinggi nomor dua di Australia. Artinya, kampus ini mencetak lulusan yang arahnya lebih ke praktisi.

Ini adalah salah satu air mancur terkenal di danau Griffin, Canberra. Danau ini yang membela kota Canberra menjadi dua bagian.

Posted in Aussie

Canberra yang Hening_Revised :)

Ketika pertama kali melihat lanskap Canberra dari pesawat udara, saya bertanya-tanya, di manakah letak kota ini? Ternyata benar, ketika mendarat, Canberra tak lebih sebuah kota kecil yang sepi. Udara dingin yang menembus kulit menyelimuti hari pertama saya kali itu. Disambut musim panas yang begitu lembab, membuat saya berpikir, ”Summer saja sedingin ini, apalagi Winter, ya?” Begitulah kira-kira kesan pertama saya terhadap  kota yang penduduknya hanya sepersepuluh dari penduduk Jakarta. Dan sekarang, tak terasa sudah hampir dua bulan saya menghirup bersihnya udara dan heningnya ibu kota Australia ini.

 

MENJADI bagian dari The Peace Scholarship Program 2008 dari IDP Australia merupakan sebuah kesempatan luar biasa dalam hidup saya. Tidak terbayang dapat merasakan kehidupan dan budaya Australia yang begitu beragam. Tinggal bersama dengan mahasiswa dari berbagai manca negara dan merasakan bagaimana kehidupan mereka. The Peace Scholarship Program sendiri merupakan beasiswa yang diperuntukan bagi mahasiswa S1 yang terlibat aktif di komunitas sosial apapun. Komunitas yang diikuti tidak hanya terbatas dengan isu perdamaian saja, tetapi lebih luas tentang isu-isu sosial.

Dalam program ini saya belajar Bahasa Inggris pada program English Language Intensive Course for Overseas Student (ELICOS) di University of Canberra English Language Institute (UCELI), Australian Capital Territory selama satu semester. Saya tergabung dalam kelas EAP Purple (English for Academic Purposes) yang terdiri dari enam belas siswa dari 8 negara berbeda. Saya belajar banyak hal tentang bagaimana penggunaan Bahasa Inggris di bidang akademik. Mulai dari kemampuan menulis, membaca, mendengar, berbicara, diskusi, dan presentasi.

Di sini saya bertemu dengan teman-teman dari manca negara seperti Jepang, Cina, Iran, Arab Saudi, Vietnam, Korea, Inggris, dan tentu saja mahasiswa Australia sendiri. Dan saat ini saya tinggal di salah satu apartemen di Braddon, bersama mahasiswa international lainnya. Braddon sangat dekat sengan City dan sekitar 20 menit ke University of Canberra dengan naik bus.

Dengan naik bus, saya dapat mengamati bagaimana bentuk interaksi yang terjadi di bus. Masyarakat Canberra yang sarat aneka budaya memberikan kesan tersendiri bahwa apa yang terjadi di Canberra adalah sesuatu yang sangat berkontribusi terhadap perdamaian. Kehidupan yang sangat toleran di sini membuat siapa saja dengan latar kebudyaaan apapun merasa nyaman untuk tinggal.


Kota yang Lengang

Saya mengalami culture shock yang hampir sama dengan siapa pun yang terbiasa dengan keramaian ketika pertama kali tiba. Karena terbiasa dengan sibuknya Jogja, kini saya dihadapkan pada kota yang aktivitasnya dimulai pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 5 sore.

Sarana transportasi yang disediakan kota yang pada tahun 2007 berpenduduk tak lebih dari 339.000 jiwa ini adalah bus ACTION. Jadwal operasi bus ini tetap sehingga kita tidak boleh terlambat sedikit pun. Bus yang juga disediakan untuk kaum difabel ini beroperasi dari Senin hingga Jumat sampai pukul 6 sore dengan jadwal periodik tiap 5-15 menit sekali. Dan untuk layanan malam, bus beroperasi hingga pukul 11 malam. Sementara untuk layanan Sabtu dan Minggu, bus beroperasi hingga pukul 7 sore. Jadi, kita harus pandai mengatur waktu dengan terencana jika berpergian di malam hari. Lagi pula, pusat perbelanjaan dan layanan publik sudah tutup pada pukul 5 – 6 sore. Betapa bedanya dengan Jogja atau Jakarta yang kehidupannya mengalir 24 jam!

