Posted in Aussie

Makan Siang Bareng di Campble

Minggu, 1 Juni 2008

Terkait dengan suksesnya acara jalan santai Minggu lalu, mas Dino Kusnadi (spokeperson-nya KBRI) ngundang kita makan siang di rumahnya di Vasey Cr, Campbel, ACT. Lumayan banyak yang datang. Kita dari komunitas Petualang (juga PPIA :P), beberapa staf KBRI, Pak Dubes dan isteri, Pak Raudin, Pak Yoni dn isteri, pak Amin, dan juga empat orang peserta AIME (Australian-Indonesia Moslem Leader Exchange). Jangan ditanya apa saja menunya..hoho..ala Sunda euy…hehehe..ada es duren dan tiramisu lagi..hoho.

Oh ya, ada cerita lucu pas kita mau berangkat ke rumah beliau. Saya, mas Fauzan, dan Pak Amin, ikut di mobilnya mas Dilah. Nah, pas nyampe daerah Campble, kita lupa alamat lengkapnya rumah mas Dino (selaku tuan rumah). Ya, jadi berdasarkan ingatannya mas Fauzan aja..coz dia pernah ke sana katanya. Kita sih percaya-percaya aja secara mas Fauzan gak ada sejarah cacat dalam hal ingat mengingat alamat..haha..

Berhentilah kita di sebuah rumah di Vasey Cr no.32. Sepi banget rumahnya…garasinya aja ketutup..terus kita naik ke atas..dari jendela lebarnya gak tampak tanda-tanda kehidupan. Kayaknya ga ada orangnya deh..masa’ mau acara makan-makan kok sepi amat… (oh ya..rumahnya keren bgt!!! ada kolam dan garden di belakangnya..huhu..kita ngintip-ngintip gitu kayak orang mo maling..haha..sekitar setengah jam kita berdirigk jelas..nelpo sana sini gak ada yang ngangkat. Lalu dalam keadaan yang gak jelas itu, terjadilah percakapan ini (ngopy dari emailnya mas Dilah..tengkyu yak).

Fikrie : rumah australia bagus2 ya?
Fauzan : iya, bagus-bagus..
FikriE : rumah kayak gini, dari bata doank.. hebat ga ada lumutnya.. padahal gak pake cat
Fauzan : iya, hebat.. selain itu orang disini juga mandiri2, semua dikerjain sendiri
Fikri : iya mandiri, seandainya saja orang indonesia seperti ini, pasti tambah banyak pengangguran..
Pak Amin : bener ini ya rumahnya, ya sudah kita tunggu sebentar, barang kali orangnya masih belanja..
Fikri : sepertinya bukan ini rumahnya, karena gak ada tanda2 pernak pernik indonesia (sambil celingak celinguk dluar kaca melihat kedalam)
Fauzan : eh, ini ada bel.. pencet ah…
Fikri : gak coba di telp lagi ta? perasaan bukan ini rumahnya. masa’ mo ngadain lunch bareng sepi banget.
Fauzan : ya ini rumahnya, bener kok…
Fauzan : ya udah, saya telp Mas Fauzie lagi..kali aj diangkat…

Salah rumah!!! Cabuuuuuuuuuuuuuutttt!!!! Buat semua penumpang di mobil merah: “Makasih atas ceritanya hari ini..haha..unforgetable moment!!” (foto terkait

Posted in Aussie

The Last Day of Timo

Saturday, May 31, 2008

We had farewel party on Sat, at Ginindera Lake, Belconnen. Actually it was like special farewell party for EAP -PPP Class, but i just went there bcoz of Timo. Even though i’m not his classmate, but i knew most of those students. hoho….there was barbeque and we took some pictures and videos. Oh yeah, Mary was not there, coz she went to Sydney with her family (coz Sam would marry a girl..at least that was what i knew.. :p ).

I just knew Aimal, Genia, Mini, Timo, Chenchen, Hana, Isyad, and Eran…but others, i just knew their face..hahaha…Anyway, i was like photographer on the day..and even director for photo models. I also gave Tim a handicraft from Joga, and absolutely my business card..hahaha…i was like celebrity like yesterday with my classmate.

Afterward, we went playing basketball…hoho..it was great, because it was too long that i didn’t exercise…yeah you know…it was difficult coz my weekdays were spent for studying and working. and my weekends were also spent for gathering and sometime discussing..ugh ugh…

When the game was still going on..i went to pray Maghrib. I just prayed on the grass after taking water for wudhu’. (it’s hard to look for special place for praying..not like in Indo..hehe).

About 6 pm, I and Timo went home by Bus 300. But it would take long time for waiting for he next bus of Tim’s. So, I and Timo went to my apartement. I was burning CD blank for copying some pictures of farewell and give it to him. After 30 minutes, Timo went home for catching his bus…Bye Tim!! Wished u luck and had a great trip to Melbourne and Sydney before coming back to Swiss, i promised i’ll go to Europe one time.:-)  

Posted in Aussie

Last weekend of Togetherness of Four Nations

Thursday, 29 May 08

After last week watching “What Happen in Vegas” in Dendi Cinema in Civic, we went to the same Cinema for watching “Indiana Jones”. Me (absolutely Indo), Aimal (Afghan), Mary (Iranian), Timothee (Switzerland), and Genia (Indo) were like a big family watched together and were like…the cinema was belong to us only..because only us were laughing or chatting loudly inside the cinema. (actually it was not really loud..only Mary..hahaha..). 

Mary and me were like..really bored . We didn’t enjoy the movie, it was really bad choice…hoho..who choose this movie??!!! Hahahaha..it must be Aimal..haha..the oldest bro..Mary was right..it was better for me to work than stay there and forced my self to watch this stupid movie..hahaha… 

Anyway, it was really nice..we were together in the last time..coz Tim will be back to Swiss soon next week. So, this week is our last week. We’ll miss you Tim!! wish u’ll be a good doctor there, and then we’ll come to you for checking up our health for free..hahahaha…specially on our eyes!! 😛

Posted in Aussie

Official Program

Thursday, 29 May 08

Yesterday, I came to the ceremony of official program of UCELI and Faculty of Education of University of Canberra. It was really  nice after knowing that I and Mayumi (Japanese student) were representative of the class. Not all students were invited, so it made me like crazy..ha..ha.. (ge er amat yak!! wkwkwk).

There was refreshment provided. I just took orange juice. And most people absolutely drank wine or alcohol drinks. There were many important people inside the hall. They were Professor Carole, Cassandra Hampton, Doctor Trish, and Alison Davies. And you know, only two student’s name which were mentioned by Alison Davies. And one of them was me!! Haha..as Peace Scholar… (narsis amat..wkwkwk).

Posted in Aussie

Bad Night

Wednesday, May 28, 2008

One message delivered on my cellphone last night. O, it was my sister in Indonesia. “Bisa telepon balik?Cek ada perlu.” And then I was thinking, it must be a big problem. She never sent the message like that before.

And yeah… I had to go out for public phone which was not far from my apartment. Last night was really really cold. After an hour i was talking with her.. it was like… you know…the world was like broken. I had no idea what to do then. The news was really bad…

Oh God!! What should i do for helping my family. What should i do for making them happy!!

And then I just slept because of that sadness.

Posted in Aussie

100 Tahun Harkitnas: Jalan ke the Black Mountain Tower – Canberra

Minggu, 25 Mei 2008

Berawal dari ide, akhirnya obrolan untuk mengadakan kegiatan Jalan Santai di milis Petualang terwujud juga. Kemarin Minggu (25/05), komunitas Petualang-Canberra yang digawangi oleh mas Teddy Mantoro, PPIA-ACT yang diketuai mas Fauzie, serta pihak KBRI yang diwakili oleh mas Dino Kusnadi sukses mengadakan jalan santai bersama dari Australian National Botanical Garden ke the Black Mountain Tower – Canberra.

Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari seratus orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, staf KBRI, dan seluruh masyarakat Indonesia yang tinggal di Canberra ini berlangsung dari pukul 08.00 s.d 13.00 siang waktu setempat. “Kegiatan ini sangat positif untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan berkontribusi terhadap semangat Harkitnas di tanah air,” ujar ibu Lastri Thayeb yang secara resmi melepas rombongan pertama sekaligus mewakili Pak Dubes, Bapak TM Hamzah Thayeb yang tengah berada di Darwin. 

Di akhir acara, Pak Yoni mendapat voucher dari Yayasan Mandalawangi sebagai peserta ke-100 yang mencapai puncak the Black Mountain, sementara Pak Amin Somad mendapat voucher karena berhasil mencapai puncak di usia yang ke tujuh puluh sekaligus yang tertua di antara semua peserta.

Posted in Aussie

Jualan Puding di Indonesia Multiculture Festival

18 Mei 2008

Hari ini (Minggu) barusan saya ikut acara Festival Budaya Indonesia yang diadakan oleh komunitas masyarakat Indonesia yg tinggal di Quenbiyan, New South Wales. Acara yg diketuain oleh mas Sandra Erawanto ini berlangsung sekitar 4 jam lebih (11am-3pm) dan penuh dengan rangkaian kegiatan menarik seperti tari-tarian tradisional Indonesia, masakan khas Indonesia, dan pajangan pernak-pernik cinderamata. Selain Pak Dubes kita, acara ini juga dihadiri oleh pemerintah lokal setempat, dan sambutannya sangat antusias.

Nah, selama acara ini, saya yg awalnya berencana jaga stand kartu telepon Mandalawangi sekaligus stand untuk Jalan Santai tgl 25 Mei nanti, malah beralih tugas menjadi pedagang Continue reading “Jualan Puding di Indonesia Multiculture Festival”

Posted in Aussie

Mimpi adalah Kenyataan Pertama

17 Mei 2008

Setelah pulang dari sebuah acara religi di kampus ANU. Saya mendapat kalimat ini: “Mimpi itu adalah kenyataan pertama. Kenyataan itu sendiri adalah kenyataan kedua. Bahkan mimpi yg rendah adalah sebuah kejahatan.”

Jadi, marilah bermimpi. Energinya luar biasa, Kata Paulo Coelho (dalam Al Kemis), ketika kita memiliki keyakinan akan mimpi, maka semua energi alam semesta akan membantu kita untuk mewujudkannya. Dan, saya mengalaminya di sini. Terimakasih Allah.