Selain itu, jarak antara satu subburb dengan subburb lainnya cukup jauh. Mereka dipisahkan dengan padang sabana dan tundra, bukan gedung-gedung bertingkat laiknya kota-kota besar. Semua bangunan baik fasilitas publik, gedung pemerintahan, pemukiman, pusat perbelanjaan, sekolah dan universitas, tertata dengan sangat baik. Hal inilah yang membuat kota ini terkesan sepi dan hening. Semua aktivitas berjalan pada waktu yang telah ditetapkan.

 

Canberra Multicultural Festival

Hal menarik yang saya temui ketika pertama kali datang adalah Canberra Multicultural Festival. Sebagai tradisi tahunan, kegiatan yang berlangsung  pada tanggal 8-17 Februari 2008 ini selalu tak sepi pengunjung. Tidak hanya pengunjung domestik tetapi juga pengunjung internasional hadir untuk melihat berbagai kebudayaan dari seluruh dunia.

Festival ini sendiri diadakan untuk merayakan perbedaan dan keberagaman warga Australia khususnya di Canberra. Semua negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Australia turut berpartisipasi dalam festival ini. Baik berupa pertunjukan kesenian, masakan khas, pakaian nasional, dan sebagainya. Termasuk Indonesia, yang menampilkan Tari Saman dari Aceh, Tari Anging Mamiri dari Sulawesi dan Tari Serampang Dua Belas dari Riau.

Dalam acara ini, semua pengunjung yang datang dapat menikmati dan melihat ragam kebudayaan tersebut dengan gratis. Sementara makanan khas dari berbagai manca negara  dapat dinikmati dengan harga terjangkau.

 

How Are You Going, Mate?

Awalnya saya bingung menjawab pertanyaan di atas. Namun, setelah beberapa hari, saya baru paham bahwa itu adalah cara mereka menyapa dan menanyakan kabar, bukan bertanya tentang tempat ataupun tujuan kita. Ya, itu adalah salah satu contoh dari sekian banyak bahasa slang di Australia selain no worries, share, dan you’re all right yang diucapkan dengan aksen Australia yang begitu kental. Perbedaan Bahasa Inggris – Australia dengan Bahasa Inggris – Amerika membuat saya sedikit kerepotan untuk mengerti di hari-hari pertama di sini.

Salah satu cara saya melatih bahasa yaitu dengan bergabung dengan beberapa komunitas internasional, salah satunya menjadi volunteer pada acara Starlightday yang dikhususkan untuk anak-anak difabel Australia. Selain itu, saya juga bergabung dengan Australian Red Cross dan PPIA-UC (Persatuan Pelajar Australia-Indonesia University of Canberra).

 

Hari Jumat di Yaralumla

Tahun 2006, Australian Bureau of Statistics mencatat terdapat sekitar 340.000 jiwa penduduk muslim Australia yang sebagian besar tinggal di kota-kota besar. Dan di setiap kota terdapat satu masjid yang menjadi pusat informasi muslim di sana. Satu-satunya masjid yang terdapat di Canberra adalah Abu Bakar Mosque di Yaralumla. Setiap Jumat, semua pria muslim baik penduduk maupun pendatang berkumpul memenuhi masjid. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana silaturrahmi. Selain itu, setiap Jumat sekali, para jamaah dapat membeli berbagai jenis makanan halal yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah. Di masjid ini juga terdapat Islamic School of Canberra, semacam TPA yang diadakan seminggu sekali.

Namun, selain di Abu Bakar Mosque, sholat Jumat juga diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa muslim di ANUMA (Australian National University Moslem Association). Sementara University of Canberra menyediakan bus khusus yang memberikan fasilitas gratis antar jemput mahasiswanya ke Abu Bakar Mosque. Dan menariknya, fasilitas ini tidak hanya disediakan pada hari Jumat biasa, tetapi juga jika Jumat tersebut bertepatan dengan hari libur atau non-perkuliahan.