Sekarang, beberapa mimpi saya telah terwujud (walopun sebelumnya gak pernah kebayang sih, maksudnya saking gak mungkinnya, jd gak berani bermimpi..hehe ): udah ngerasain kuliah di negeri orang, bisa ngirim uang ke rumah, punya beberapa gadget, dan terakhir, bisa menghajikan ibu. Masya Allah..itu benar-benar indah, skenario Allah gak bakalan bisa kita tebak. Lalu saya Continue reading “Mimpi adalah Kenyataan Pertama”

Posted in Aussie

Haji Ibuku

“Yo mpik, udah tadi didaftarke, insya Allah 2011”. Kira-kira itulah is sms yang datang dari mbkku di Palembang. Alhamdulillah cita-citaku terkabul juga, bisa menghajikan ibu tercinta. Well, bahagianya ta k terkira hingga. Walaupun kebagian jatah 2011, saya hanya bisa berdoa semoga beliau diberi kekuatan dan kesehatan untuk menjalankan rukun Islam kelima itu. Maklum, usianya saat ni saja udah 62, berarti 2011 nanti beliau akan berhaji di usia 65.

Semoga kalo saya dapat rejeki lagi, mungkin bisa menemaninya selama berhaji. Tapi untuk saat ini alokasi dana tidak memungkinkan jika saya berangkat bersamanya.

Pulang dari kerja saya hanya bisa bersyukur dan mengucap hamdallah. Cita-cita semasa kecil itu terkabul juga. Walopun ayah telah tiada, kini saya bisa membahagiakan ibu dan keluarga di rumah. Kerja keras selama di negeri orang akhirnya berbuah kenikmatan yg tiada tara. Kepuasan batin yg tidak bisa tergantikan oleh apapun. Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberikan kesempatanku untuk berarti..walopun saya tahu itu belum apa-apa dibandingkan kasih sayangnya sebagai ibu terhadap anaknya. Ayo berniatlah teman-teman…….Chayyooo!!!

Posted in Aussie

Hang Out Empat Bangsa

Setelah tiga bulan di sini, tampaknya kali ini merupakan keli pertamanya saya hang out bareng temen-temen kampus di Civic . Hahaha..selama ini paling-paling hang out di kampus. Di samping sayanya sendiri yg sibuk banget ya memang gak begitu intim pertemanannya.

Namun hari ini beda, sejak dua minggu yang lalu entah kenapa kita berlima semakin akrab dan asyik aja. Ada saya dan Genia dari Indonesia, Mary dari Iran, Aimal dari Afganistan, dan Timothee dari Swiss. Continue reading “Hang Out Empat Bangsa”

Posted in Aussie

Australia-Indonesia Muslim Exchange

Malam ini dapat undangan diskusi dari mas Teddy terkait kedatangan tiga tamu dari Indonesia. Mereka datang karena terpilih dalam program AIME (Australia-Indonesia Muslim Exchange ). Kebetulan yg menjadi koordinatornya adalah mas Teddy dan isterinya, mbk Media.

Ketiga tamu itu adalah mas Ai – dosen UIN Bandung (aktivis Peace Generation Bandung), mas Mico – dosen UMY, dan mas FErdi –dosen UIN Jambi.  Obrolan seputar pengalaman masing-masing tamu selama di Indonesia. Lalu kita juga share bagaimana keadaan muslim di Canberra. Nilai-nilai pluralism dan tolerance menjadi topic utama tampaknya. Bagaimana kita bisa lebih menghargai perbedaan yang melingkupi kehidupan kita. Continue reading “Australia-Indonesia Muslim Exchange”

Posted in Aussie

Petualang Kumpul

Sabtu ini menyenangkan karena kita, komunitas Petualang diundang makan siang di rumah Mbk  Yuni Ryan di Woden. Sembari makan, kita juga disuguhin tontonan film Ayat-Ayat Cinta.

Yang datang lumayan banyak, keluarga mas Teddy, Keluarga mas Taufik, keluarga mbk Lili, Keluarga mbk Lily JOgja, Mas Anton, Mas Fauzan, dan juga murid bahasa Indonesianya mbk Yuni.

Awalnya rencana nonton kali ini adalah bertangis-tangis ria menonton film ini. Tapi ya ternyata hidangan bakso sapid an ayam taliwang yg begitu menggoda.. Continue reading “Petualang Kumpul”

Posted in Aussie

Volunteer on Starlightday

3 Mei 2008

Hari ini tiba juga. Jam 10 pagi bus ACTION 300 membawa saya ke Tugeranong Hyperdome. Di sana, Jane Panders telah menunggu dengan anaknya. Ya, hari ini adalah hari kerja saya sebagai volunteer di Starlightday. Saya bekerja dengan Starlight Children Foundation untuk fund raising. Foundation ini sendiri bekerja untuk mencari dana yg nanti akan ditujukan kepada anak-anak sakit yg kekurangan biaya di seluruh Australia.

Di sana saya bekerja sendiri, walopun seharusnya ada seseorang lagi yg bertugas. No worries, saya nyantai-nyantai aja. Kerjanya Cuma duduk/berdiri di belakang meja yg di atasnya telah tersaji beberapa merchandise yg dijual kepada pengunjung mall yg lalu lalang.

Merchandise yg dijual ada keyring, pin, pawn, pen, stiker, dan macam2. Continue reading “Volunteer on Starlightday”

Posted in Aussie

Tower dan Greyhound

Episode petualangan ini akhirnya tiba juga. Setelah berkeliling ria dan makan siang di Nelayan, saya diajak Elisa menuju slaah stu geudng tertinggi di sini (bukan yg tertinggi sih). Beruntungnya, kita gak dipungut biaya tiket disini karena ternyata salah satu petugasnya adalah teman sekolah Elisa dulu..padahal Elisa juga bingung loh..iya sih iya-iya aja kepada petugas itu.

Well, kita menuju lantai 50-an something..(gak tau tepatnya..lupa merhatiin sih..hehe). Dan wow..kita bias melihat pemandangan kota yg indah sekali. Kota ini tampak benar2 cantik dengan sungai Yare yg melintasinya. Bener-bener keren…gak seperti Sydney yg sangat ramai. Suatu saat saya harus kembali lagi ke sini. Entah kapan…. I promise.

Dan dari sana, tepat pukul 5 saya dan ELisa megunjungi rumah orang tuanya Aa, Pak Herli dan bu Ita, di Notting Hill. Juga bertemu dengan adik bungsu Aad, Ahmad. Setelah solat magrib dan mencicipi mie ayam, kita langsung luncuran ke Monash University untuk sekedar ambil beberapa foto. Nah, lastly, kita balik lagi ke Chadstone tuk pamitan pulang dengan Sushi..hehe..Grent ikut mengantar bersama Elisa. tepat pukul 9 pm kita tiba di bus Greyhound. Selamat tinggal Melbourne. I’ll miss u.

Posted in Aussie

Restoran Nelayan dan National Library

Setelah berputar-putar sekira 30 menit lalu kita berhenti menuju Rstoran Nelayan. Restoran Nelayan. Yep, restoran Indonesia ini sungguh sangat terkenal bahkan di Indonesia. Jadi kalo ada mahasiswa mau kuliah di Melbourne pasti direkomndasiin untuk mampir di restoran ini. Lalu kita having lunch. Gila, isinya orang Indo semua..wkwkwk. Then, saya mesan nasi rendang plus the kotak sosro…mmmmm yummy euy!!

Setelah mengobati kekangenan dg nasi Padang saya lalu kebingunan kira2 di mana bias sholat dzhuhur. Elisa bilang coba kita Tanya di toko Asia di salah satu mall tepat di belakang restoran ini. Ternyata gak ada juga di sana. Akhirnya saya memutuskan untuk sholat di di lapangan rumput di depan National Library..wkwkwk… Continue reading “Restoran Nelayan dan National Library”

Posted in Aussie

Melbourne, I’m in Love

27 April 2008

 

Hari Minggu!! Hari kedua saya di rumah Elisa, tapi tetap saja belum bisa bersahabat dg Susie, anjing betinanya. Karena seumur hidup, saya belum pernah memeluk anjing, apalagi dijilat…so, ini membuat saya takut ketika anjingnya menggonggong melihat saya. Tapi untungnya Elisa mengerti, jadi Susie dikurung di toilet selama saya di rumahnya..hehe..maafkan saya Susie! J

Well, rencana hari ini adalah City Walk! Saya dan Elisa langsung meluncur ke City. Parkir mobil dan langsung ke Flinders Street Station menemui Ella, di tengah kota Melbourne. Wow..it was amazing sight. Saya suka dengan sungai Yare yg melintas tepat di tengah kota. Hampir seperti kota kelahiran saya Palembang. Tapi bedanya jauh bgt..mulai dari kebersihan, tata kota, jenis bangunan, dan masih banyak lagi. (Ya iyalah…jangankan Palembang, dibandingin Jakarta aja gimana gitu..wkwkwk..pisss).

Saya jatuh hati ke kota tua ini. Suasananya begitu menyenangkan dan menyejukkan. Tidak begitu sibuk seperti Sydney, tidak begitu sepi seperti Wollonggong, dan tidak begitu dingin seperti Canberra. Paduan antara komposisi bangunan, tata kota, transportasi sangat pas. Saya betul-betul menikmati kota ini…saya jadi ingat Jogja juga..suasananya persis seperti Malioboro, ada kereta antar suburb (tram) dan kereta kuda. Melbourne sangat beragam!! Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia melebur menjadi satu dg komposisi tertentu.

Continue reading “Melbourne, I’m in Love”

Posted in Aussie

Mampir ke Rumah Chris dan Dinner di Rumah Ella

Dalam perjalanan pulang yg dtemani derasnya hujan, kita bertiga mampir ke rumah Chris. Chris juga merupakan mahasiswa Monash yg Januari lalu mengikuti program yg sama dengan Elisa dan Ella di UGM. Dan kebetulan, ayahnya juga mengajar bahasa Indonesia di Melbourne.

Ngobrol-ngobrol gak jelas sekitar dua jam lebih, kita melanjutkan perjalanan ke rumah Ella. Malam ini, kita diundang makan malam ke rumahnya, karena kebetulan ayahnya adalah Chef sekaligus pengusaha catering.

Ketika diundang, saya bilang ke Ella untuk bilang ke ayahnya bahwa saya muslim, so, harus dipertimbangkan jenis makanan yg akan disajikan. Well, Alhamdulillah mereka mengerti.

Menu yg disajikan bervariasi, ada sayur tumis, ayam panggang, kambing, jamur, keju+roti, dan (ada juga) wine. Tentu saja saya gak mengonsumsi jenis minuman ini! Yang bikin special adalah, ayahnya membuat sambel ala Indonesia. Wow, it was really nice. Enak sekali.