 

Bertahan dengan Ke-Indonesia-an

Kesempatan belajar di negeri Kanguru saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk menggali lebih jauh tentang makna kehidupan sosial antarbangsa. Perbedaan yang kita bawa di negeri orang bukan sebuah hambatan untuk berinteraksi satu sama lain. Justru perbedaan tersebut memperkaya ragam budaya yang telah ada di sana. Dan dengan karakter ke-Indonesia-an itulah martabat bangsa kita akan semakin dihargai dan dihormati.

Karena yang paling hakiki dari interaksi dan hubungan sosial manusia adalah hal-hal yang bersifat universal, yaitu cerita tentang kebaikan, toleransi, harga-menghargai, saling mengasihi dan menghormati. Bukan tentang siapa, agama, suku, ras, ataupun bahasa kita, karena kita adalah manusia. Itu saja. Salam damai dari Canberra!

 

Posted in Aussie, Press

O-Week : Stan PPIA UC Ramai Pengunjung

ACT (20/02)

Sebagai bagian dari rangkaian O-week (Orientation week) di University of Canberra, UCISS (University of Canberra Indonesian Student Society) atau Perhimpunan Pelajar Indonesia – Australia University of Canberra mengadakan Multicultural Lunch and Performances. Acara yang bertempat di University Concourse UC ini berlangsung pada Kamis (19/02) sejak pukul 12.30 hingga pukul 13.30 waktu setempat.

Dalam acara ini, UCISS menampilkan dua buah tari tradisional yaitu Tari Serampang Dua Belas dari Riau dan Tari Poco-Poco dari Maluku. ”Sengaja tarian ini kita tampilkan, selain untuk melibatkan partisipasi pengunjung, juga karena gerakannya paling mudah dan enerjik,” jelas Fauzan, ketua UCISS sekaligus salah satu pembawa tari tersebut. Yang paling membanggakan, Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Pak Agus Hartono dan Kepala Bidang Penerangan KBRI Pak Raudin Anwar menyempatkan waktu untuk hadir.

Selain itu, beberapa mahasiswa Indonesia ANU (Australian National University) dan warga Indonesia di Canberra turut meramaikan acara ini. Tidak hanya UCISS yang tergabung dalam rangkaian kegiatan ini, tetapi juga UC Isaac Law Society, UC El Club Hispano, UC Japan Club, UC Students Association, UC Moslem Association, Maldives Society, UC Chinese Students and Scholars Association. Mereka tergabung dalam kepanitiaan besar O-Week University of Canberra.

Free Lunch

Untuk menarik pengunjung, UCISS juga menyediakan free lunch bagi para mahasiswa yang datang. UCISS menyediakan beberapa makanan khas gratis seperti dadar gulung, kue lumpur, dan bakwan. Ini juga sebagai bentuk dari dukungan terhadap program Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Visit Indonesia 2008. “Indonesian food is very special, it is very different with ours,” ujar Alla, mahasiswa Internasional dari Arab Saudi. (ikie)

Posted in Aussie

Ditelpon Kingsley’s Chicken

Sebelum kuliah, saya sms Huemen (Host rumah saya) kalo saya bulan dpn mau pindah ke Braddon (flat Curong, share dg Akh Jajang)…trus langsung cabut ke kampus mantengin internet!! Ya…tetepan..seeking a job online. Lima macam aplikasi saya masukin ke advertiser. Pokoknya dicoba semua deh..

Kuliah mpe jam 5an.

PAs jam 5 saya ditelpon oleh Huemen (Host kamar saya), “Fickry, u can move as soon as possible.”..

Wow…seneng bgt..lebih hemat donk!! Hehe..otomatis bond saya dibalikin semua hehe..lumayan $440 plus $300..hehe..nabung euy!!

Trus pulanglah saya ke Kaleen. NAh, pas dinner, ada incoming call.., “Allow Fickry, how r u goin? DO u have time to come to Kingsle’s in Woden tomorrow on 4pm?” ….

I answered: “No, i can’t, how about Wednesday on 4 pm?” then He said, “Ok. i’ll be waiting 4 u!!”

Alhamdulillah, aplikasi yg saya titip lewat Citra dibaca juga. Padahal baru 4 hari yg lalu saya kasiin ke dia. Dan Rabu besok saya harus ke sana. Semoga aja diterima..amin.