Satu jam lebih kita makan malam dan ngobrol ringan. Ternyata, dari cara makan malam saja, kita memiliki kebudayaan yg berbeda. Dari undangan makan malam yg juga dijadikan sebagai media komunikasi antar anggota keluarga ini saya dapat melihat beberapa perbedaan yg cukup signifikan cara orangtua mendidik anaknya: sangat frontal dan terbuka…

Posted in Aussie

Melbourne: Churchill Island and Philippe Island

26 April 2008

Elisa dan Ella telah merencanakan liburan saya di sini. Hari pertama ini akan dihabiskan dengan kunjungan ke Philippe Island dan Churchill Island. Perjalanan menempuh waktu 2 jam. Kali ini Elisa yg menjadi driver ditemani Ella di sampingnya, sementara Grant tidak ikut. Dan saya sendiri duduk di belakang ditemani keranjang piknik.

Objek pertama adalah Churchill Island, yg merupakan pulau kecil yg didesain sebagai miniatur rumah tua Asutralia berikut ladang, kebun, dan binatang ternaknya sperti kuda, ayam, babi, kambing, dan domba.

Memasuki wilayah ini, kita dibawa pada abad-abad pertama Australia dihuni oleh orang-orang Inggris. Yang paling menarik adalah, lokasi objek wisata ini betul-betul ‘dihidupkan’ persis kala itu. Beberapa voluntir sengaja tinggal dan mengenakan pakaian-pakaian tradisional. Jadi, kita benar-benar dapat merasakan langsung kondisi Australia pada waktu itu.

Sekitar satu jam di sana, petualangan kita berlanjut ke Philippe Island. Pulau ini merupakan marga satwanya native animal of Australia. Kebun binatang mini ini khusus melindungi binatang-binatang asli Australia seperti Kangaroo, Koala, Possum, Wombat, Dingo, Echidna, Emu, Tazmania Devil, dan Platypus. Sebelum ke sana kita mampir dulu ke pantai…having lunch dan menikmati dinginnya angin laut selatan Australia.

Satu jam kemudian kita baru beralih ke kebun binatang. Biaya masuk objek wisata ini sebesar AU $15, dan kita hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam karena langit keburu hujan.

Posted in Aussie

Melbourne, I’m Coming!

25 April 2008

Di malam kedua saya diantar taxi dari Lakemba ke Domestic Airport menuju kota kedua yg akan saya kunjungi. Dengan ongkos AU $30, perjalanan memakan waktu 20 menit, dan selama di perjalanan saya dengan driver berbicara banyak hal, termasuk ttg dirinya yg ternyata imigran Libanon. Yap, komunitas perantauan asal Libanon memiliki jumlah yg cukup signfikan di Australia selain Cina dan India.

Well, naik pesawat murah Virgin Blue (AU $79) dan menghabiskan waktu 1,5 jam membawa saya ke sana tepat pukul 9.45 am. Tibalah saya di kota yg pernah menjadi ”The Most Living able City in the World”: Melbourne!

Turun dari pesawat langsung naik Skybus (AU $16) menuju Southern Cross Station yg menempuh waktu 30 menit. Tiba di sana Elisa dan Ella sudah menunggu. Kita langsung ngopi bareng di Starbucks Coffee. Wah seru bgt, menikmati malam di Melbourne ditemani secangkir  Coffee Latte.

Malam kian larut, Ella pun pulang. Lalu saya dan Elisa kembali naik kereta menuju Flinders Station, dekat dengan komplek Monash University. Karena Grant , pacar Elisa, telah menunggu di sana. Tak kurang dari 5 menit, sedan putih tiba menjemput kami. Di tengah perjalanan, kita mampir ke Safeway, semacam Woolsworth yang ada di Canberra (supermarket gitu..tapi di Melbourne 24 jam, klo di Canberra sampe jam 11pm). Beli sedikit makanan dan minuman tuk persiapan besok.

Tepat pukul 2 am, saya tiba di rumah mungil Elisa dan pacarnya di Chadstone. Malam ini, kita tidur pukul 3 am setelah sebelumnya menyantap indomie goreng buatan Elisa, telat banget ya…hehe.

Posted in Aussie

Sydney Opera House and Anzac Day

25 April 2008

Dari pukul 9 am, saya dah siap2 jadi backpacker di Sydney. Perlengkapan dibawa: dompet, kamera (ini wajib hukumnya!! :P), tas punggung, dan handphone. Stasiun kereta terdekat dengan opera house adalah Circle Quay,sekitar 30 menit dari Lakemba. Selama di jalan, saya mengingat-ingat lagi kira-kira apa yg tertinggal. O o..ketika saya mengecek kamera, ternyata MMC nya tertinggal di laptop saya…huhu..menyebalkan. Soalnya semalam saya baru saja transfer foto, setelah seharian jalan-jalan. Di hari kedua ini malah storage nya ketinggalan..hehe. Untung baru sampai Campise Station, lalu saya turun dan balik lagi ke Lakemba.

Sampai Circle Quay, saya hanya berdecak kagum..wah wah..alhamdulillah, sampai juga ke Opera House, salah satu tempat terkenal di dunia yg dulu hanya bias dilihat di TV..hehe..norak bgt ya..wkwkw. Jadi inget pas ke Bangkok, Thailand, dua tahun lalu, pertama kalinya ke luar negeri ya pas ke Bangkok itu. Sempat mengunjungi komplek Raja di sana. Dan patung Budha Tidur yg gedenya minta ampun.

Karena sendirian, saya cuek aja minta tolong difoto dengan orang-orang yg ada di sekitar situ. Banyak juga turisnya, jadi ya cuek aja minta tolong dengan mereka. Sekitar satu jam di sana dan memenuhi hasrat narsis saya, saya langsung cabut dan city walk (jalan-jalan). Nah, kebetulan hari ini Anzac Day (25 April), maka kota Sydney penuh dengan pawai para veteran perang. Wah seru juga…kota ramai dengan pengunjung, para veteran perang dengan bangganya parade di jalan-jalan kota. Sementara toko-toko pada tutup dan akan beroperasi pukul 12 nanti.

Jalan-jalan kota, Darling Harbor, Anzac Bridge, Aquarium, dan tak lupa nyobain Monorail!!! Karena salah satu target saya nyobain salah satu public transportasi ini!! Naik untuk sekali keliling kota cuma $5 (tuk pelajar). Dari atas monorail, kita diajak berkeliling kota Sydney dan melihat padatnya jalan-jalan kota dari atas rel. Monorail ini melintasi kota dan gedung-gedung bertingkat. Seru euy!!

Kapan ya Jakarta punya monorail?? Hiks-hiks…

Posted in Aussie

Sholat di Convenience Store dan Salah Kereta!!

24 April 2008

Saya sholat Ashar dan Dzuhur di Convenience Store. Ya, sebelum ditinggal sendiri oleh Bassam, beliau member tahu klo owner toko ini adalah orang Timur Tengah yg notabene Islam. JAdi, saya sholat jama’ Ashar-Dzhurur di Convenience Store yg nggak jauh dari Paddy’s Market.

“Assalamualaikum brother, do you have prayer room?” saya tanya.

“Mmmmm.. no, but actually there’s Musholla which is not far from here..about..mm, I’m not sure..!” jawab pria pertama sambil menunjukkan arahnya.

“Mmmm ok, thankyou!” jawabku.

Lalu tiba-tiba datang pria kedua dan bilang, “u wanna pray Ashar?”

“Yes, I wanna pray both Ashar and Dzuhur,” jawabku.

Lalu sambungnya, “Ok, follow me.”

Lalu masuklah saya ke bagian belakang toko itu dan mengerjakan sholat tadi.

Alhamdulillah akhirnya bias sholat juga di sini.

Nah, pulang dari sana saya langsung menuju Town Hall mengejar kereta yg akan membawa saya pulang ke Lakemba. Continue reading “Sholat di Convenience Store dan Salah Kereta!!”

Posted in Aussie

Ole-ole di Paddy’s Market

24 April 2008

Pulang dari lunch saya menghantar  seorang dari Sri Lanka – Mahasika – ke stasiun Town Hall. Dan tak lupa, saya pun membeli tiket untuk persiapan balik ke Lakemba. Harga tiketnya $ 3,88 tuk sekali perjalanan (single trip).

Nah, dari sana, tinggallah saya sendiri di kota yg berpenduduk lebih dari 4 juta jiwa ini. Saya keliling-keliling kota, menikmati suasana Sydney yg orang-orangnya begitu sibuk dengan peran sosialnya masing-masing.

Jalan-jalan yg tidak begitu besar dan dihimpit oleh pencakar langit, menambah kesan betapa sibuknya kota ini. Walopun begitu kemacetan nggak pernah terjadi. Kalopun ada, paling nggak karena banyaknya persimpangan dan lampu merah, bukan karena ada yg melanggar peraturan-peraturan tersebut.

Setelah sekian jam keliling dan ‘menjamahi’ kota ini, saya pun menuju supermarket yg menjadi tujuan utama para pelajar internasional ketika mau pulang kampung: Paddy’s Market. Continue reading “Ole-ole di Paddy’s Market”

Posted in Aussie

Lunch Bareng di The Pontoon Bar – Sydney

Bus Greyhound yang membawa saya dari Canberra tepat tiba di Sydney pukul 10am. Bus berkapasitas 50 orang itu menurunkan saya di Central Train Station, Sydney. Suasana siang itu sangat ramai. Ya , itulah kesan pertama saya terhadap kota tersibuk di Negeri Kanguru ini.

Lalu sesuai dengan yg disampaikan Pak Narto, saya langsung membeli tiket kereta untuk perjalanan menuju Lakemba, sebuah suburb di Sydney yg sebagian besar berpenduduk muslim. Jarak Lakemba-Sydney hanya 30 menit ditempuh dengan kereta. Selama di perjalanan, saya ngobrol ringan dengan perempuan Aussie yang saking asyiknya nya ngobrol, kita lupa berkenalan.

Sampai di stasiun Lakemba, saya ditelpon Bassam. Bassam membawa saya dengan sedan putih menuju flat yang dihuni oleh para mahasiswa Indonesia yang sebagian besar kuliah Nursing di sana. Dan tepat pukul 11.30 am, Bassam mengantar saya ke tujuan utama saya ke Sydney, yaitu The Pontoon Bar, di Wharf, Darling Bay, di Sussex Street.

Setibanya di sana, saya terjun sendiri di kota yang baru pertama kali saya injak. Dengan bermodal nekat dan English, saya mencari The Pontoon Bar. Yup, untungnya Eleanor Rivers (Manager of The Peace Scholarship Program) memberi no.hp Davina, salah satu rekan kerjanya yg menggantikannya hadir di lunch yg ia rencanakan sebelumnya. Ya, Eleanor dan putrinya sakit.

Lunch bareng bersama rekan-rekan scholar dari Sri Lanka, Chile, Cambodia, Australia, dan Mexico sungguh menyenangkan. Karena ini kali pertamanya kita bertemu setelah 2,5 bulan tinggal di Aussie.

Posted in Aussie

War Memorial

Kuliah term A akhirnya selesai juga. Semua siswa ELICOS University of Canberra dikumpulkan dalam satu bus besar menuju War Memorial, ya katakana semacam gathering setelah lelah belajar 3 bulan pertama. Akhirnya kesempatan berkunjung ke War Memorial justru datang dari kampus. Sekira lebih dari 100 orang rame-rame mengunjungi museum ini.

War Memorial merupakan museum untuk mengenang pahlawan Aussie ketika perang Dunia I dan II. Terdapat puluhan ribu nama-nama pahlawan yg tertera di sisi kiri dan kanan bagian Dallam bangunan, sangat detil dan rinci.

Lalu di bagian tengah, terdapat kolam tempat melemparkan koin dan memberikan doa kepada arwah pahlawan itu. Menariknya, posisi bangunan ini berada pada satu garis lurus dengan Parliament House: New Parliament House – Old Parliament House – Griffin Lake – War Memorial. Jadi, kalo kita berada pada puncak bangunan baik di War Memorial atopun di Parliament House, akan tampak wiew / sight yang luar biasa indah…benar-benar tertata.

Ya, mungkin karena Canberra adalah kota yang direncanakan, jadi pentaannya benar-benar matang. Bahkan danau Griffin pun danau artificial!

Posted in Aussie

Wollonggong Trip

Angin dingin menyapa kami ketika pertama kali tiba di Wollonggong City Beach, objek pertama dari trip kali ini. Sekitar 50 rombongan mahasiswa Indonesia (termasuk keluarga) turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Saya kali ini kebagian menjadi ketua panitia, mengurusi calon-calon Master dan Doktor lulusan Univ of Canberra. Tapi alhamdulilah semuanya lancar berkat kerja team yg solid: saya, mas Fauzan, mas Juned, mas Dillah, dan mas Indra.

Awalnya trip ini direncanakan berlangsung selama 2 days 1 night, tapi ternyata akomodasi tidak memungkinkan, di samping jadwal yg bertepatan dengan libur sekolah. AKomodasi yang available untuk jumlah segitu hanya mengijinkan untuk menginap lebih dari dua malam. Akhirnya kita putuskan trip ini mejadi One Day Trip, untungnya peserta gak ada yg complain. Continue reading “Wollonggong Trip”

Posted in Aussie

Bangun Rumah, Ijin Tetangga

Satu hal lagi yang membuat saya kagum dengan peraturan di Aussie, yang menurut saya sangat Islami, yaitu ijin mendirikan rumah.

Ketika saya silaturrahmi ke rumah Pak Abrar, beliau menjelaskan kalau ijin mendirikan rumah atau bahkan merenovasi rumah di sini nggak segampang yang kita mau. Mentang-mentang punya uang lalu seenaknya mendirikan rumah.

Tapi, proses perijinan itu melibatkan banyak pihak, pemerintah kota, suburb, dan calon tetangga. Ya, komponen ketiga sangat menarik untuk didiskusikan.

Sebagai contoh, ketika kita sudah membeli tanah dan ingin mendirikan rumah di kawasan X, kita harus minta ijin ke tetangga kanan kiri dan depan belakang. Selama ijin dari mereka belum keluar, maka ijin mendirikan rumah belum bias dikeluarkan. Wow!! That’s amazing, isn’t it?

Hal ini untuk menjaga kenyamanan lingkungan itu, jangan sampai ada yang dirugikan ketika warga baru dating. Bahkan ukuran bangunan atau tinggi bangunan pun harus meperhatikan kondisi bangunan di sekelilingnya, jangan sampai merusak atau mengganggu view (pemandangan) tetangga kita itu. Wah-wah…bener-bener keren!! Dengan aturab ketat ini, nggak heran kalau rumah-rumah di Canberra rata-rata hampir sama dari segi ukuran dan model bangunan.  Toleransi sih..jadi gak begitu kentara antara yang kaya dan yang sangat kaya. Hehe…

Posted in Aussie

Rumah Tak Berpagar

Ada pengalaman menarik ketika saya pertama kali ke rumah Pak Abrar di Tugerranong, Canberra Selatan, semua rumah di daerah sana tak berpagar. Sebetulnya nggak hanya di sana, tapi semua rumah di Aussie…kebetulan aja saya baru concern di rumah beliau.

Sebenarnya nggak juga nggak berpagar, hanya bagian muka rumah aja yg nggak berpagar, sementara kanan kiri dan belakang tetap dipagari. Tapi, pagar tersebut hanya ala kadarnya, hanya untuk membatasi luas tanah dan area. Dan karena saking amannya, rumah-rumah yang berjendela kaca nggak memiliki terali besi. Sangat sangat gampang dimasuki pencuri.

Hal ini menarik ketika kita berbicara tentang kehidupan social di sini. Pertama, kondisi social yang sangat individualis tentu sangat bertolak belakang dg konsep bertetangga tadi. Rumah yang tak berpagar mengesankan pemilik rumah welcome kepada siapa saja yang datang, inclusive. Sementara rumah yg berpagar tinggi mengindikasikan sang pemilik rumah terkesan eksklusif.

Ini hanya sekedar asumsi, berdasarkan pengalaman saya aja. Ketika saya tinggal di kampung halaman, semua rumah gak ada pagarnya, sehingga kita bisa dengan mudah berinteraksi dan saling tegur sapa. Silaturrahmi, sekedar mampir, bercengkerama, bahkan menginap. Tapi ketika rumah berpagar tinggi, orang akan enggan untuk lebih intim berinteraksi, karena kita sudah membatasi diri. Continue reading “Rumah Tak Berpagar”

Posted in Aussie

Air Putih dan Pempek

Setelah 2,5 bulan nggak bersinggungan dengan jajanan khas Indonesia, akhirnya kemarin kesempatan itu dating juga. Jadi pas kita mau belanja ayam potong di Kippex, kita mampir ke warung Asia di sana. Dan, saya bener-bener kaget sekaligus senang tak terkira..Wussup?? Karena di sana disediakan menu Indonesia seperti pempek, ketoprak, mie ayam, dan bakso. Senangnya bukan main!! Nah, untuk mengobati kekangenan ini, saya memilih pempek dan the kotak Sosro sebagai pengalaman pertama saya di sini. Mmmmmm..yummi juga pempeknya, betul-betul persis sama dengan yang di Indonesia…weleh-weleh…

Nah, satu lagi nih yg bikin saya salut di Aussie, air keran nya bias langsung diminum. Jadi kita gak perlu repot-repot beli air gallon atau sekedar masak air mpe mendidih. Karena keran sudah dipasang dengan dua pilihan itu: panas dan dingin. Tinggal pencet aja air mana yang ingin diminum..langsung maknyuuuss.

Kapan ya Negara kita bias kayak gitu…semakin hari semakin gemas saya ingin membangun bangsa ini. Yok temen2..kita bangun Negara kita….dimulai dari diri sendiri: sederhana kok, tinggal nerapin nilai-nilai yang kita pelajari selama SMP ato SMA dulu kayak toleransi, disiplin, saling menghargai. Those are all.

Posted in Aussie

Weekend with My Own Car

Sarana transportasi di Canberra memang nggak sebagus di Sydney dan Melbourne dalam hal jadwal operasi. Bus ACTION hanya beroperasi sampai pukul 11 malam selama Weekdays (Senin-Jumat), itu pun dengan periode tertentu: 5 menit sekali, 15 menit sekali, 30 menit, dan satu jam sekali (periode ini disesuaikan dengan suburb tujuannya). Sementara jadwal Weekend (Sabtu-Minggu), akan lebih sulit lagi memanfaatkan fasilitas ini. Karena hari Sabtu, jadwal operasi hanya satu jam sekali. Sementara Minggu jauh lebih sulit lagi, karena di samping satu jam sekali periodenya, jadwal operasi bus inipun berakhir sampai pukul 7pm.

Jadi nggak heran jika Sabtu Minggu jumlah kendaraan pribadi yang beroperasi meningkat tajam. Ya..ya..lagi –lagi saya kagum, fasilitas umum benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal. Sementara mobil pribadi hanya digunakan ketika Weekend. Seandainya Jakarta kayak gini, mungkin kemacetan juga bias di atasi. Padahal, kalo mau itung-itungan, mobil di sini jauuuuuuuhhh lebih murah. Gaji saya sebulan aja bias beli mobil sedan second yang lumayan. Sementara di Indonesia, dengan harga mobil yang selangit aja, angka kepemilikan kendaraan masih tinggi, apalagi kalo murah kayak di sini…waduh..ayo Pak Presiden..kita ubah karakter bangsa kita..

Posted in Aussie

Halal Gak Ya?

Sebenernya telat saya nulis ini, dah dua bulan lebih baru cerita di sini..hehe. Ya, agak sulit mencari makanan halal di Canberra, gak seperti di Sydney atau Melbourne yang begitu mudah mencari makanan halal. Mungkin karena jumlah penduduk muslim yg begitu kecil di sini sehingga pebisnis kuliner di sini nggak begitu aware dengan makanan halal.

Nah, dari situ, Alhamdulillah sudah ada Halal Guide yang sangat membantu kita. Halal Guide ini disusun oleh tim pengajian Permata Canberra. Walaupun sedikit ribet dengan proses ini, tapi benar-benar terasa keimanan kita diuji. Soalnya makanan enak di mana-mana kawan.

Karena jajanan seperti roti, biscuit, coklat, kue, dll gak semuanya halal, karena mengandung emulsifier yang tidak halal dikonsumsi. Jadi pilihan jajanan gak begitu banyak. Restoran yang jelas-jelas halal adalah Kebab Ali Baba, Jabal di Yaralumla, dan kedai pas hari Jumat di Masjid Abu Bakar Yaralumla. Sementara restoran kayak Kingsley Chicken, Jewel of India, dan Nando, hanya menyediakan beberapa menu yang halal, yaitu ayam.  Continue reading “Halal Gak Ya?”